KABARBURSA.COM – Laporan keuangan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) pada kuartal I 2026 cukup kontras. Di satu sisi laba bersih melejit, namun di saat yang sama tekanan terlihat jelas pada sisi arus kas operasional.
Dalam tiga bulan pertama 2026, UNVR membukukan laba bersih Rp2,14 triliun. Angka ini melonjak 73 persen secara tahunan. Namun, kenaikannya terlihat kontras dengan pertumbuhan penjualan yang hanya naik tipis 2,83 persen menjadi Rp8,44 triliun dari Rp8,21 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Jika melihat dari sisi operasionalnya, pada struktur biaya muncul tekanan yang masih berjalan. Beban pokok penjualan meningkat 3,19 persen menjadi Rp4,37 triliun, dan membuat pertumbuhan laba bruto relatif terbatas di level 2,44 persen menjadi Rp4,07 triliun.
Meski demikian, laba usaha masih mencatatkan kenaikan sebesar 9 persen, menjadi Rp1,56 triliun. Sementara, laba dari operasi yang dilanjutkan ikut tumbuh 14,2 persen menjadi Rp1,25 triliun. Di sini terlihat bahwa bisnis inti masih mencatat pertumbuhan, meskipun tidak agresif.
Inilah yang menarik. Lonjakan laba bersih yang terlihat besar ternyata tidak sepenuhnya berasal dari aktivitas utama. Sebagian besar justru didorong oleh komponen non-recurring dari operasi yang dihentikan, yaitu divestasi es krim, dengan kontribusi mencapai 41 persen terhadap total laba periode berjalan.
UNVR diketahui mencatatkan laba setelah pajak sebesar Rp870,27 miliar dari penjualan aset, dengan total kontribusi laba operasi yang dihentikan mencapai Rp887,85 miliar. Angka ini jauh di atas Rp139,72 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kas Negatif UNVR
Di sisi lain, arus kas memberikan gambaran yang berbeda. UNVR justru mencatat arus kas operasi negatif sebesar Rp753,5 miliar, berbalik dari posisi positif Rp1,1 triliun pada kuartal I 2025.
Penurunan kas juga terlihat pada posisi kas dan setara kas yang turun menjadi Rp5,4 triliun dari Rp5,71 triliun di akhir 2025. Kondisi ini terjadi seiring kebutuhan operasional yang lebih besar di tengah tekanan biaya.
Pun dengan struktur neraca yang menunjukkan perubahan komposisi yang cukup signifikan. Ekuitas meningkat 46,6 persen menjadi Rp6,56 triliun, sementara liabilitas turun 13,4 persen menjadi Rp13,45 triliun, meski masih didominasi kewajiban jangka pendek sebesar Rp12,15 triliun.
Total aset relatif stabil di Rp20,01 triliun, yang artinya tidak ada ekspansi besar dari sisi neraca pada awal tahun.
Strategi 2026
Di tengah dinamika ini, arah strategi 2026 mulai terlihat. UNVR menempatkan efisiensi biaya sebagai fokus utama, termasuk melalui peningkatan produktivitas dan transformasi digital.
Selain itu, perusahaan juga mengandalkan tiga pilar bisnis, yakni penguatan portofolio produk, perluasan jangkauan pasar, serta peningkatan kategori utama untuk menjaga pertumbuhan penjualan.
Pada saat yang sama, UNVR tetap mempertahankan karakter sebagai saham defensif melalui konsistensi pembagian dividen, yang selama ini menjadi daya tarik utama bagi investor.
Proyeksi dan Target Harga
Dari sisi pasar, proyeksi terhadap saham UNVR masih terfragmentasi. Sebagian analis menempatkan target harga di kisaran Rp3.200, mencerminkan ekspektasi pemulihan kinerja.
Namun, terdapat juga pandangan moderat dengan target di kisaran Rp2.450–Rp2.460. Sementara itu, skenario konservatif menempatkan target lebih rendah di rentang Rp1.355 hingga Rp1.000, disertai rekomendasi hold atau sell.
Perbedaan ini mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi faktor yang tidak sepenuhnya sejalan. Di satu sisi, terdapat dorongan laba yang kuat dari aksi korporasi, namun di sisi lain, terdapat tekanan pada arus kas dan pertumbuhan operasional yang masih terbatas.(*)