Market Hari Ini 03 May 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Asing Lego Rp16,42 Miliar, CPIN Jatuh ke Dekat Target Bawah Analis

CPIN turun ke Rp4.010 setelah asing mencatat net sell besar. Harga kini berada dekat target bawah analis, meski mayoritas rekomendasi masih buy.

CPIN turun 2,43 persen ke Rp4.010 dengan net foreign sell Rp16,42 miliar. Simak pergerakan sepekan dan konsensus analis terbaru.

Asing banyak keluar dari saham CPIN. Bahkan, harga saat ini bahkan jatuh ke target terbawah analis. (Foto: dok CPIN)
Asing banyak keluar dari saham CPIN. Bahkan, harga saat ini bahkan jatuh ke target terbawah analis. (Foto: dok CPIN)

KABARBURSA.COM – Saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menutup perdagangan 30 April 2026 di zona merah. Harganya turun 100 poin atau 2,43 persen ke level Rp4.010, setelah sempat dibuka di Rp4.150 dan bergerak di rentang harian Rp3.970–Rp4.150.

Tekanan paling mencolok datang dari transaksi asing. Pada perdagangan 30 April 2026, investor asing membukukan beli Rp16,34 miliar, tetapi jualnya jauh lebih besar, yakni Rp32,76 miliar. Alhasil, CPIN mencatatkan net foreign sell Rp16,42 miliar dalam sehari.

Pergerakan ini membuat CPIN kembali berada sangat dekat dengan target terendah analis di Rp4.000. Posisi harga terakhir Rp4.010 hanya berjarak tipis dari batas bawah konsensus, sementara target rata-rata analis masih berada di Rp5.564. Adapun target tertinggi berada di Rp6.800.

Dalam sepekan perdagangan terakhir yang tersedia, CPIN bergerak tidak stabil. Pada 27 April 2026, saham ini turun 1,69 persen ke Rp4.070 dengan net foreign sell Rp1,94 miliar. Dua hari berikutnya CPIN sempat mencoba pulih, masing-masing naik 0,49 persen ke Rp4.090 pada 28 April dan Rp4.110 pada 29 April.

Namun pemulihan itu patah pada 30 April. Nilai transaksi melonjak menjadi Rp39,12 miliar, jauh lebih besar dibanding Rp11,88 miliar pada 29 April dan Rp9,79 miliar pada 28 April. Volume juga naik ke 97.360 lot dengan frekuensi 5.610 kali, menunjukkan tekanan jual terjadi saat aktivitas pasar meningkat.

Dari sisi arus asing, pola CPIN juga berubah cepat. Setelah mencatat net foreign buy Rp3,57 miliar pada 28 April dan Rp322,91 juta pada 29 April, saham ini langsung berbalik mencatat net sell besar pada 30 April. Perubahan ini menjadi sinyal paling menonjol dalam data perdagangan sepekan.

Meski harga saham sedang tertekan, konsensus analis masih cenderung positif. Dari 21 analis yang memantau CPIN, sebanyak 19 memberikan rekomendasi buy, dua hold, dan tidak ada rekomendasi sell. Artinya, tekanan harga jangka pendek belum mengubah posisi mayoritas analis terhadap saham emiten unggas tersebut.

Namun proyeksi kinerja CPIN tidak sepenuhnya agresif untuk 2026. Konsensus memperkirakan pendapatan naik dari Rp70,70 triliun pada 2025 menjadi Rp75,31 triliun pada 2026. Di sisi lain, laba bersih justru diproyeksikan turun dari Rp5,64 triliun menjadi Rp5,31 triliun, sebelum kembali naik ke Rp5,90 triliun pada 2027.

Gambaran serupa terlihat pada estimasi laba usaha dan EPS. Laba usaha diproyeksikan turun dari Rp8,13 triliun pada 2025 menjadi Rp7,43 triliun pada 2026, lalu naik lagi ke Rp8,23 triliun pada 2027. EPS juga diperkirakan turun dari 344,18 menjadi 326,92 pada 2026, sebelum naik ke 363,44 pada 2027.

Dengan data tersebut, CPIN sedang berada di titik yang cukup sensitif. Harga saham turun mendekati target bawah analis, asing mencatat jual bersih besar, tetapi mayoritas analis masih memasang rekomendasi buy. Perdagangan berikutnya akan memperlihatkan apakah area Rp4.000 menjadi penahan, atau justru membuka ruang tekanan baru.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait