Market Hari Ini 12 Jun 2025 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Yunila Wati

Analisis Saham ANTM Masih Dilirik meski Ada Kontroversi Nikel di Raja Ampat

Indo Premier tetap beri rekomendasi beli saham ANTM meski tambang Gag Nickel di Raja Ampat hadapi sorotan lingkungan dan risiko pasokan.

Saham ANTM tetap direkomendasikan beli oleh analis meski tambang Gag Nickel hadapi isu lingkungan. Proyeksi laba naik didukung bisnis emas.

Sebuah pabrik yang berdiri bersebelahan dengan persawahan yang tengah menghijau. (Foto: Kabar bursa/Abbas Sandji)
Sebuah pabrik yang berdiri bersebelahan dengan persawahan yang tengah menghijau. (Foto: Kabar bursa/Abbas Sandji)

KABARBURSA.COM – Polemik penambangan nikel di Raja Ampat, Papua, tak mengurangi minat investor melirik saham ANTM atau PT Aneka Tambang Tbk (Antam). Ini kemungkinan akibat izin usaha pertambangan (IUP) PT Gag Nickel, anak usaha Antam, tidak ikut dicabut oleh pemerintah Presiden Prabowo Subianto.

Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta dalam riset terbarunya menyatakan bahwa peluang pertumbuhan laba Antam masih terbuka lebar sehingga optimisme investor terjaga. Meski begitu, hal ini ditopang oleh bisnis emas dan sebagian bijih nikel.

Gag Nickel, yang berlokasi di dekat kawasan pariwisata Raja Ampat saat ini tengah menjadi sorotan atas potensi kerusakan lingkungan. Tambang ini memiliki kontrak penjualan bijih sebesar 3 juta wet metric ton (wmt) per tahun kepada Jatiluhur Metal Indonesia (JLMI), anak usaha Tsingshan Group, yang 30 sahamnya dimiliki oleh Gag Nickel.

Hingga pertengahan tahun, sekitar 50 persen dari volume tersebut telah berhasil dijual, namun sekitar 1,5 juta wmt masih berada dalam risiko.

“Volume bijih dari Gag Nickel tetap berisiko dalam beberapa kuartal mendatang, meskipun lisensinya belum dicabut, berbeda dengan empat IUP lain di wilayah yang sama,” ujar Ryan Winipta dalam laporannya dikutip Kabarbursa.com, Kamis,12 Juni 2025.

Meski dinyatakan tidak menyalahi prosedur oleh pemerinta. Ia memprediksi jika ada skenario terburuk Gag Nickel ditutup permanen, volume bijih sebesar 3 juta wmt per tahun untuk periode 2026 hingga 2027 juga berisiko. Namun menurut Ryan, ANTM masih dapat mengurangi dampak negatif dengan mengalihkan pasokan dari tambang lain yang lebih dekat ke fasilitas JLMI, seperti dari wilayah Maluku Utara.

“Risiko terhadap pelanggaran kontrak bisa diminimalkan dengan strategi pengalihan pasokan,” jelasnya.

Meski konservatif dalam memperkirakan volume bijih nikel tahun 2025 sebesar 13 juta wmt dibandingkan kuota RKAB sebesar 17 juta wmt, Ryan menaikkan proyeksi laba bersih ANTM untuk periode 2025 hingga 2027 sebesar 17 hingga 52 persen per tahun. 

Kenaikan ini ditopang oleh asumsi volume penjualan emas yang lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya dan harga emas global yang masih kuat.

“Aliran dana asing yang masuk juga relatif solid, dengan sekitar Rp3 triliun net buy dalam sebulan terakhir, mengikuti tren harga emas,” ungkap Ryan.

Dengan mempertimbangkan seluruh faktor tersebut, ia menegaskan kembali rekomendasi beli untuk saham ANTM dan menaikkan target harga menjadi Rp3.900 per saham, mencerminkan valuasi 13 kali price to earning (P/E) tahun 2025.

Menilik data perdagangannya hari ini Kamis, 12 Juni 2025 saham ANTM diharga Rp3.270 perlembarnya, tercatat menurun 0,61 poin. Namun jika melihat data perdagangan selama 3 bulan kebelakang saham ini mengalami tren bullish.

Selain Antam, perusahaan tambang nikel lain sepertu PT PAM Mineral Tbk (NICL) mengalami kenaikan 0,39 persen atau Rp1.295 per lembarnya. 

Meski industri nikel di Indonesia saat ini menjadi sorotan karena kerusakan lingkungan, namun nampaknya minat investor masuk masih cukup tinggi dibarengi dengan minat nikel di tingkat global. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait