Market Hari Ini 19 Mar 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Apa yang Terjadi dengan Bitcoin yang Turun di Bawah USD71.000?

Bitcoin terkoreksi 7 persen setelah mendekati USD76.000, namun data menunjukkan momentum bullish masih bertahan di tengah tekanan.

Bitcoin turun di bawah USD71.000 setelah koreksi 7 persen, namun data menunjukkan momentum bullish masih bertahan.

Ilustrasi: Koin-koin mata uang kripto (Foto: Unsplash)
Ilustrasi: Koin-koin mata uang kripto (Foto: Unsplash)

Daftar Isi

  1. 01 Bitcoin Tertekan seiring Risiko Perang Berkepanjangan

KABARBURSA.COM – Bitcoin mengalami koreksi sekitar 7 persen setelah sempat mendekati level USD76.000 pada Selasa, 17 Maret 2026. 

Penurunan ini terjadi setelah pelemahan pasar saham Amerika Serikat, seiring lonjakan harga minyak akibat serangan Israel terhadap fasilitas pemrosesan gas terbesar Iran serta kenaikan indeks harga produsen AS di atas ekspektasi.

Meski mengalami penurunan, belum ada indikasi bahwa momentum bullish Bitcoin memudar, mengingat pergerakan indeks S&P 500 dan obligasi pemerintah AS di tengah memburuknya kondisi makroekonomi. 

Selain itu, pelaku pasar bullish Bitcoin tidak menggunakan leverage berlebihan, sehingga mengurangi risiko likuidasi berantai.

Indeks S&P 500 hanya diperdagangkan sekitar 4 persen di bawah rekor tertinggi sepanjang masa pada Rabu, 18 Maret 2026, meskipun data pasar tenaga kerja AS melemah dan tekanan dari perang Iran masih berlanjut. Amerika Serikat melaporkan klaim pengangguran berkelanjutan relatif stabil di level 1,85 juta pada pekan yang berakhir 7 Maret. Pada Rabu, AS juga melaporkan harga grosir naik 3,4 persen pada Februari dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi kenaikan terbesar dalam 12 bulan.

Ketika harga minyak naik di atas USD98, investor semakin meyakini bahwa Federal Reserve tidak akan melonggarkan kebijakan moneter sepanjang 2026. 

Data CME FedWatch Tool menunjukkan peluang suku bunga tetap hingga September turun menjadi 42 persen pada Rabu, dari 89 persen sebulan sebelumnya, berdasarkan probabilitas implisit di pasar berjangka.

Bitcoin Tertekan seiring Risiko Perang Berkepanjangan

Inflasi yang tetap tinggi serta prospek perang berkepanjangan mengurangi peluang stimulus ekonomi yang berfokus pada ekspansi, sehingga mendorong investor menghindari risiko. 

Namun, tidak ada alasan untuk meyakini bahwa pelaku pasar memperkirakan penurunan tajam dalam waktu dekat, setidaknya jika dilihat dari bagaimana suku bunga diperdagangkan relatif terhadap ekspektasi inflasi.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun berada di level 3,71 persen pada Rabu, sementara ekspektasi inflasi dua tahun versi Cleveland Fed berada di 2,27 persen, menghasilkan imbal hasil riil sekitar 1,44 persen. 

Pada periode ketakutan ekstrem, permintaan terhadap obligasi pemerintah biasanya mendorong imbal hasil mendekati nol atau negatif. Sebaliknya, kurangnya kepercayaan terhadap kebijakan moneter AS dapat mendorong indikator tersebut ke level 2,5 persen atau lebih tinggi.

Bahkan jika Bitcoin turun 5 persen lagi dalam beberapa pekan ke depan, tidak ada indikasi permintaan leverage berlebihan dari pelaku bullish, sehingga risiko likuidasi berantai tetap rendah. 

Momentum kenaikan terbaru didukung oleh pasar spot, terutama melalui akumulasi ETF Bitcoin spot yang terdaftar di AS serta aktivitas pembelian agresif oleh Strategy (MSTR).

CoinGlass memperkirakan sekitar USD450 juta posisi long ber-leverage pada kontrak berjangka Bitcoin akan terlikuidasi paksa jika harga turun hingga USD68.000, yang mewakili kurang dari 1 persen dari total open interest sebesar USD49 miliar saat ini. 

Tingkat pendanaan kontrak berjangka perpetual Bitcoin menunjukkan bahwa pelaku bearish mulai terlalu percaya diri, seiring meningkatnya permintaan leverage untuk posisi short.

Tingkat pendanaan negatif berarti posisi short membayar biaya untuk mempertahankan posisi mereka. Lebih penting lagi, indikator tersebut berada di bawah kisaran netral 6 persen hingga 12 persen bahkan ketika harga Bitcoin sempat melampaui USD76.000, memperkuat indikasi bahwa permintaan di pasar spot menjadi pendorong utama momentum, bukan spekulasi di pasar derivatif.

Harga emas turun ke USD4.900 pada Rabu, menunjukkan tanda kelelahan setelah bertahan di atas USD4.800 selama empat pekan. Perpindahan dana dari emas berpotensi menjadi pemicu reli Bitcoin yang berkelanjutan, terutama ketika kekhawatiran inflasi menekan imbal hasil aset pendapatan tetap. 

Secara keseluruhan, hanya sedikit indikasi bahwa momentum bullish Bitcoin saat ini telah memudar. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait