Market Hari Ini 29 Sep 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

BBNI Tergerus Laba dan Sinyal Teknis Lemah: Bagaimana Strateginya?

Laba BBNI turun 10 persen YoY pada Agustus 2025, saham tertekan di level Rp4.130 dengan sinyal teknikal dominan jual. Investor diminta waspada membaca peluang jangka pendek dan valuasi jangka panjang.

Laba BBNI Agustus 2025 melemah, saham terkoreksi dan teknikal beri sinyal jual. Simak analisis kinerja, tren saham, serta rekomendasi strategi investor.

Menara BNI. Foto: Dok BBNI.
Menara BNI. Foto: Dok BBNI.

Daftar Isi

  1. 01 Saham Harian Melemah, Sinyal Teknikal Sangat Jual

KABARBURSA.COM - Pasar saham perbankan kembali diramaikan dengan laporan kinerja terbaru PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Angka-angka yang muncul dalam laporan Agustus 2025 memberi warna tersendiri.

Dalam laporan yang ditampilkan BBNI, laba bersih bank only tercatat sebesar Rp1,5 triliun, turun 10 persen dibanding periode sama tahun lalu dan melemah 11 persen secara bulanan. Penurunan ini membuat total laba bersih bank only sepanjang delapan bulan pertama 2025 hanya mencapai Rp13,4 triliun, atau terkoreksi 6 persen year-on-year. 

Bagi sebagian investor, tren ini menimbulkan kekhawatiran, terutama karena pencapaian tersebut baru setara 64 persen dari estimasi konsensus setahun penuh, lebih rendah dari capaian periode sama tahun lalu yang sudah 66 persen.

Jika ditelisik lebih dalam, pelemahan laba bersih BBNI bukan terjadi tanpa sebab. Mengutip Stockbit Sekuritas, tekanan datang dari turunnya Pre-Provision Operating Profit (PPOP) sebesar 11 persen YoY, sekaligus 8 persen MoM. 

Opex yang meningkat 6 persen YoY serta beban provisi yang naik 4 persen juga ikut mempersempit ruang pertumbuhan. Net Interest Income bahkan terkoreksi tipis 1 persen YoY, menandakan margin bunga bank masih tertahan. 

Meski begitu, pertumbuhan kredit tetap berada di jalur yang sesuai target, tumbuh 8 persen YoY hingga Agustus 2025, sejalan dengan guidance 8–10 persen yang dipasang manajemen untuk tahun ini. 

Dari sisi aset, total penyaluran kredit mencapai Rp769 triliun dengan CASA ratio di level 72,6 persen, menunjukkan likuiditas masih cukup sehat.

Saham Harian Melemah, Sinyal Teknikal Sangat Jual

Namun, cerita di lantai bursa tidak kalah menarik. Saham BBNI kini diperdagangkan di level Rp4.130, melemah 1,2 persen pada perdagangan terakhir. Tekanan jual terlihat kuat, dengan indikator teknikal secara umum mengirimkan sinyal “sangat jual”. RSI berada di level 41, menandakan momentum cenderung lemah. 

Stochastic dan Stochastic RSI bahkan sudah masuk zona oversold, menegaskan dominasi tekanan jual dalam jangka pendek. MACD dan ADX juga sejalan, memberi sinyal tren negatif yang masih solid. Moving average harian dari jangka pendek hingga panjang—MA5 hingga MA200—semuanya menunjukkan posisi jual, menambah bobot sentimen bearish pada saham ini.

Menariknya, meski mayoritas indikator teknikal condong ke arah jual, ada sedikit percikan positif dari ROC dan Ultimate Oscillator yang menunjukkan adanya peluang minat beli meski masih terbatas. 

Namun secara keseluruhan, tren teknikal harian menegaskan bahwa saham BBNI masih berada dalam tekanan, dengan support terdekat di kisaran 4.064–4.087 dan resistance yang cukup jauh di sekitar 4.200–4.227.

Kombinasi antara pelemahan laba bersih, kenaikan beban, serta sinyal teknikal yang lemah membuat saham BBNI saat ini berada di fase yang menuntut kehati-hatian. Bagi investor jangka pendek, strategi defensif menjadi pilihan utama, yaitu menghindari entry agresif sebelum ada konfirmasi pembalikan arah atau sinyal rebound yang lebih kuat. 

Sementara bagi investor jangka panjang, valuasi BBNI yang relatif murah dengan P/E ratio 7,38 kali dan dividend yield menarik di atas 9 persen bisa menjadi alasan untuk tetap menaruh perhatian, terutama jika tujuan investasi adalah akumulasi jangka panjang.

Dengan kondisi ini, saham BBNI seperti sedang berada di dua dunia, di mana fundamental masih terjaga dengan pertumbuhan kredit sejalan target, namun dibayangi laba yang tergerus dan teknikal yang memberi sinyal lemah. 

Investor dituntut untuk jeli, menimbang risiko jangka pendek sekaligus peluang jangka panjang, sebelum memutuskan langkah berikutnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait