Market Hari Ini 16 Nov 2025 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Yunila Wati

BEI Matangkan Pipeline 2026, Tiga Emiten Siap Menyusul

Penghimpunan dana IPO naik sekitar 70 persen meski jumlah pencatatan menurun secara global.

BEI mencatat kenaikan dana IPO hingga 70 persen dan masih memiliki 13 perusahaan dalam pipeline menuju 2026.

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) saat menggelar konferensi pers di Jakarta, Senin, 11 Agustus 2025. (Foto: KabarBursa/Hutama Prayoga)
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) saat menggelar konferensi pers di Jakarta, Senin, 11 Agustus 2025. (Foto: KabarBursa/Hutama Prayoga)

KABARBURSA.COM – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkap perkembangan pipeline pencatatan saham menjelang akhir 2025. 

Hingga pertengahan November, sudah ada 24 emiten yang melantai, sementara terdapat 13 perusahaan dalam pipeline yang masih berpotensi mencatatkan saham hingga 2026.

Direktur Penilaian BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyampaikan bahwa meskipun jumlah IPO tahun ini turun secara global, penghimpunan dana di Indonesia justru meningkat sekitar 70 persen. 

Rata-rata dana yang dihimpun per IPO mencapai 680 juta hingga 700 juta dolar, jauh lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Jumlahnya memang menurun, tapi dana yang dihimpun naik signifikan. Ini tren global," kata Nyoman di Ubud, Bali dikutip Minggu,16 November 2025.

Menurutnya, capaian total penghimpunan dana seluruh instrumen pasar modal sudah melewati 150 persen dari target Rp430 triliun. 

Sementara sektor IPO saham masih memiliki ruang untuk diselesaikan hingga tahun berjalan.

BEI juga menegaskan bahwa seluruh target untuk program Lighthouse IPO tahun 2025 telah tercapai. 

Lima perusahaan telah listing, sementara tiga perusahaan tambahan berada dalam pipeline dan berpotensi listing sebelum akhir tahun jika proses finalisasi selesai. 

Untuk 2026, target internal BEI adalah enam perusahaan kategori lighthouse, dengan kombinasi sektor besar dan konglomerasi.

"Pipelines kami matang. Ada tiga perusahaan yang secara waktu masih memungkinkan masuk tahun ini," ujar Nyoman.

Ia menjelaskan bahwa dari 13 perusahaan pipeline saat ini, sebagian besar berada pada fase pengurusan laporan keuangan dan menunggu penyelesaian administratif. 

Perusahaan yang mampu mempercepat proses dapat mencatatkan saham sebelum pergantian tahun, sementara sisanya akan bergeser ke 2026.

Nyoman juga menekankan bahwa strategi BEI tidak hanya berfokus pada jumlah IPO, tetapi pada kualitas penghimpunan dana, diversifikasi sektor, dan pendalaman pasar melalui instrumen lain. 

Dengan demikian, pencapaian pasar modal dinilai harus dilihat secara holistik, tidak hanya dari jumlah emiten baru.

"Target kami itu total instrumen, bukan hanya saham. Dan secara keseluruhan target sudah terlampaui," ujarnya. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait