Market Hari Ini 29 Oct 2025 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Uslimin Usle

BEI luncurkan 3 Indeks Baru November: Investasi Pasif dan Eksposur Global

Peluncuran ini merupakan langkah konkret BEI dalam memperkaya ekosistem indeks di Indonesia

Bursa Efek Indonesia (BEI) bersiap meluncurkan tiga indeks baru hasil kerja sama dengan S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) pada 3 November 2025

Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com
Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI) bersiap meluncurkan tiga indeks baru hasil kerja sama dengan S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) pada 3 November 2025. Langkah ini menjadi bagian dari strategi BEI untuk memperkuat daya saing pasar modal Indonesia di tingkat global sekaligus memperluas pilihan instrumen investasi pasif bagi investor.

Ketiga indeks baru tersebut adalah S&P/IDX Indonesia ESG Tilted Opportunity, S&P/IDX Indonesia Dividend Opportunities, dan S&P/IDX Indonesia Shariah High Dividend. Masing-masing dirancang untuk menangkap tema investasi yang tengah berkembang di pasar global seperti keberlanjutan (ESG), strategi dividen tinggi, dan kepatuhan terhadap prinsip syariah.

Kepala Divisi Pengembangan Bisnis 2 BEI, Ignatius Denny Wicaksono, menjelaskan bahwa peluncuran ini merupakan langkah konkret BEI dalam memperkaya ekosistem indeks di Indonesia dan memperkuat posisi pasar modal nasional di kancah internasional.

“Dengan kerja sama ini, kami ingin membuka akses lebih luas bagi investor global untuk mengenal dan berinvestasi pada saham-saham unggulan Indonesia,” ujar Denny dalam acara edukasi wartawan secara daring pada Selasa, 28 Oktober 2025.

Indeks S&P/IDX Indonesia ESG Tilted Opportunity selesai pada 6 Oktober 2025. Indeks ini bertujuan memberikan eksposur lebih besar kepada perusahaan dengan skor ESG tinggi berdasarkan metodologi S&P Global, dengan mekanisme pembobotan khusus agar emiten berperforma ESG baik memiliki porsi lebih besar dalam indeks.

Selanjutnya, S&P/IDX Indonesia Dividend Opportunities juga selesai pada 20 Oktober 2025, mencakup 30 saham dengan imbal hasil dividen tertinggi dari kelompok saham berkapitalisasi besar dan menengah. Indeks ini dirancang untuk menjadi acuan investor yang mencari stabilitas pendapatan dividen dan kinerja fundamental yang sehat.

Indeks ketiga, S&P/IDX Indonesia Shariah High Dividend, selesai  pada 24 Oktober 2025. Indeks ini berisi 30 saham syariah dengan imbal hasil dividen tertinggi, diseleksi dari daftar saham yang memenuhi kriteria Jakarta Islamic Index (JII) dan Indonesia Sharia Stock Index (ISSI).

Denny menambahkan, ketiga indeks tersebut akan menjalani evaluasi dan penyeimbangan (rebalancing) secara berkala agar tetap mencerminkan kondisi pasar terkini. “Evaluasi dilakukan secara tahunan dan triwulanan tergantung karakteristik indeksnya, dengan mempertimbangkan likuiditas, kapitalisasi pasar, dan fundamental perusahaan,” jelasnya.

BEI juga menegaskan bahwa kerja sama dengan S&P Dow Jones Indices tidak hanya sebatas penerbitan indeks co-branding, tetapi juga mencakup kolaborasi pemasaran global. Melalui jaringan S&P, indeks BEI akan diperkenalkan kepada manajer investasi dan pengelola dana di luar negeri, sehingga meningkatkan eksposur saham-saham emiten Indonesia di pasar internasional.

Selain meluncurkan indeks baru, BEI tengah menyiapkan langkah strategis untuk menyelaraskan bisnis indeks dengan Prinsip IOSCO for Financial Benchmark, yang merupakan standar global dalam tata kelola dan transparansi indeks keuangan. Tiga indeks utama BEI — IDX80, LQ45, dan IDX30 — menjadi prioritas dalam penyelarasan ini, dengan target penerbitan deklarasi kepatuhan pada kuartal IV 2025.

Langkah tersebut diyakini akan memperkuat kredibilitas dan kepercayaan investor terhadap indeks BEI serta membuka peluang lisensi indeks yang lebih luas di pasar internasional.

“Ini bukan sekadar peluncuran indeks baru, tapi bagian dari transformasi menyeluruh agar indeks BEI dapat menjadi benchmark global yang kredibel,” tutur Denny.

Hingga September 2025, BEI telah memiliki 45 indeks yang menjadi acuan bagi 74 produk investasi pasif seperti reksa dana dan ETF dengan total dana kelolaan mencapai Rp16,4 triliun. Porsi produk investasi pasif kini mencapai 20,1 persen dari total nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana, naik signifikan dari hanya 1,4 persen pada 2016.

Dengan peluncuran tiga indeks baru tersebut, BEI berharap dapat memperluas pilihan investasi bagi investor ritel maupun institusi serta mendorong pertumbuhan investasi pasif yang berkelanjutan di Indonesia.

“Indeks yang kredibel dan relevan akan menjadi fondasi penting untuk memperkuat pasar modal kita. Ke depan, BEI akan terus memperluas kerja sama dan inovasi agar indeks Indonesia semakin dikenal di tingkat global,” kata Denny.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait