KABARBURSA.COM - PT Colorpak Indonesia Tbk (CLPI) akan memasuki masa cum date dividen tunai. CLPI berencana membagikan dividen jumbo sebesar Rp170,51 per saham.
Angka tersebut terlihat sangat menarik. Dengan harga saham CLPI yang ditutup di Rp1.710 pada 24 Juni 2026, dividend yield yang ditawarkan mencapai hampir 10 persen.
Investor yang baru melihat angka yield bisa langsung tergoda membeli saham menjelang cum date. Logikanya sederhana. Membeli saham hari ini, mendapatkan dividen hampir 10 persen beberapa minggu kemudian, lalu menjual saham setelahnya.
Tapi, praktinya tidak sesederhana itu. Sejarah Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa saham dengan dividend yield tinggi hampir selalu mengalami penyesuaian harga pada ex date. Ex date CLPI jatuh pada 26 Juni 2026, sehari setelah cum date.
Secara teori, harga saham akan terkoreksi sebesar nilai dividen yang dibagikan. Dengan dividen Rp170,51 per saham, harga teoritis setelah ex date berada di sekitar Rp1.539. Angka tersebut tentu bukan patokan mutlak, karena pergerakan harga juga dipengaruhi sentimen pasar dan kekuatan permintaan serta penawaran.
Likuiditas Rendah
Masalahnya, saham seperti CLPI memiliki karakteristik yang berbeda dibanding saham-saham berkapitalisasi besar. Likuiditas CLPI tergolong rendah.
Pada perdagangan terakhir, nilai transaksi hanya sekitar Rp608 juta dengan frekuensi transaksi 375 kali dan volume sekitar 3.550 lot. Angka ini sangat kecil dibanding saham-saham unggulan di papan utama.
Likuiditas yang terbatas membuat pergerakan harga CLPI sering kali lebih ekstrem dibanding saham besar. Ketika banyak investor mengejar dividen secara bersamaan, harga dapat naik tajam menjelang cum date. Sebaliknya, ketika investor yang sama beramai-ramai keluar setelah ex date, harga juga bisa turun lebih dalam dari nilai dividennya.
Inilah yang disebut pasar sebagai dividend trap.
Dividend trap terjadi ketika investor membeli saham hanya demi mengejar dividen, tetapi penurunan harga saham setelah ex date justru lebih besar daripada dividen yang diterima. Pada akhirnya investor memperoleh dividen tunai, tetapi nilai portofolionya turun lebih besar karena capital loss.
Risiko tersebut nyata pada CLPI. Namun menariknya, CLPI bukan termasuk kategori perusahaan yang membagikan dividen secara agresif dengan mengorbankan kesehatan keuangan. Justru sebaliknya.
Fundamental Solid
Fundamental perusahaan saat ini berada dalam kondisi yang sangat baik.
Sepanjang tahun buku 2025, CLPI membukukan penjualan Rp979,33 miliar atau tumbuh 7,16 persen dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan tidak hanya terjadi pada pendapatan, tetapi juga laba. Laba bersih melonjak menjadi Rp68,18 miliar, naik sekitar 20,7 persen dibandingkan tahun 2024.
Pertumbuhan laba yang lebih tinggi dibanding pertumbuhan penjualan menunjukkan bahwa perusahaan berhasil meningkatkan efisiensi operasionalnya. Laba usaha naik menjadi Rp78,16 miliar dari sebelumnya Rp62,29 miliar, sementara laba bruto meningkat menjadi Rp136,76 miliar.
Neraca perusahaan juga menarik. Per Maret 2026, CLPI memiliki kas dan setara kas sebesar Rp233,4 miliar. Jumlah tersebut hampir setengah dari kapitalisasi pasarnya yang berada di kisaran Rp523,8 miliar.

Dengan rasio utang terhadap ekuitas yang hanya sekitar 11,66 persen, CLPI praktis masuk kategori net cash company. Artinya, perusahaan memiliki posisi keuangan yang jauh lebih kuat dibanding banyak emiten lain yang harus menghadapi tekanan utang dan biaya bunga tinggi.
Valuasi Masih Murah
Dari sisi valuasi, saham ini juga masih terlihat murah. Dengan EPS sekitar Rp224,75 per saham dan harga Rp1.710, PER CLPI hanya sekitar 7,6 kali. Sementara PBV berada di level 0,81 kali, yang berarti saham masih diperdagangkan di bawah nilai buku perusahaan.
Kombinasi PER rendah, PBV di bawah satu kali, posisi net cash, dan dividend yield hampir 10 persen merupakan kombinasi yang jarang ditemukan di pasar saat ini.
Jadi, jika bicara soal penyesuaian harga, hampir pasti akan ada. Namun, apakah harga tersebut mampu pulih Kembali?
Jika investor membeli hanya untuk mengejar dividen jangka pendek, risikonya cukup besar. Namun bagi investor yang memang sudah mengincar CLPI karena valuasinya murah dan fundamentalnya sehat, koreksi setelah ex date justru bisa menjadi kesempatan menarik untuk menambah posisi.(*)
SEO Description
SEO Keywords