KABARBURSA.COM - Pekan pertama Mei 2025 dibuka dengan derasnya aliran dana asing ke saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM). Berdasarkan data Stockbit yang dilihat Selasa, 5 Mei 2025, investor asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) Rp87,72 miliar untuk saham ini dengan volume transaksi mencapai 76,97 juta saham dari total nilai beli Rp178 miliar. Sementara itu, investor domestik terlihat ramai di sisi jual dengan total penjualan Rp261,9 miliar dan volume 113,55 juta saham.
Artinya, meskipun asing terlihat agresif mengakumulasi ANTM, secara keseluruhan pasar domestik tetap mendominasi aktivitas transaksi harian dengan porsi sekitar enam puluh dua persen. Dari segi frekuensi, asing mencatat sekitar sepuluh ribu transaksi, sementara domestik mencapai dua puluh satu ribu kali. Perbedaan ini menunjukkan dua pola berbeda: asing cenderung bermain "pelan tapi pasti" dengan nilai besar, sedangkan domestik lebih banyak melakukan transaksi kecil-kecil.
Kalau dibedah berdasarkan data broker asing, sejumlah nama seperti ZP (Maybank Sekuritas), AK (UBS Sekuritas), dan BB (Verdhana Sekuritas) muncul sebagai top buyer untuk ANTM pada 5 Mei 2025. Mereka masing-masing mencatat nilai beli jumbo: ZP Rp33,8 miliar, AK Rp32,6 miliar, dan BB Rp23,2 miliar dengan rata-rata harga beli di kisaran Rp2.305–2.309 per saham.
Sementara dari kubu domestik, top buyer-nya adalah EP (MNC Sekuritas) Rp6,4 miliar, AK (UBS Sekuritas Indonesia) Rp6,1 miliar, dan YP (Mirae Asset Sekuritas) Rp5,2 miliar. Namun di sisi penjualan, broker domestik justru mencatat nilai distribusi besar, seperti YU (CGS International Sekuritas Indonesia) Rp21,8 miliar, KK (Philip Sekuritas Indonesia) Rp14,8 miliar, dan CP (KB Valbury Sekuritas) Rp14,5 miliar yang mengindikasikan banyak investor lokal merealisasikan keuntungan atau trimming posisi.
Sebagai informasi, beberapa broker besar seperti UBS Sekuritas, Mandiri Sekuritas, dan Mirae Asset Sekuritas muncul di data foreign maupun domestik karena mereka melayani dua jalur transaksi, yakni akun asing dan akun lokal. Jadi, perbedaan foreign vs domestik di sini merujuk ke asal dana (klien), bukan hanya identitas brokernya.
Fenomena ini terjadi di tengah kondisi pasar yang dipenuhi sentimen campuran. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, dalam riset terbarunya mengatakan pergerakan IHSG pekan ini akan dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, termasuk kebijakan suku bunga The Fed dan rilis data produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama dari Amerika Serikat dan Indonesia.
"Konsensus memproyeksikan The Fed masih akan menahan suku bunganya di angka 4,5 persen. Hal ini tentu karena tingkat inflasi yang masih berada di atas target The Fed, yaitu 2 persen," ujar Imam.
Selain faktor eksternal, Imam juga menyoroti data kepercayaan konsumen Indonesia yang cenderung melemah pada periode sebelumnya. Hal ini menjadi perhatian karena sektor konsumsi masih memegang peran besar dalam pertumbuhan ekonomi domestik.
Kalau dilihat dari data keuangan terbaru, ANTM mencatatkan laba sebesar Rp2,1 triliun pada kuartal I 2025. Angka ini melonjak tajam dibanding periode sama 2024 yang cuma Rp238 miliar dan juga jauh di atas capaian kuartal I 2023 sebesar Rp1,66 triliun. Artinya, secara tahunan (YoY), laba ANTM di kuartal 2025 naik sekitar 795 persen dibanding tahun lalu.
Kalau dihitung annualised (proyeksi setahun penuh berdasarkan kuartal I), laba ANTM diperkirakan tembus Rp8,52 triliun, melampaui realisasi tahunan 2024 (Rp3,64 triliun) maupun 2023 (Rp3,07 triliun). Bahkan trailing twelve months (TTM) ANTM sudah di level Rp5,54 triliun per kuartal ini, naik dari TTM tahun lalu yang hanya Rp3,64 triliun. Ini memberi sinyal bahwa secara fundamental, ANTM sudah makin solid masuk 2025 karena didorong momentum emas dan nikel global.
Dari sisi kapitalisasi pasar (market cap), ANTM sekarang tercatat Rp59,356 triliun dengan jumlah saham beredar 24,03 miliar lembar. Ini berarti harga per sahamnya saat ini sekitar Rp2.470-an, sejalan dengan pantauan orderbook di platform seperti Stockbit.
Lonjakan laba ini kemungkinan bersumber dari harga komoditas utama seperti emas yang melonjak dan ekspansi nikel yang semakin agresif. Namun, angka kuartal I yang sangat besar ini tetap perlu dilihat dalam konteks keberlanjutan—apakah di kuartal berikutnya ANTM mampu menjaga momentum atau ada potensi koreksi, terutama jika harga komoditas global berubah.