KABARBURSA.COM – Nama PT Cilacap Samudera Fishing Industry Tbk (ASHA) kembali muncul dalam radar pelaku pasar setelah pergerakan sahamnya turun cukup dalam dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan data yang dihimpun Kabarbursa.com, emiten sektor perikanan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 27 Mei 2022 itu kini bergerak di level Rp64 per saham, jauh di bawah harga IPO Rp100.
Di tengah pelemahan harga tersebut, ASHA justru menyimpan sejumlah dinamika menarik. Mulai dari struktur pemegang saham yang relatif terkonsentrasi, lonjakan jumlah investor ritel, hingga aktivitas transaksi asing yang sempat agresif pada awal Mei 2026.
ASHA merupakan emiten yang bergerak di sektor perikanan dan pengolahan hasil laut. Perusahaan menjalankan bisnis perdagangan hasil perikanan, pengolahan ikan, galangan kapal, pertambakan, hingga aktivitas cold storage untuk kebutuhan ekspor.
Dalam prospektus dan profil perusahaan, ASHA menyebut bahan baku ikan diperoleh dari hasil tangkapan kapal sendiri maupun pembelian dari pihak ketiga. Saat ini, fokus usaha utama berada pada perdagangan besar hasil perikanan dan layanan penyimpanan dingin.
Perusahaan dipimpin Presiden Direktur William Sutioso dengan Henry Sutioso sebagai Direktur. Sementara posisi Presiden Komisaris dijabat Asman dan Komisaris Independen ditempati A. Rahim Diar.
Dari sisi kepemilikan saham, PT ASHA Fortuna Corpora menjadi pengendali utama dengan kepemilikan 30 persen saham atau sekitar 1,5 miliar lembar saham. Pemegang saham besar lain antara lain PT Inti Sukses International sebesar 11 persen, Ervin Sutioso 7,5 persen, dan PT Mestika Arta Dirga sebesar 7 persen.
Porsi publik atau free float ASHA mencapai 44,5 persen dengan total saham beredar sekitar 5 miliar lembar. Jumlah pemegang saham juga mengalami kenaikan cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Per April 2026, jumlah investor ASHA tercatat mencapai 28.298 single investor identity (SID). Jumlah tersebut meningkat dibanding posisi November 2025 yang masih berada di kisaran 10.277 investor.
Fundamental Masih Rugi tapi Pendapatan Mulai Bergerak
Dari sisi fundamental, ASHA masih mencatatkan rugi bersih pada kuartal I 2026. Berdasarkan data keuangan perusahaan, rugi bersih periode tersebut mencapai sekitar Rp4 miliar.
Meski demikian, pendapatan mulai menunjukkan perbaikan. Pada kuartal I 2026, ASHA membukukan pendapatan sekitar Rp41 miliar, naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp23 miliar.
Secara tahunan (year on year/yoy), pendapatan ASHA sepanjang 2025 tercatat sekitar Rp171 miliar. Angka tersebut masih berada di bawah capaian 2024 yang mencapai sekitar Rp263 miliar.
Di sisi lain, laba bersih tahunan juga masih negatif. ASHA membukukan rugi sekitar Rp20 miliar pada 2025 dan rugi Rp31 miliar pada 2024.
Kondisi tersebut tercermin pada valuasi saham perusahaan. Rasio price to earnings atau PER tahunan ASHA masih berada di area negatif sebesar minus 20,29 kali, sementara earnings yield tercatat minus 6,01 persen.
Adapun rasio price to book value atau PBV berada di kisaran 3,07 kali dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp320 miliar. Sementara rasio price to sales tercatat sekitar 1,69 kali.
ASHA juga memiliki anak usaha bernama PT Jembatan Lintas Global dengan kepemilikan 99,97 persen. Anak usaha tersebut bergerak di bidang perdagangan ikan dengan total aset mendekati Rp999 miliar.
Kondisi fundamental tersebut membuat saham ASHA sejauh ini masih sulit dikategorikan menarik dari sisi valuasi maupun profitabilitas. Di tengah kinerja yang masih mencatat rugi bersih, rasio valuasi saham juga belum mencerminkan kondisi yang murah, terutama dengan PBV yang sudah berada di atas 3 kali meski perusahaan masih membukukan laba negatif.
Harga Saham Turun Dalam, Asing Sempat Agresif
Performa saham ASHA sepanjang 2026 masih berada dalam tekanan. Secara year to date (ytd), saham ini turun sekitar 11,11 persen dan terkoreksi sekitar 36 persen dalam tiga bulan terakhir.
Dalam satu bulan terakhir, harga ASHA juga melemah sekitar 13,51 persen ke level Rp64. Padahal pada awal Mei lalu, saham ini sempat melonjak hingga area Rp88.
Aktivitas transaksi saham ASHA sempat meningkat tajam pada 6 Mei 2026. Saat itu, nilai transaksi menembus Rp105,17 miliar dengan volume perdagangan mencapai 12,08 juta saham.
Namun setelah lonjakan tersebut, tekanan jual asing mulai terlihat. Pada 20 Mei 2026, ASHA mencatat net foreign sell sekitar Rp716,89 juta dan berlanjut menjadi net foreign sell Rp1,13 miliar pada 26 Mei 2026.
Meski demikian, pola transaksi asing di saham ini masih terlihat fluktuatif. Pada beberapa perdagangan sebelumnya, investor asing juga sempat melakukan akumulasi dalam jumlah cukup besar.
Pada 11 Mei 2026 misalnya, ASHA membukukan net foreign buy sekitar Rp670 juta. Sementara pada 19 Mei 2026, investor asing kembali mencatat pembelian bersih sekitar Rp489 juta.
Aktivitas transaksi yang meningkat tersebut sempat mendorong pergerakan saham ASHA kembali naik ke area Rp100 pada awal Mei 2026. Level tersebut menarik perhatian pasar karena sama dengan harga IPO ASHA saat pertama kali melantai di Bursa Efek Indonesia pada 27 Mei 2022.
Namun setelah menyentuh area tersebut, saham ASHA kembali bergerak turun hingga ke level Rp64. Koreksi tersebut memperlihatkan volatilitas saham masih cukup tinggi, terutama pada saham berkapitalisasi kecil yang sensitif terhadap arus dana dan momentum transaksi pasar.
Pergerakan tersebut membuat saham ASHA mulai kembali diperhatikan pelaku pasar, terutama investor yang memburu saham berkapitalisasi kecil dengan volatilitas tinggi dan likuiditas yang mulai meningkat.(*)