Asing Parkir di Saham ini, dari Bank Jumbo hingga Lapis Dua

Akumulasi asing menyasar BBRI, BBCA hingga BIPI secara volume, menunjukkan pergeseran minat ke saham high beta di tengah dominasi domestik.

Asing mengoleksi BBRI, BBCA, ADRO hingga BIPI secara volume. Akumulasi menyebar dari bank jumbo ke saham lapis dua.

Asing mengoleksi BBRI, BBCA, ADRO hingga BIPI secara volume. Akumulasi menyebar dari bank jumbo ke saham lapis dua. Foto: Dok. KabarBursa
Asing mengoleksi BBRI, BBCA, ADRO hingga BIPI secara volume. Akumulasi menyebar dari bank jumbo ke saham lapis dua. Foto: Dok. KabarBursa

Daftar Isi

  1. 01 Transaksi Domestik Masih Mendominasi

KABARBURSA.COM — Pergerakan dana asing pada sesi tengah hari tak lagi sekadar soal masuk atau keluar. Daftar saham yang dikoleksi memperlihatkan perubahan strategi, dari bank berkapitalisasi besar hingga emiten berisiko tinggi yang selama ini berada di luar radar utama.

Akumulasi terbesar secara volume terjadi pada PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI). Investor asing membukukan beli 869,78 juta lembar saham dan melepas 486,96 juta saham, sehingga tersisa pembelian bersih 382,81 juta saham atau setara 3.828.145 lot. Di posisi berikutnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mencatatkan beli 94,01 juta saham dan jual 15,52 juta saham, menghasilkan akumulasi bersih 78,48 juta saham atau 784.883 lot.

Pergerakan serupa terlihat pada PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) dengan beli 101,09 juta saham dan jual 26,98 juta saham atau setara pembelian bersih 74,10 juta saham atau 741.069 lot. PT Sentul City Tbk (BKSL) menyusul lewat beli 47,41 juta saham dan jual 17,16 juta saham sehingga tersisa 30,25 juta saham atau 302.549 lot. Sementara PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mencatatkan beli 35 juta saham dan jual 5,36 juta saham dengan akumulasi bersih 29,63 juta saham atau 296.328 lot.

Di kelompok saham bank jumbo, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan beli 74,31 juta saham dan jual 48,85 juta saham atau pembelian bersih 25,46 juta saham atau setara 254.605,82 lot. Kehadiran BCA bersama BRI menegaskan bahwa sektor perbankan tetap menjadi jangkar ketika dana global kembali mencari eksposur ke pasar domestik.

Sektor energi dan komoditas juga ikut tersapu. PT AlamTri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencatatkan beli 37,82 juta saham dan jual 13,36 juta saham, menyisakan akumulasi 24,45 juta saham atau 244.511 lot. PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) membukukan beli 22,69 juta saham dan jual 9,56 juta saham atau bersih 13,13 juta saham atau 131.384 lot.

PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mencatatkan pembelian 31,53 juta saham dan penjualan 20,58 juta saham dengan selisih 10,94 juta saham atau 109.486 lot. Adapun PT Timah Tbk (TINS) membukukan beli 21,14 juta saham dan jual 11,63 juta saham atau bersih 9,51 juta saham atau 95.147 lot.

Masuknya saham telekomunikasi PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan pembelian 22,82 juta saham dan penjualan 13,82 juta saham atau akumulasi bersih 8,99 juta saham atau 89.919,56 lot, serta emiten properti PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) yang mencatatkan beli 10,35 juta saham dan jual 849 ribu saham atau bersih 9,51 juta saham atau 95.083 lot, memperlihatkan bahwa akumulasi asing menyebar ke sektor berbasis konsumsi domestik.

Pola ini menunjukkan bahwa dana asing tidak hanya masuk ke saham defensif, tetapi juga ke saham berkapitalisasi menengah dengan volatilitas tinggi. Dalam banyak fase pasar, pergeseran ke saham high beta kerap menjadi sinyal awal meningkatnya selera risiko investor global.

Transaksi Domestik Masih Mendominasi

Akumulasi di sejumlah saham itu terjadi di tengah struktur transaksi yang masih ditopang investor dalam negeri. Pada sesi tengah hari, nilai pembelian asing tercatat Rp6,32 triliun dan penjualan Rp4,59 triliun, membentuk selisih positif Rp1,73 triliun.

Namun secara keseluruhan, nilai transaksi domestik tetap lebih besar. Investor lokal membukukan total transaksi Rp22,41 triliun, dengan pembelian Rp10,34 triliun dan penjualan Rp12,07 triliun. Porsinya mencapai 67,26 persen dari total nilai perdagangan, sementara investor asing berada di level 32,74 persen.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa arah jangka pendek indeks masih sangat bergantung pada perilaku dana domestik. Meski demikian, daftar saham yang mulai dikoleksi memberi petunjuk mengenai sektor yang berpotensi menjadi motor penggerak ketika arus modal global berbalik lebih konsisten.

Di sisi lain, akumulasi intraday ini masih kontras dengan posisi secara tahun berjalan yang sebelumnya dibayangi arus keluar dana asing. Karena itu, pergerakan pada sesi siang lebih tepat dibaca sebagai fase awal pembentukan posisi, bukan perubahan tren secara penuh.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait