Market Hari Ini 19 Sep 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Bank Mandiri Turunkan Target Kredit dan NIM, Saham Bergerak Datar

Bank Mandiri revisi target kredit, NIM, dan biaya kredit 2025; apa artinya bagi valuasi dan prospek saham BMRI di tengah likuiditas ketat?

BMRI turunkan target kredit dan NIM 2025, strategi hati-hati jaga likuiditas. Apa dampaknya untuk valuasi saham dan prospek dividen investor?

Gedung Bank Mandiri. Foto: Dok BMRI.
Gedung Bank Mandiri. Foto: Dok BMRI.

KABARBURSA.COM - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyesuaikan panduan kinerja hingga akhir 2025 setelah merilis laporan keuangan semester I, dengan menurunkan target pertumbuhan kredit, marjin bunga (NIM), dan biaya kredit. 

Langkah ini mencerminkan sikap hati-hati manajemen dalam menjaga keseimbangan ekspansi bisnis di tengah dinamika likuiditas dan pasar.

Target pertumbuhan kredit dipangkas menjadi 8–10 persen dari proyeksi awal 10–12 persen. Alasan utamanya, Loan to Deposit Ratio (LDR) Bank Mandiri sudah berada di level 90 persen, paling tinggi di antara bank KBMI 4. Dengan begitu ruang untuk menyalurkan kredit lebih agresif relatif terbatas. 

Manajemen menegaskan fokus hanya pada sektor-sektor yang sehat dan sejalan dengan rantai pasok ekosistem bank.

Penyesuaian berikutnya adalah NIM yang kini diproyeksikan berada di kisaran 4,8–5 persen, turun dari perkiraan 5–5,2 persen. Untuk mencapainya, perseroan berupaya menjaga LDR tidak melewati 90 persen sambil mendorong pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) berbasis dana murah.

Sementara itu, proyeksi biaya kredit diturunkan menjadi 0,8–1 persen dari sebelumnya 1–1,2 persen. Optimisme ini ditopang stabilnya kualitas aset dan risiko kredit yang relatif terjaga.

Di pasar saham, BMRI bergerak stagnan di Rp4.420 pada perdagangan sesi pertama hari ini. Angka ini masih jauh dari level tertinggi setahun terakhir di Rp7.550, meski di atas titik terendah Rp4.250. 

Kapitalisasi pasar BMRI kini sekitar Rp408 triliun, dengan rasio P/E 7,33 kali, menandakan valuasi relatif murah dibandingkan potensi dividen besar, mengingat yield mencapai 10,55 persen.

Secara teknikal, harga saat ini bergerak tipis di atas level support psikologis Rp4.300–4.350. Dengan posisi fundamental yang tetap solid meski target diturunkan. Investor cenderung melihat saham BMRI sebagai peluang value play, terutama bagi mereka yang mengincar dividen stabil. 

Namun, prospek jangka pendek masih akan dipengaruhi arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, dinamika rupiah, serta ekspektasi pertumbuhan kredit di sektor riil.

Singkatnya, langkah Bank Mandiri menurunkan target bukanlah sinyal melemahnya fundamental, melainkan strategi realistis menjaga kesehatan neraca. 

Bagi investor, BMRI tetap menawarkan daya tarik lewat valuasi murah dan dividen tebal, meski upside harga jangka pendek mungkin terbatas hingga ada katalis baru yang lebih kuat.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait