KABARBURSA.COM – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penjualan eceran mulai melambat pada April 2026 setelah momentum Ramadan dan Idulfitri berlalu.
Dalam Survei Penjualan Eceran (SPE) terbaru, Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2026 diprakirakan berada di level 231 atau turun 10 persen secara bulanan (month to month/mtm) dibanding Maret 2026 yang mencapai 256,7.
Perlambatan tersebut disebut dipengaruhi normalisasi permintaan masyarakat pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Meski begitu, penjualan secara tahunan masih tumbuh, terutama pada kelompok suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta subkelompok sandang.
Di pasar saham, perubahan ritme belanja masyarakat itu mulai tercermin dari indikator efisiensi dan perputaran bisnis sejumlah emiten consumer.
Data kuartal I 2026 dari lima emiten besar, yakni AMRT, MIDI, ICBP, MYOR, dan UNVR menunjukkan pola yang berbeda-beda dalam menghadapi fase normalisasi konsumsi.
Yang pertama ialah PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) masih menunjukkan pergerakan konsumsi harian yang relatif kuat. Pada kuartal I 2026, days inventory AMRT turun menjadi 44,99 hari dari 47,76 hari pada kuartal IV 2025.
Penurunan tersebut mengindikasikan perputaran barang di jaringan minimarket masih berjalan cepat.
Cash conversion cycle (CCC) AMRT juga membaik menjadi 2,75 hari dibanding 5,95 hari pada kuartal sebelumnya. Sementara receivables turnover naik menjadi 11,26 kali dari 10,38 kali.
Data tersebut menunjukkan arus kas operasional dan rotasi distribusi masih cukup sehat di tengah mulai melandainya konsumsi pasca-Lebaran.
Pola serupa juga mulai terlihat pada PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), meski dengan tanda-tanda normalisasi yang lebih jelas. Days inventory MIDI turun menjadi 57,88 hari dibanding 64,13 hari pada kuartal sebelumnya, sementara CCC membaik menjadi 13,91 hari dari sebelumnya 19,38 hari.
Namun di sisi lain, working capital turnover MIDI turun tajam menjadi 22,71 kali dibanding 254,51 kali pada kuartal IV 2025. Kondisi itu mengindikasikan aktivitas penjualan masih berjalan, tetapi tidak seagresif momentum akhir tahun dan periode Ramadan sebelumnya.
Untuk kelompok kebutuhan pokok, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) masih menunjukkan karakter defensif. Inventory turnover tahunan ICBP naik menjadi 6,12 kali dibanding 6,33 kali pada akhir 2025, sementara days inventory turun menjadi 52,24 hari dari 57,44 hari.
Meski CCC ICBP masih berada di level tinggi sebesar 68,90 hari, angkanya sudah membaik dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai 77,01 hari. Kondisi ini menunjukkan konsumsi produk makanan pokok masih relatif stabil meski laju belanja masyarakat mulai menurun.
Sementara itu, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) justru menunjukkan perbaikan efisiensi distribusi yang cukup signifikan. Days sales outstanding UNVR turun tajam menjadi 20,35 hari dibanding 40,59 hari pada kuartal IV 2025. Penurunan ini menandakan penagihan kepada distributor berlangsung lebih cepat.
Days inventory UNVR juga turun menjadi 49,28 hari dari sebelumnya 85,19 hari. Bahkan CCC tetap berada di area negatif, yakni minus 34,20 hari.
Angka tersebut menunjukkan posisi kas operasional UNVR masih sangat efisien karena penerimaan kas lebih cepat dibanding kewajiban pembayarannya.
Di sisi lain, sinyal perlambatan mulai terlihat lebih nyata pada PT Mayora Indah Tbk (MYOR). Days sales outstanding MYOR naik menjadi 78,13 hari dibanding 63,20 hari pada kuartal sebelumnya. Artinya, proses penagihan piutang berjalan lebih lambat.
Days inventory MYOR juga naik menjadi 72,72 hari dibanding 70,09 hari pada kuartal IV 2025. Sementara cash conversion cycle meningkat menjadi 119,65 hari dari sebelumnya 108,11 hari. Kenaikan ini menunjukkan modal kerja MYOR membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali menjadi kas.
Selain itu, receivables turnover MYOR turun menjadi 1,16 kali dibanding 1,44 kali pada kuartal sebelumnya. Pola tersebut memperlihatkan distribusi produk discretionary seperti makanan ringan dan minuman mulai menghadapi perlambatan rotasi dibanding periode puncak konsumsi sebelumnya.
Perbedaan pola di lima emiten tersebut menunjukkan perlambatan konsumsi pasca-Lebaran tidak terjadi secara merata.
Konsumsi kebutuhan dasar dan belanja harian masih relatif bertahan, sementara produk discretionary mulai menunjukkan tanda normalisasi lebih cepat.
Data tersebut sekaligus memberi gambaran bahwa daya beli masyarakat belum mengalami tekanan ekstrem. Namun setelah lonjakan konsumsi selama Ramadan dan Idulfitri, masyarakat mulai kembali selektif dalam mengatur pola belanja harian mereka.(*)