KABARBURSA.COM - PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR), PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA), dan PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) akan memasuki masa cum date dividen tunai, Rabu, 24 Juni 2026.
Di atas kertas, BSSR tampil sebagai bintang utama. Emiten batu bara ini menawarkan dividen sebesar Rp486,13 per saham. Dengan harga saham terakhir di level Rp4.550, dividend yield yang ditawarkan mencapai sekitar 10,68 persen. Angka tersebut jauh di atas rata-rata deposito maupun sebagian besar emiten di Bursa Efek Indonesia.
Namun, jangan dulu tergoda. Dalam dunia pasar modal, ada istilah dividend trap, yaitu kondisi ketika investor membeli saham hanya demi mengejar dividen besar, tetapi kemudian mengalami kerugian akibat harga saham turun lebih dalam setelah memasuki ex-date.
BSSR memiliki semua karakteristik yang berpotensi memunculkan fenomena tersebut.
Dividend yield dua digit biasanya mengundang masuknya banyak investor jangka pendek atau dividend hunter. Mereka membeli saham menjelang cum date untuk mengamankan hak dividen, lalu menjual kembali saham tersebut setelah ex-date. Ketika aksi jual terjadi secara bersamaan, harga saham sering kali mengalami tekanan signifikan.
Secara teori, harga saham pada hari ex-date memang akan disesuaikan sebesar nilai dividen yang dibagikan. Namun dalam praktiknya, tekanan jual dapat membuat penurunan harga lebih besar daripada nilai dividen itu sendiri.
Artinya, investor yang membeli BSSR hanya beberapa hari sebelum cum date berisiko menerima dividen Rp486 per saham, tetapi menghadapi potensi penurunan harga yang nilainya sama atau bahkan lebih besar. Jika hal itu terjadi, keuntungan dividen menjadi tidak lagi menarik karena tertutup oleh capital loss.
PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS)
Risiko serupa juga mengintai saham DMAS.
Emiten pengembang kawasan industri Kota Deltamas tersebut membagikan dividen Rp16,50 per saham. Dengan harga saham sekitar Rp155, dividend yield DMAS mencapai sekitar 10,65 persen, hampir identik dengan BSSR.
Yield dua digit pada saham properti dan kawasan industri memang tergolong sangat menarik. Namun seperti BSSR, angka tersebut juga berpotensi mengundang aksi spekulatif jangka pendek.
Perbedaannya, tekanan dividend trap pada DMAS cenderung sedikit lebih ringan dibandingkan BSSR. Hal ini karena karakter investor DMAS relatif lebih banyak berasal dari kalangan investor dividen jangka panjang yang sudah mengenal reputasi perusahaan sebagai pembagi dividen rutin.
Meski demikian, risiko tetap ada. Setelah hak dividen diamankan, sebagian investor berpotensi melakukan profit taking sehingga harga saham dapat mengalami koreksi dalam beberapa hari setelah ex-date.
Karena itu, bagi investor yang masuk hanya untuk mengejar dividen sesaat, DMAS tetap menyimpan risiko yang perlu diperhitungkan.
PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA)
Di antara ketiga saham tersebut, SONA justru menjadi kasus yang paling menarik.
Secara nominal, dividen yang dibagikan hanya Rp52,83 per saham. Dengan harga saham sekitar Rp2.300, dividend yield yang dihasilkan hanya sekitar 2,3 persen.
Jika melihat angka tersebut semata, SONA jelas kalah menarik dibandingkan BSSR maupun DMAS.
Namun justru karena yield-nya rendah, risiko dividend trap menjadi jauh lebih kecil.
Tidak banyak investor yang membeli saham SONA hanya demi mengejar dividen 2 persen. Akibatnya, potensi aksi jual massal setelah ex-date juga relatif terbatas.
Lebih dari itu, saat ini SONA memiliki faktor pelindung tambahan yang tidak dimiliki dua emiten lainnya. Pengendali baru perusahaan sedang menjalankan mandatory tender offer pada harga Rp2.284 per saham yang berlangsung hingga 22 Juli 2026.
Kehadiran tender offer tersebut menciptakan semacam jangkar harga di pasar. Investor mengetahui bahwa terdapat pihak yang bersedia membeli saham pada harga tertentu sehingga tekanan penurunan harga menjadi lebih terbatas.
Kondisi ini membuat SONA relatif lebih stabil dibandingkan BSSR maupun DMAS meskipun yield dividennya jauh lebih kecil.
Jika ketiga saham tersebut disusun berdasarkan potensi dividend trap, maka BSSR berada di posisi teratas.
Yield yang sangat tinggi, karakter investor yang banyak dihuni pemburu dividen, serta sensitivitas sektor batu bara terhadap sentimen pasar membuat saham ini memiliki risiko koreksi terbesar setelah ex-date.
Posisi berikutnya ditempati DMAS. Yield yang hampir sama tinggi dengan BSSR membuat potensi tekanan jual tetap ada, meskipun karakter pemegang sahamnya cenderung lebih stabil.
Sementara itu, SONA menjadi saham dengan risiko dividend trap paling rendah karena kombinasi dividend yield yang kecil dan adanya sentimen mandatory tender offer yang menjaga harga pasar.
Pada akhirnya, investor perlu memahami bahwa dividen besar tidak selalu identik dengan keuntungan besar. Banyak investor pemula hanya melihat nominal dividen tanpa menghitung kemungkinan penurunan harga saham setelah ex-date.
Padahal yang terpenting bukan hanya berapa dividen yang diterima, melainkan berapa total keuntungan yang tersisa setelah memperhitungkan pergerakan harga saham.
Karena itu, jika tujuan investasi hanya untuk berburu dividen jangka pendek, BSSR dan DMAS layak dicermati dengan sangat hati-hati. Sebaliknya, bagi investor yang memang memiliki pandangan jangka panjang terhadap bisnis perusahaan, koreksi pasca ex-date justru bisa menjadi peluang untuk menambah posisi di harga yang lebih menarik.
Di pasar modal, dividen memang menyenangkan. Namun mengejar dividen tanpa memahami risiko di baliknya sering kali membuat investor terjebak dalam apa yang dikenal sebagai dividend trap.(*)
SEO Description (maks. 160 karakter):
SEO Keywords: