Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada akhir 2024 akan mencapai 5,07 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya sebesar 5,05 persen.
Chief Economist PermataBank, Joshua Pardede, menekankan bahwa pertumbuhan ini akan didorong oleh konsumsi rumah tangga. "Kinerja ekonomi Indonesia yang relatif baik hingga akhir 2023, dengan ketahanan ekonomi domestik yang kuat dan tingkat inflasi yang rendah dibandingkan dengan negara-negara lain," kata dia, dikutip Kamis, 8 Februari 2024.
Namun, Joshua juga mencatat beberapa risiko yang dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari sisi global dan domestik. "Di sisi global, risiko termasuk perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok, kondisi "higher for longer" terkait suku bunga The Fed yang diproyeksikan tetap tinggi hingga paruh pertama tahun ini, dan ketegangan geopolitik seperti perang Rusia-Ukraina dan konflik Israel-Hamas," jelasnya.
Proyeksi Global
Sementara itu, di sisi domestik, risiko terutama terkait dengan pemilihan umum yang akan berlangsung pada 14 Februari 2024. Namun, Joshua menyatakan harapannya bahwa pemilu dapat memberikan dampak positif, terutama dalam meningkatkan belanja atau konsumsi rumah tangga. "Perlambatan investasi swasta dari dalam negeri maupun luar negeri karena kecenderungan investor untuk wait and see," ungkap dia.
Meskipun demikian, Josua optimis bahwa kondisi tersebut kemungkinan akan membaik setelah pemilu berlangsung.
Selain itu, Joshua juga mencatat risiko domestik terkait inflasi pangan yang cenderung tinggi, dipengaruhi oleh faktor El Nino. "Pemerintah harus bisa untuk menjaga stabilitas harga guna memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga," tutupnya.