Market Hari Ini 25 Apr 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Bank Jago (ARTO) Tumbuh di Kuartal I, Saham Belum Pulih?

Bank Jago mencatat pertumbuhan nasabah, DPK, dan kredit pada kuartal I-2026.

Kinerja Bank Jago tumbuh di kuartal I 2026, namun saham ARTO masih tertekan.

PT Bank Jago Tbk (ARTO) mencatatkan pertumbuhan kinerja pada kuartal I-2026. (Foto: Dok. Bank Jago)
PT Bank Jago Tbk (ARTO) mencatatkan pertumbuhan kinerja pada kuartal I-2026. (Foto: Dok. Bank Jago)

Daftar Isi

  1. 01 Bagian dari Ekosistem GoTo dan Bank Digital
  2. 02 Performa Sahamnya Oke?

KABARBURSA.COM – PT Bank Jago Tbk (ARTO) mencatatkan pertumbuhan kinerja pada kuartal I-2026, ditopang peningkatan jumlah nasabah, dana pihak ketiga (DPK), serta penyaluran kredit. Hingga akhir Maret 2026, jumlah nasabah bank berbasis teknologi ini mencapai 19,4 juta.

Direktur Utama Bank Jago Arief Harris mengatakan pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin luasnya adopsi layanan digital oleh masyarakat. 

“Peningkatan DPK ini menunjukkan nasabah semakin banyak dan percaya untuk memanfaatkan produk dan layanan Bank Jago sebagai bagian dari pengelolaan keuangan mereka,” ujar Arief dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu, 25 April 2026.

Dari total nasabah tersebut, sebanyak 15,2 juta merupakan pengguna layanan funding melalui Aplikasi Jago. Jumlah ini meningkat lebih dari 3 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 16,3 juta nasabah.

Seiring dengan pertumbuhan nasabah, penghimpunan dana pihak ketiga juga menunjukkan peningkatan. Hingga kuartal I-2026, DPK Bank Jago tercatat sebesar Rp26,4 triliun, naik 23 persen secara tahunan dari Rp21,4 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Komposisi DPK didominasi oleh dana murah. Porsi current account and savings account (CASA) mencapai 53 persen atau sekitar Rp13,9 triliun, sementara sisanya sebesar 47 persen atau Rp12,5 triliun berasal dari deposito.

Di sisi intermediasi, penyaluran kredit Bank Jago juga tumbuh 24 persen secara tahunan menjadi Rp25,2 triliun hingga akhir Maret 2026, dari sebelumnya Rp20,3 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh kolaborasi dengan berbagai mitra, termasuk platform digital, perusahaan pembiayaan, dan lembaga keuangan lainnya.

Manajemen menyebut ekspansi kredit tetap dilakukan dengan prinsip kehati-hatian. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross yang berada di level 0,8 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri perbankan nasional.

Pertumbuhan kredit turut mendorong peningkatan total aset perusahaan. Hingga akhir kuartal I-2026, aset Bank Jago mencapai Rp39,5 triliun, tumbuh 22 persen dibandingkan Rp32,5 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi profitabilitas, Bank Jago mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp86 miliar, meningkat 42 persen dibandingkan Rp60 miliar pada kuartal I-2025.

Bank Jago juga menjaga posisi permodalan tetap kuat dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) di level 29,9 persen. Sementara itu, rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) berada di level 95 persen.

“Di tengah dinamika ekonomi global dan dalam negeri, kami tetap berhati-hati untuk menjaga kinerja perusahaan tetap sehat sembari mencari peluang untuk tumbuh berkelanjutan,” kata Arief.

Bagian dari Ekosistem GoTo dan Bank Digital

Bank Jago merupakan bagian dari ekosistem digital yang terintegrasi dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. Keterkaitan ini terlihat dari kepemilikan saham oleh PT Dompet Karya Anak Bangsa, entitas yang terafiliasi dengan GoTo, dengan porsi sekitar 21,4 persen.

Sejak perubahan pemegang saham pengendali pada 2019, Bank Jago bertransformasi menjadi bank berbasis teknologi. Kolaborasi dengan ekosistem digital, termasuk layanan keuangan dalam aplikasi, menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan nasabah dan transaksi.

Model bisnis ini menempatkan Bank Jago sebagai bagian dari infrastruktur keuangan digital yang terhubung langsung dengan aktivitas harian pengguna di ekosistem teknologi.

Dari sisi struktur kepemilikan, saham Bank Jago didominasi oleh investor institusi. PT Metamorfosis Ekosistem Indonesia tercatat sebagai pemegang saham terbesar dengan porsi sekitar 29,79 persen.

Selain itu, kepemilikan signifikan juga berasal dari PT Dompet Karya Anak Bangsa sebesar 21,4 persen, serta investor global seperti Wealth Track Technology Limited dan Government of Singapore dengan porsi masing-masing sekitar 11,68 persen dan 8,28 persen.

Sementara itu, porsi saham publik atau free float berada di kisaran 27 persen. Komposisi ini menunjukkan bahwa saham Bank Jago memiliki basis investor yang cukup beragam, baik domestik maupun asing.

Dalam struktur manajemen, Bank Jago dipimpin oleh Arief Harris Tandjung sebagai Direktur Utama. Ia didampingi oleh jajaran direksi yang mencakup Supranoto, Prago Sonny Christian Joseph, Umakanth Rama Pai, serta Tjit Siat Fun.

Di tingkat pengawasan, posisi Komisaris Utama dijabat oleh Jerry Ng, dengan dukungan komisaris independen Arief T Surowidjojo dan Mahdi Syahbuddin, serta komisaris lainnya Anika Faisal.

Struktur ini mencerminkan kombinasi pengalaman di sektor perbankan dan teknologi, sejalan dengan arah transformasi Bank Jago sebagai bank digital.

Komposisi pemegang saham Bank Jago menunjukkan keterlibatan investor global dalam struktur kepemilikan. Selain institusi domestik, sejumlah entitas asing seperti Government of Singapore dan Ephesus United Corp juga tercatat sebagai pemegang saham.

Kehadiran investor asing ini menambah diversifikasi kepemilikan serta memperluas basis pendanaan perusahaan. Di sisi lain, partisipasi investor domestik tetap dominan melalui pemegang saham pengendali dan mitra strategis dalam negeri.

Dengan struktur tersebut, Bank Jago memiliki kombinasi dukungan modal dari dalam dan luar negeri yang menjadi bagian dari penguatan posisi di industri perbankan digital.

Performa Sahamnya Oke?

Pergerakan saham Bank Jago dalam jangka pendek hingga menengah menunjukkan tren yang masih berada dalam tekanan. 

Pada perdagangan terakhir, saham ARTO ditutup di level Rp1.300 atau turun 4,06 persen dalam satu hari, dengan volume transaksi sekitar 4,46 juta saham.

Dalam periode satu bulan, saham ARTO tercatat melemah 6,14 persen. Pergerakan harga sempat naik ke kisaran Rp1.400 pada pertengahan April, sebelum kembali terkoreksi menuju level Rp1.300 di akhir periode.

Secara tahun berjalan, tekanan terlihat lebih dalam. Saham ARTO telah turun sekitar 34,18 persen sejak awal tahun (year to date/ytd), mencerminkan tren koreksi yang berlangsung bertahap dalam beberapa bulan terakhir.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait