Market Hari Ini 16 Jul 2024 Penulis: Yunila Wati Editor: Tim Editorial

Apa Itu IDX Cyclical Economy 30 BEI, Siapa Penghuninya?

Apa Itu IDX Cyclical Economy 30 BEI, Siapa Penghuninya?
Apa Itu IDX Cyclical Economy 30 BEI, Siapa Penghuninya?

KABARBURSA.COM - Bursa Efek Indonesia (BEI) membuat gebrakan baru. Dalam keterbukaan informasi BEI, Jumat, 12 Juli 2024, BEI meluncurkan indeks baru dengan nama "IDX Cyclical Economy 30" yang berlaku efektif awal pekan depan.

BEI menjelaskan, IDX Cyclical Economy 30 adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham cyclical berdasarkan sub-sektor dari IDX Industrial Classification (IDXIC) yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar serta didukung oleh fundamental perusahaan yang baik.

Indeks IDX Cyclical Economy 30 menggunakan metode Capped Adjusted Free Float Market Capitalization Weighted, yang membatasi bobot maksimal saham hingga 25 persen saat evaluasi dilakukan. Indeks ini dimulai dengan nilai dasar 100 pada 1 Maret 2019.

Evaluasi Indeks IDX Cyclical Economy 30 terdiri dari dua jenis evaluasi:

  1. Evaluasi Mayor (Pemilihan Konstituen dan Penyesuaian Bobot)

    • Jadwal Evaluasi: Februari dan Agustus
    • Efektif: Hari perdagangan pertama di bulan Maret dan September

  2. Evaluasi Minor (Penyesuaian Bobot)

    • Jadwal Evaluasi: Mei dan November
    • Efektif: Hari perdagangan pertama di bulan Juni dan Desember

Berikut adalah daftar saham yang menjadi konstituen dalam perhitungan Indeks IDX Cyclical Economy 30 untuk periode perdagangan dari 15 Juli hingga 30 Agustus 2024:

  1. Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES). Ratio Free Float 39,8 persen, jumlah saham untuk indeks 6.832.415.000 lembar, bobot 0,41 persen.
  2. Aneka Tambang Tbk (ANTM). Ratio Free Float 34,8 persen, jumlah saham untuk indeks 8.371.569.492 lembar, bobot 0,99 persen.
  3. Bank Jago Tbk (ARTO). Ratio Free Float 28,0 persen, jumlah saham untuk indeks 3.838.951.456 lembar, bobot 0,68 persen.
  4. Bank Central Asia Tbk (BBCA). Ratio Free Float 42,4 persen, jumlah saham untuk indeks 35.275.889.505 lembar, bobot 25.00 persen (dibatasi 25 persen).
  5. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Ratio Free Float 39,8 persen, jumlah saham untuk indeks 14.709.405819 lembar, bobot 5,30 persen.
  6. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Ratio Free Float 46,3 persen, jumlah saham untuk indeks 70.664.842.759 lembar, bobot 25,00 persen (dibatasi 25 persen)
  7. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN). Ratio Free Float 40,0 persen, jumlah saham untuk indeks 5.557.539.304 lembar, bobot 0,52 persen.
  8. Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Ratio Free Float 39,9 persen, jumlah saham untuk indeks 36.892.069.598 lembar, bobot 16,80 persen.
  9. Bintang Oto Global Tbk (BOGO). Ratio Free Float 70,5 persen, jumlah saham untuk indeks 2.681.289210 lembar, bobot 0,18 persen.
  10. Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS). Ratio Free Float 9,9 persen, jumlah saham untuk indeks 4.511.626.964 lembar, bobot 0,80 persen.
  11. Bank Resources Indonesia Tbk (BRMS). Ratio Free Float 52,2 persen, jumlah saham untuk indeks 73.956.018.216 lembar, bobot 0,84 persen.
  12. Barito Pacific Tbk (BRPT). Ratio Free Float 28,0 persen, jumlah saham untuk indeks 26.251.296.393 lembar, bobot 2,51 persen.
  13. Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS). Ratio Free Float 30,0 persen, jumlah saham untuk indeks 2.287.259.967 lembar, bobot 0,21 persen.
  14. Capital Financial Indonesia Tbk (CASA). Ratio Free Float 32,9 persen, jumlah saham untuk indeks 17.945.277.961 lembar, bobot 0,67 persen.
  15. Cemindo Gemilang Tbk (CMNT). Ratio Free Float 12,6 persen, jumlah saham untuk indeks 2.162.600.000 lembar, bobot 0,17 persen.

Limabelas daftar saham lainnya adalah:

  1. CTRA (Ciputra Development Tbk) dengan ratio free float sebesar 45,7 persen.
  2. ERAA (Erajaya Swasembada Tbk) dengan ratio free float sebesar 44,1 persen.
  3. ESSA (ESSA Industries Indonesia Tbk) dengan ratio free float sebesar 54,9 persen.
  4. FILM (MD Pictures Tbk) dengan ratio free float sebesar 54,9 persen.
  5. INCO (Vale Indonesia Tbk) dengan ratio free float sebesar 20,4 persen.
  6. INKP (Indah Kiat Pulp & Paper Tbk) dengan ratio free float sebesar 35,6 persen.
  7. INTP (Indocement Tunggal Prakarsa Tbk) dengan ratio free float sebesar 42,0 persen.
  8. MAPI (Mitra Adiperkasa Tbk) dengan ratio free float sebesar 48,6 persen.
  9. MDKA (Merdeka Copper Gold Tbk) dengan ratio free float sebesar 46,1 persen.
  10. MNCN (Media Nusantara Citra Tbk) dengan ratio free float sebesar 58,3 persen.
  11. PNLF (Panin Financial Tbk) dengan ratio free float sebesar 32,0 persen.
  12. SCMA (Surya Citra Media) dengan ratio free float sebesar 24,3 persen.
  13. SMGR (Semen Indonesia (Persero) Tbk) dengan ratio free float sebesar 48,8 persen.
  14. SRTG (Saratoga Investama Sedaya Tbk) dengan ratio free float sebesar 10,5 persen.
  15. TPIA (Chandra Asri Pacific Tbk) dengan ratio free float sebesar 16,6 persen.

Perlu dicatat bahwa jumlah saham yang digunakan untuk menghitung indeks akan disesuaikan pada tanggal efektif evaluasi, tergantung pada apakah terjadi aksi korporasi seperti IPO, stock split, reverse stock, rights issue, saham bonus, atau dividen saham sebelum tanggal efektif tersebut.

Indeks IDX Cyclical Economy 30 menjadi acuan penting bagi investor untuk memahami kinerja saham-saham yang tergolong dalam sektor ekonomi siklis di Bursa Efek Indonesia. Dengan metode perhitungan yang cermat dan evaluasi rutin, indeks ini memberikan gambaran yang akurat tentang pergerakan saham-saham yang mempengaruhi ekonomi siklis di Indonesia. Dengan demikian, para pelaku pasar dapat menggunakan informasi dari indeks ini untuk membuat keputusan investasi yang lebih baik, terutama dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait