ADRO Tetapkan Dividen Final Rp1.358 per Saham, Total Capai Rp41,7 Triliun

ADRO Tetapkan Dividen Final Rp1.358 per Saham, Total Capai Rp41,7 Triliun
ADRO Tetapkan Dividen Final Rp1.358 per Saham, Total Capai Rp41,7 Triliun

KABARBURSA.COM – PT Alamitri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mengumumkan besaran dividen tunai finalnya mencapai Rp1.358,18 per saham.

Besaran dividen tersebut berdasarkan risalah rapat umum pemengang saham luar biasa perseroan dan keterbukaan informasi terkait aksi korporasi pembagian dividen tertanggal 20 November 2024.

Corporate Secretary PT Alamitri Resources Indonesia Tbk Mahardika Putranto mengatakan kurs yang digunakan untuk pembagian tambahan dividen tunai final sebagaimana disetujui berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan pada tanggal 18 November 2024 mengacu pada kurs tengah Bank Indonesia tanggal 18 November 2024, yaitu senilai Rp15.888.

“Jumlah keseluruhan tambahan dividen tunai final yang akan dibagikan Perseroan dalam mata uang Rupiah adalah sebesar Rp41.775.804.852.062 untuk 30.758.665.900 lembar saham atau sebesar Rp1.358,18 per saham,” kata Mahadirdika dalam keterbukaan informasi publik di Jakarta, Jumat, 29 November 2024.

Pihak ADRO mengungkapkan bahwa tidak ada dampak yang signifikan atas informasi ini terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha Perseroan.

ADRO Sempat Jadi Top Loser

Seperti diberitakan sebelumnya, pada perdagangan Jumat, 29 November 2024, saham ADRO anjlok 22,83 persen di akhir sesi pertama, melanjutkan penurunan 24,80 persen sehari sebelumnya hingga menyentuh ARB.

Penurunan ini mengejutkan, dengan volume perdagangan mencapai 880,76 juta saham, frekuensi 67.547 kali, dan nilai transaksi Rp1,88 triliun. Harga rata-rata transaksi berada di Rp2.130,69, mengindikasikan aktivitas beli yang besar.

Kejatuhan harga saham ADRO dimulai sejak ex dividen pada 28 November 2024, saat investor baru kehilangan hak atas dividen. Pelemahan bahkan terlihat pada cum date 26 November, saat saham biasanya menguat. Pada hari itu, ADRO turun 2,65 persen dengan volume transaksi 283,96 juta saham senilai Rp1,06 triliun.

Namun, alih-alih meningkat, terjadi distribusi besar. UBS Sekuritas mencatat net sell Rp298,6 miliar, sementara investor asing menjual Rp183,6 miliar. Ini menunjukkan aksi jual besar oleh pelaku pasar utama.

Analis Stockbit Sekuritas memproyeksikan penurunan hingga Rp1.900 per saham, setara valuasi 6,6 kali P/E berdasarkan laporan semester I-2024. Namun, mereka melihat peluang dari potensi kenaikan saham anak usaha Adaro Andalan Indonesia (AADI).

Penurunan tajam ADRO menjadi sorotan di tengah gejolak pasar. Nilai transaksi besar dan aksi beli signifikan bisa menjadi sinyal akumulasi oleh pelaku pasar besar.

Meski begitu, potensi koreksi ke Rp1.900 tetap menjadi risiko yang harus diwaspadai investor. Pergerakan ADRO berikutnya akan menarik untuk diamati, terutama terkait strategi investasi jangka panjang dan dampak dividen serta afiliasi perusahaan.

Kinerja Saham ADRO

Mengutip dari Stockbit, laporan kinerja ADRO hingga kuartal III 2024 menunjukkan performa yang stabil, meskipun tekanan pasar meningkat. Laba bersih ADRO mencapai Rp5,147 miliar pada kuartal III 2024, sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,770 miliar. Secara tahunan, laba bersih dalam periode 12 bulan (TTM) tercatat Rp24,379 miliar, lebih rendah dari Rp25,342 miliar pada tahun 2023.

Pendapatan ADRO juga terpantau masih cukup kuat, dengan total pendapatan tahunan mencapai Rp38,872 miliar pada 2022, sebelum mengalami koreksi di tahun-tahun berikutnya. Meski demikian, pendapatan pada kuartal III 2024 tetap mampu mendukung stabilitas keuangan perusahaan.

ADRO saat ini memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp64,901 miliar dengan nilai perusahaan (enterprise value) Rp47,477 miliar. Jumlah saham beredar mencapai 30,76 miliar lembar. Stabilitas nilai perusahaan ini menunjukkan fundamental yang kuat, meskipun tantangan eksternal dan volatilitas pasar memberikan dampak pada kinerja keuangan.

Jika ditelusuri lebih jauh, laba bersih ADRO menunjukkan pola fluktuasi selama dekade terakhir. Puncak laba bersih tercatat pada kuartal II 2022 sebesar Rp12,303 miliar, sedangkan penurunan tajam terjadi pada kuartal III 2020 dengan rugi bersih Rp586 miliar. Performa kuartalan tahun ini relatif stabil, mencerminkan kemampuan perusahaan menjaga efisiensi operasional di tengah tantangan global.

Dengan tren yang ada, ADRO tetap menjadi salah satu emiten unggulan di sektor energi. Namun, fluktuasi laba bersih dan pendapatan menjadi catatan bagi investor, terutama di tengah ketidakpastian harga komoditas global. Meski demikian, rasio laba terhadap harga saham menunjukkan valuasi yang masih menarik untuk jangka panjang.(*)

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
CI
Ass. Redaktur

Citra Dara Vresti Trisna

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait