KABARBURSA.COM – PT Bach Multi Global Tbk resmi memulai tahapan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) di tengah kondisi rasio kas yang berada pada level sangat rendah.
Berdasarkan prospektus emiten yang akan menggunakan ticker BACH ini, cash ratio atau rasio kas perusahaan pada tahun 2025 tercatat hanya sebesar 0,02 kali atau 2 persen, menurun signifikan dari tahun sebelumnya yang berada di angka 0,09 kali. Kondisi ini menunjukkan adanya tantangan serius pada likuiditas perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya saat ini.
Manajemen, dalam prospektur tersebut, menjelaskan bahwa langkah strategis ini diambil guna memperbaiki struktur permodalan perusahaan agar lebih sehat ke depannya. Perusahaan menargetkan agar penyesuaian arus kas ini dapat mendukung keberlanjutan operasional bisnis setelah proses pencatatan saham di bursa efek selesai dilakukan.
Data keuangan menunjukkan total kas dan setara kas perseroan per akhir 2025 berada di posisi Rp11,97 miliar, sementara liabilitas jangka pendek melonjak hingga Rp595,18 miliar. Dari total dana yang dihimpun melalui IPO, sebesar Rp91,02 miliar direncanakan untuk melunasi fasilitas Omnibus Revolving Loan dari PT Bank Permata Tbk (BNLI). Diketahui, fasilitas pinjaman tersebut merupakan penarikan baru yang dilakukan perseroan dalam rentang waktu Januari hingga Maret 2026.
Selain masalah likuiditas, tata kelola aset perseroan turut menjadi sorotan dalam laporan keuangan jelang IPO, terutama terkait kebijakan penghapusan piutang. Pada tahun 2025, perseroan melakukan penghapusan piutang usaha (write-off) secara drastis mencapai Rp38,82 miliar.
Kebijakan ini dinilai berbeda dibandingkan dua tahun sebelumnya, di mana perseroan tidak mencatat adanya penghapusan piutang usaha sama sekali dalam laporan keuangan tahunan.
Langkah penghapusan piutang ini berdampak pada penurunan Cadangan Kerugian Kredit Ekspektasian (CKKE) secara signifikan. Nilai CKKE tercatat menyusut dari Rp58,8 miliar pada 2024 menjadi Rp23,8 miliar pada 2025. Penurunan nilai cadangan ini mengindikasikan adanya pembersihan aset piutang macet yang tersimpan dari periode tahun-tahun sebelumnya.
Direksi BACH menegaskan bahwa seluruh langkah penyesuaian yang dilakukan telah sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku dan diawasi oleh auditor.
Manajemen berupaya memastikan bahwa data yang disajikan dalam prospektus mencerminkan kondisi riil perusahaan setelah dilakukan evaluasi internal secara mendalam.
Upaya perbaikan kinerja terus diupayakan manajemen agar memberikan rasa percaya kepada investor terkait prospek usaha perseroan jangka panjang. Perusahaan kini tengah memfokuskan seluruh sumber daya untuk memastikan proses penawaran umum berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh otoritas pasar modal.
Perseroan telah menjadwalkan masa penawaran awal hingga 24 Juni 2026, diikuti dengan perkiraan tanggal efektif pada 29 Juni 2026.
Selanjutnya, periode penawaran umum perdana saham direncanakan berlangsung pada 1 Juli hingga 3 Juli 2026. Setelah periode tersebut, tahapan berikutnya adalah penjatahan saham pada 3 Juli 2026 dan distribusi saham secara elektronik pada 6 Juli 2026. Seluruh rangkaian proses IPO ini akan berpuncak pada pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 7 Juli 2026.(*)