Asing Serbu BMRI dan BBRI di Akhir Pekan, Tinggalkan Saham Nikel dan Konsumer

Aksi beli JP Morgan Sekuritas Indonesia pada saham perbankan kontras dengan aksi jual di MBMA, ANTM, dan INDF, mencerminkan pergeseran arus dana asing di BEI.

Asing borong BMRI dan BBRI lewat JP Morgan Sekuritas Indonesia, sementara saham nikel dan konsumer dilepas. Simak peta pergeseran arus dana di BEI.

Tampak udara Gedung Kantor Pusat PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) di kawasan Sudirman, Jakarta. Foto: Dok. BMRI.
Tampak udara Gedung Kantor Pusat PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) di kawasan Sudirman, Jakarta. Foto: Dok. BMRI.

Daftar Isi

  1. 01 Asing Berbalik Arah

KABARBURSA.COM — Pergerakan dana asing melalui broker J.P. Morgan Sekuritas Indonesia pada 20 Februari 2026 memperlihatkan satu pola yang tegas. Arus modal global tidak sekadar masuk ke pasar saham domestik, tetapi memilih sektor secara selektif. Bank-bank besar menjadi tujuan utama, sementara saham berbasis hilirisasi dan konsumsi justru dilepas dalam jumlah besar.

Sejak awal perdagangan, akumulasi sudah terlihat di PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Nilai beli bersih terus menanjak dari Rp45,8 miliar pada pukul 09.14 hingga ditutup di kisaran Rp84 miliar pada akhir sesi. Kenaikan yang nyaris tanpa jeda itu menunjukkan pola pembelian terstruktur, bukan transaksi spekulatif harian.

Di saat yang sama, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ikut dikoleksi. Posisi beli bersih meningkat dari Rp15,4 miliar pada pertengahan sesi menjadi Rp33,7 miliar saat penutupan. Masuknya dana ke dua bank berkapitalisasi besar itu menandakan bahwa investor global kembali menjadikan sektor perbankan sebagai jangkar likuiditas di tengah ketidakpastian global.

Pola berbeda justru terjadi di saham berbasis komoditas hilirisasi. PT Merdeka Battery Materials Tbk atau MBMA menjadi yang paling dalam dilepas dengan posisi jual bersih mencapai Rp28,1 miliar. Tekanan juga terlihat pada PT Aneka Tambang Tbk atau ANTM yang mencatatkan net sell Rp22,9 miliar.

Saham konsumer PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) ikut keluar dari radar akumulasi dengan nilai jual bersih Rp26 miliar.

Di tengah pelepasan itu, ada satu anomali. PT AlamTri Resources Indonesia Tbk (ADRO) justru mengalami lonjakan beli bersih pada akhir sesi hingga Rp24,6 miliar. Padahal, tak lama setelah sesi pembukaan, ADRO sempat dilepas Rp1,5 miliar. Kenaikan yang terjadi mendekati penutupan perdagangan mengindikasikan pembentukan posisi jangka menengah, bukan sekadar respons intraday.

Perpindahan dana tersebut mencerminkan rotasi sektor. Asing tidak sedang keluar dari Indonesia, tetapi mengalihkan portofolio ke instrumen yang dianggap paling stabil dan likuid. Bank besar selama ini menjadi proksi pertumbuhan ekonomi domestik. Kinerja yang ditopang ekspansi kredit, stabilitas margin bunga bersih, serta posisi sebagai penopang likuiditas sistem keuangan membuat sektor ini lebih defensif terhadap gejolak eksternal.

Sebaliknya, saham berbasis hilirisasi nikel yang dalam dua tahun terakhir menjadi primadona mulai kehilangan momentum jangka pendek. Tekanan harga komoditas global dan ketidakpastian permintaan membuat investor global mengambil posisi lebih konservatif. Pergerakan ini juga mengirim sinyal lain. Strategi dana asing kini lebih selektif, tidak lagi menyapu bersih tema besar seperti hilirisasi, tetapi memilih emiten dengan fundamental likuiditas paling kuat.

Asing Berbalik Arah

Arus modal asing di Bursa Efek Indonesia mulai menunjukkan perubahan arah setelah sempat keluar besar-besaran pada awal tahun. Data perdagangan memperlihatkan bagaimana saham perbankan yang sebelumnya menjadi sumber tekanan justru kembali menjadi target akumulasi.

Pada 29 Januari 2026, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih hingga Rp5,11 triliun. Sepanjang tahun berjalan, nilai net sell bahkan telah mencapai Rp11,42 triliun. Tekanan terbesar saat itu terjadi pada saham-saham berkapitalisasi jumbo, seperti BBCA, BMRI, BBRI, ANTM, dan BUMI. Sejalan dengan aksi jual tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan terkoreksi 1,06 persen ke level 7.922.

Kondisi itu menegaskan sektor perbankan sempat menjadi sumber utama arus keluar dana global. Penurunan kepemilikan asing di saham bank besar terjadi bersamaan dengan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap pasar negara berkembang.

Dalam siklus pergerakan dana global, fase net sell besar sering diikuti oleh periode re-entry secara bertahap pada saham dengan fundamental paling kuat. Perbankan nasional, yang selama ini menjadi proxy pertumbuhan ekonomi domestik, kembali menjadi pintu masuk utama.

Masuknya kembali dana asing ke bank besar juga memberi sinyal bahwa investor global mulai melihat valuasi yang lebih menarik setelah koreksi sebelumnya.

Di sisi lain, perubahan arah ini memperlihatkan adanya proses reposisi portofolio. Investor yang sebelumnya menurunkan eksposur kini kembali meningkatkan bobot pada sektor yang sama, tetapi pada harga yang lebih rendah. Fenomena tersebut memperkuat indikasi bahwa pasar sedang bergerak dari fase distribusi menuju fase akumulasi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait