Market Hari Ini 17 May 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

BBCA Sentuh Level 6.000, Simak Target Harga Para Analis

Saham PT Bank Central Asia Tbk turun lebih dari 32 persen dalam setahun hingga parkir di area 6.000-an.

BBCA turun ke level 6.000 setelah terkoreksi lebih dari 32 persen setahun. Mayoritas analis masih memberi rekomendasi buy.

Saham BBCA bergerak di area 6.000-an di tengah tekanan pasar dan aksi jual asing. (Foto: Dok. BCA)
Saham BBCA bergerak di area 6.000-an di tengah tekanan pasar dan aksi jual asing. (Foto: Dok. BCA)

Daftar Isi

  1. 01 Konsensus Analis Masih Kompak Sebut “Buy”

KABARBURSA.COM – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih bergerak di area bawah setelah terkoreksi lebih dari 30 persen dalam satu tahun terakhir. 

Pada perdagangan Selasa, 13 Mei 2026, saham BBCA ditutup di level Rp6.100 atau turun 32,22 persen secara tahunan (one year).

Secara year to date (ytd) sejak awal 2026, saham BBCA juga masih berada dalam tekanan dengan penurunan mencapai 24,46 persen atau terkoreksi 1.975 poin. 

Pergerakan tersebut membuat harga saham BBCA turun dari kisaran awal tahun di area 8.000 hingga kini bergerak di level 6.100.

Tekanan harga saham BBCA masih terlihat dalam beberapa perdagangan terakhir. 

Berdasarkan data perdagangan yang dihimpun Kabarbursa.com, saham ini turun 0,41 persen pada 13 Mei 2026 dengan nilai transaksi mencapai Rp898,1 miliar dan volume 1,47 juta lot. 

Investor asing juga masih tercatat melakukan net foreign sell sebesar Rp91,76 miliar pada perdagangan hari itu.

Manajemen BBCA dalam keterbukaan informasi sebelumnya menyampaikan fundamental bisnis perusahaan tetap berjalan normal di tengah volatilitas pasar saham. 

Hingga saat ini belum terdapat pernyataan resmi terbaru dari perseroan terkait pergerakan harga saham di pasar reguler.

Konsensus Analis Masih Kompak Sebut “Buy

Meski tekanan asing masih berlanjut, konsensus analis justru belum berubah banyak. 

Data konsensus menunjukkan sebanyak 35 analis masih memberikan rekomendasi buy terhadap saham BBCA, sementara dua analis memilih hold dan tidak ada yang memberikan rekomendasi sell.

Target harga rata-rata analis untuk BBCA juga masih berada di level Rp8.912 per saham. Angka tersebut berada sekitar 46 persen di atas posisi harga saat ini di Rp6.100. 

Adapun estimasi target tertinggi analis mencapai Rp10.900, sedangkan target terendah berada di Rp5.500.

Pergerakan saham BBCA sendiri masih berada dalam tren turun sejak awal tahun. Secara ytd hingga 13 Mei 2026, saham ini telah melemah 24,46 persen atau turun 1.975 poin dari awal tahun. 

Dalam periode tiga bulan terakhir, harga saham BBCA juga bergerak turun bertahap dari area 7.000 hingga akhirnya parkir di kisaran 6.000.

Data historis perdagangan menunjukkan tekanan asing terjadi hampir setiap hari dalam beberapa pekan terakhir. Pada 8 Mei 2026 misalnya, BBCA mencatat net foreign sell mencapai Rp34,71 miliar ketika saham ditutup di level Rp6.175. Sehari sebelumnya, arus keluar asing bahkan mencapai Rp83,12 miliar saat harga bergerak di Rp6.225.

Tekanan jual asing juga sempat membesar pada akhir April 2026. Pada perdagangan 30 April 2026, BBCA mencatat net foreign sell hingga Rp690,95 miliar dengan nilai transaksi mencapai Rp1,78 triliun. Saat itu saham ditutup di level Rp5.850.

Di tengah tekanan pasar, struktur kepemilikan saham BBCA masih didominasi PT Dwimuria Investama Andalan dengan porsi 54,94 persen atau sekitar 67,72 miliar saham. 

Sementara porsi publik nonwarkat tercatat mencapai 42,15 persen dan free float berada di level 42,45 persen.

Investor asing institusi juga masih tercatat dalam daftar pemegang saham utama BBCA. Government of Norway misalnya tercatat menggenggam sekitar 1,03 persen saham BBCA atau setara 1,26 miliar saham per 8 Mei 2026.

Secara perdagangan harian, saham BBCA pada 13 Mei bergerak di rentang Rp6.025 hingga Rp6.200 sebelum ditutup di Rp6.100. 

Frekuensi transaksi tercatat mencapai 26.545 kali dengan rata-rata harga perdagangan di level Rp6.095.

Posisi BBCA saat ini membuat saham perbankan berkapitalisasi jumbo tersebut kembali berada di area psikologis penting pasar. 

Namun hingga pertengahan Mei 2026, mayoritas analis pasar masih mempertahankan pandangan positif terhadap prospek fundamental jangka panjang emiten perbankan milik Grup Djarum tersebut.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait