Market Hari Ini 18 Jun 2025 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Uslimin Usle

ASLC Bagikan Dividen Rp12,7 Miliar dan Siapkan Capex Hingga Rp30 Miliar untuk Ekspansi

ASLC juga memaparkan rencana ekspansi agresif untuk lini bisnis ritel mobil bekas mereka

ASLC menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp12,7 miliar atau setara dengan Rp1 per saham dalam RUPST

Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: KabarBursa.com/Abbas
Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: KabarBursa.com/Abbas

KABARBURSA.COM – PT Autopedia Sukses Lestari Tbk atau dalam kode saham ASLC menetapkan pembagian dividen tunai sebesar Rp12,7 miliar atau setara dengan Rp1 per saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Selasa, 17 Juni 2025. Jumlah tersebut setara dengan 25 persen dari laba bersih tahun buku 2024.

Direktur Keuangan ASLC, Armeza Umar, dalam paparan public expose yang berlangsung secara daring menjelaskan bahwa keputusan pembagian dividen mencerminkan komitmen perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi dan pemberian nilai tambah kepada pemegang saham. 

“Kami membagikan dividen sekitar Rp12,7 miliar atau Rp1 per saham, setara 25 persen dari laba bersih,” ujarnya secara daring pada Selasa, 17 Juni 2025.

Selain mengumumkan dividen, ASLC juga memaparkan rencana ekspansi agresif untuk lini bisnis ritel mobil bekas mereka, Caroline.id, di semester kedua 2025. Menurut Armeza, perusahaan telah membuka dua cabang baru di awal tahun yakni di Cibubur dan Paskal, Bandung dan berencana menambah dua cabang lagi pada paruh kedua tahun ini. Salah satu lokasi tambahan dipastikan kembali berlokasi di Bandung, sementara satu cabang lagi sedang dalam tahap pemilihan lokasi.

“Untuk belanja modal Caroline dari awal tahun kami targetkan sekitar Rp26 miliar hingga Rp30 miliar. Ini adalah alokasi untuk seluruh investasi Caroline di 2025,” jelas Armeza. 

Ia juga menambahkan bahwa secara keseluruhan, capex ASLC untuk tahun ini berkisar antara Rp20 miliar hingga Rp30 miliar, dan sebagian besar digunakan untuk ekspansi showroom serta digitalisasi sistem.

Dari sisi kinerja keuangan, meski laba bersih kuartal I-2025 mengalami sedikit penurunan dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, perusahaan tetap optimistis mampu mencatatkan pertumbuhan.

“Penurunan disebabkan oleh product mix di mana mobil yang dijual memiliki harga lebih rendah dari tahun lalu. Tapi kami tetap yakin secara keseluruhan laba bersih masih akan tumbuh optimal,” kata Armeza.

Untuk tahun ini, ASLC belum mengungkap angka pasti target pendapatan dan laba. Namun, manajemen menekankan proyeksi pertumbuhan masih sejalan dengan tren positif yang dicatatkan Caroline.id selama tiga tahun terakhir, termasuk peningkatan jumlah pelanggan, tingkat retensi, dan referral.

Secara terpisah, Presiden Direktur ASLC, Jany Candra menjelaskan bahwa seluruh cabang Caroline yang dibuka menerapkan strategi efisien agar langsung mencapai titik impas atau break-even point (BEP). 

“Setiap cabang kami rancang agar bisa sustain secara mandiri. Caroline.id pada dasarnya sudah bisa menutup biaya operasionalnya sendiri,” ujar dia. 

Tantangan tersisa, menurut manajemen, justru berada pada biaya di level holding yang belum sepenuhnya ditutup oleh bisnis Caroline.

Adapun strategi pertumbuhan lainnya juga menyasar penguatan ekosistem digital yang berfungsi sebagai price engine internal untuk anak usaha seperti JBA, MotoGadai, dan Caroline, kini mulai dikembangkan menjadi sumber pendapatan melalui skema subscription bagi pelanggan ritel dan korporasi. 

“Itu memang bukan profit center sejak awal, tapi kami yakin memiliki potensi ekonomi di masa depan,” ujar dia..

Dari sisi pasar, ASLC menilai peluang pertumbuhan bisnis mobil bekas nasional masih sangat besar, mengingat kepemilikan kendaraan per kapita Indonesia masih rendah dibanding negara ASEAN lain. 

Di sisi lain, tantangan utama di 2025 adalah perlambatan penyaluran pembiayaan oleh perbankan dan lembaga leasing serta kehati-hatian konsumen dalam belanja barang bernilai tinggi akibat ketidakpastian politik dan ekonomi global.

Sementara itu, terkait kendaraan listrik (EV), ASLC mencatat pergerakan pasar mobil listrik bekas masih terbatas akibat volume suplai yang rendah dan gap ekspektasi harga antara penjual dan pembeli

Dengan kombinasi strategi ekspansi ritel, penguatan digitalisasi, dan pendekatan bisnis yang hati-hati namun terukur, manajemen ASLC mengaku yakin mampu menjaga keberlanjutan bisnis di tengah kondisi industri otomotif yang menantang.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait