Market Hari Ini 29 Mar 2026 Penulis: Citra Dara Vresti Trisna Editor: Moh. Alpin Pulungan

Analis: Harga Minyak Turun Untungkan Fiskal, Tekan Ekspor

Penurunan harga minyak meringankan beban subsidi dan inflasi, namun berisiko menekan sektor ekspor komoditas seperti nikel.

Harga minyak turun memberi ruang fiskal bagi Indonesia dan menekan subsidi. Namun, risiko muncul pada ekspor komoditas seperti nikel.

Ilustrasi penurunan harga minyak menekan ekspor RI. Foto: dok KabarBursa.com
Ilustrasi penurunan harga minyak menekan ekspor RI. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM — Penurunan harga minyak dunia berpotensi memberikan ruang fiskal yang lebih longgar bagi Indonesia. Pada saat yang sama, penurunan harga minyak dapat menekan sektor komoditas yang menjadi tulang punggung ekspor nasional.

Analis Komoditas dan Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono menilai, dampak tersebut bersifat ganda mengingat Indonesia merupakan net importir minyak sekaligus eksportir mineral.

“Sebagai net-importir minyak namun eksportir komoditas mineral, dampaknya memang campuran,” ujar Wahyu kepada KabarBursa.com, Kamis, 26 Maret 2026.

Dalam jangka pendek, turunnya harga minyak dinilai akan langsung meringankan beban anggaran negara. Pemerintah dalam RAPBN 2026 mengalokasikan subsidi energi sebesar Rp210,1 triliun, sementara total dukungan energi termasuk kompensasi diperkirakan mencapai Rp381,3 triliun.

Beban tersebut sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak global. Kementerian Keuangan memperkirakan jika harga minyak bertahan di kisaran USD90 per barel, defisit APBN dapat melebar hingga sekitar 3,6 persen dari PDB, di atas target 2,53-2,68 persen.

Dengan demikian, penurunan harga minyak dari level tinggi berpotensi mengurangi tekanan subsidi dan menjaga defisit tetap terkendali.

“Penurunan harga Brent akan mengurangi beban subsidi BBM dan kompensasi energi secara signifikan,” kata Wahyu.

Selain fiskal, dampak positif juga terlihat pada stabilitas harga dan nilai tukar. Inflasi Indonesia pada Februari 2026 tercatat 4,76 persen (year-on-year), sehingga penurunan harga energi dapat membantu meredakan tekanan biaya transportasi dan logistik.

Dari sisi eksternal, turunnya harga minyak juga dapat mengurangi tekanan pada rupiah. Kurs JISDOR Bank Indonesia pada 27 Maret 2026 berada di kisaran Rp16.957 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat mendekati Rp16.990 saat harga minyak melonjak di atas US$100 per barel.

Wahyu menilai stabilitas global yang membaik juga berpotensi menarik kembali aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Biasanya kondisi global yang lebih stabil akan meningkatkan aliran modal ke emerging markets, yang bisa memperkuat rupiah,” ujarnya.

Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat risiko yang muncul pada sektor komoditas dalam jangka menengah, terutama nikel.

Indonesia saat ini menyuplai sekitar 65 persen pasar nikel global, menjadikannya sangat sensitif terhadap pergerakan harga komoditas tersebut.

Wahyu menilai, penurunan harga energi dapat menekan biaya produksi logam global, yang pada akhirnya berpotensi memperpanjang kondisi oversupply.

“Jika energi murah mendorong biaya produksi turun, produksi logam bisa tetap tinggi dan memperpanjang kondisi oversupply, sehingga harga ekspor berpotensi terkoreksi,” ujarnya.

Dampak tersebut berpotensi menekan penerimaan negara. Pada 2025, realisasi PNBP sektor minerba mencapai Rp135,06 triliun, melampaui target, dan menjadi salah satu kontributor penting bagi pendapatan negara.

Kementerian Keuangan juga mencatat penerimaan sumber daya alam minerba tumbuh 18,8 persen secara tahunan, didorong kenaikan harga mineral termasuk nikel. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelemahan harga komoditas dapat berdampak langsung terhadap penerimaan negara.

Di sisi ekspor, peran nikel juga sangat signifikan, terutama di daerah basis hilirisasi seperti Maluku Utara, yang mencatat nilai ekspor mencapai USD11,07 miliar pada 2024, dengan lonjakan tajam pada komoditas nikel.

Dengan demikian, penurunan harga minyak memang memberikan keuntungan jangka pendek bagi fiskal dan stabilitas ekonomi domestik. Namun, Indonesia tetap perlu mewaspadai dampak lanjutan terhadap sektor komoditas, yang memiliki kontribusi besar terhadap ekspor dan penerimaan negara. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
CI
Ass. Redaktur

Citra Dara Vresti Trisna

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait