Market Hari Ini 14 Jan 2025 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Tim Editorial

Bearish Saham Perbankan, Efek Pelantikan Trump: Brics Solusi?

Bearish Saham Perbankan, Efek Pelantikan Trump: Brics Solusi?
Bearish Saham Perbankan, Efek Pelantikan Trump: Brics Solusi?

Daftar Isi

  1. 01 Imbas Keputusan The Fed

KABARBURSA.COM - Saham-saham big banks perbankan Indonesia mengalami penurunan harga yang signifikan.

Dilansir dari laporan keuangan Stockbit pada Selasa, 14 Januari 2025 saham Bank Central Asia atau dalam kode saham BBCA melemah pada level Rp9.600, turun sebesar Rp75 atau 0,78 persen dari penutupan sebelumnya. Selain itu dan Bank Rakyat Indonesia Tbk atau dalam kode saham BBRI yang hari ini malah mengalami kenaikan sebesar Rp10 atau 0,26 persen ke level Rp3.860. Sebelumnya, saham BBRI melemah 2,39 persen ke Rp3.910.

Saham perbankan lain yang mengalami pelemahan yakni Bank Mandiri Tbk atau dalam kode saham BMRI, saham itu ditutup turun sebesar Rp75 atau 1,36 persen ke level Rp5.450. Dan saham Bank Negara Indonesia Persero Tbk atau BBNI melemah pada perdagangan hari ini. Harga saham BBNI turun sebesar Rp30 atau 0,71 persen ke level Rp4.180.

Menurut Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, penurunan harga saham ini merupakan bagian dari fenomena yang normal dalam siklus pasar. Selain itu penurunan harga saham perbankan tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tetapi merata di global.

Ibrahim mengatakan penurunan saham perbankan terjadi karena investor cenderung menunggu laporan fundamental keuangan yang lebih jelas dari perusahaan-perusahaan tersebut. Di samping itu, banyak investor yang memanfaatkan momentum untuk melakukan taking profit, mengingat harga saham sudah terlalu tinggi. "Saat harga saham sudah mencapai level tinggi, investor cenderung melakukan aksi ambil untung," kata Ibrahim kepada Kabarbursa.com pada Selasa, 14 Januari 2025.

Dia menyebut tidak hanya faktor domestik, gejolak geopolitik global turut memperburuk sentimen pasar. Seperti diketahui, ketegangan yang meningkat antara Amerika Serikat dan Rusia serta situasi politik internal AS dengan dakwaan terhadap Presiden terpilih Donald Trump turut mempengaruhi sentimen investor.

Dolar Amerika Serikat juga sempat menguat tajam akibat data ekonomi AS yang positif, terutama terkait dengan sektor tenaga kerja. Selain itu, kebijakan sanksi yang diterapkan AS terhadap Rusia, khususnya dalam hal ekspor minyak, dinilai semakin memperburuk situasi ekonomi global.

"Saham perbankan, baik di Indonesia maupun di pasar global, hampir semuanya mengalami penurunan. Ini bukan hanya terjadi di sektor perbankan Indonesia, tetapi juga di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia," ujar dia.

Kendati demikian, Ibrahim melihat bahwa sektor ini masih memiliki prospek yang cukup positif ke depan. "Meskipun ada koreksi saham, sektor perbankan masih cukup solid, apalagi dengan pemulihan ekonomi yang sedang berjalan," kata dia.

Dia melihat prospek positif perekonomian Indonesia yang siap menghadapi tantangan global. Indonesia juga telah memperkuat posisinya dengan menjadi anggota BRICS, yang diyakini dapat membantu negara menghadapi potensi perang dagang dan ketegangan ekonomi dunia.

Penurunan harga saham perbankan itu malah bisa dilihat sebagi peluang bagi para investor untuk membeli saham-saham yang turun dengan harga yang lebih murah sambil menunggu momentum pasar stabil.

Dia memprediksi ketidakpastian ini masih akan membayangi pasar beberapa waktu ke depan, terutama hingga pelantikan Trump menjadi Presiden Amerika Serikat pada 20 Januari 2025.

Imbas Keputusan The Fed

Saham-sahan perbankan dinilai masih akan terkena sentimen negatif dalam beberapa hari terakhir. Hal ini tidak lepas dari kondisi global, terutama bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).

Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada mengatakan saat ini para pelaku pasar masih ingin mencermati seperti apa imbas dari keputusan the fed terhadap tingkat suku bunganya.

“Itu yang mungkin membuat pelaku pasar bahwa potensi terjadinya peningkatan laju kredit   masih terbatas,” ujar dia kepada Kabarbursa.com dikutip, Selasa, 14 Januari 2025.

Reza menjelaskan, pendapatan perbankan  mayoritas dihasilkan dari peningkatan laju kredit. Sehingga dengan kondisi seperti ini, kata dia, saham perbankan masih belum dilirik para pelaku pasar.

“Karena peningkatan laju kreditnya masih terbatas, pelaku pasar juga mungkin masih tidak terlalu banyak dalam melakukan pembelian di saham-saham perbankan,” pungkasnya.

Meski terdapat sentimen negatif, Reliance Sekuritas dalam risetnya pada Selasa, 14 Januari 2024, menyampaikan terdapat satu saham perbankan yang direkomendasikan yaitu Bank Syariah Indonesia (BRIS).

Berikut detail riset Reliance Sekuritas terkait saham BRIS:

BRIS – Buy

▪︎ Harga berhasil menembus MA5.

▪︎ Candle terakhir berbentuk white spinning top, yang mengartikan saham ini berpeluang besar melanjutkan kenaikannya.

▪︎ Stochastic golden cross.

Entry          : 2,670 – 2,720

Resistance : 2,840 – 2,950

Support      : 2,560

Target        : 3,200

Stoploss      : 2,550 (*)

Disclaimer: Artikel ini bukan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Segala rekomendasi dan analisis saham berasal dari analis dari sekuritas yang bersangkutan, sehingga KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan investor. Pelajari dengan teliti sebelum membeli/menjual saham.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait