Market Hari Ini 08 Feb 2024 Penulis: KabarBursa.com Editor: Tim Editorial

BI: Perekonomian Global 2024 Akan Trending Down

BI: Perekonomian Global 2024 Akan Trending Down
BI: Perekonomian Global 2024 Akan Trending Down

KABARBURSA.COM - BI menyebut bahwa kondisi perekonomian global pada tahun 2024, terlihat masih dihadapkan pada tantangan yang signifikan. Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, menggarisbawahi bahwa Indonesia tetap terpaut erat dengan dinamika ekonomi global.

Menurutnya, ada beberapa aspek yang patut diperhatikan dalam konteks perekonomian global. Pertama-tama, ketegangan geopolitik yang belum mereda, bahkan menyebar ke berbagai belahan dunia.

Ia menyoroti tidak hanya konflik di antara Rusia dan Ukraina, atau antara Israel dan Palestina, melainkan juga ketegangan di Laut Merah yang menghambat kelancaran distribusi barang di wilayah ASEAN.

"Dalam kondisi normal, arus barang dari Eropa ke Asia akan langsung melalui Laut Merah atau Terusan Suez, namun kini harus mengalami rute alternatif karena gejolak di Yaman. Akibatnya, waktu yang diperlukan untuk pengiriman barang meningkat sekitar 10-14 hari," ujar Destry saat berbicara dalam acara Economic Outlook 2024, di Jakarta, pada hari Rabu, 7 Februari.

Kedua, Destry mengamati adanya kecenderungan perlambatan pertumbuhan ekonomi global, meskipun fenomena ini terjadi secara tidak seragam.

"Ini akan berdampak pada tahun 2024, di mana kami memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global akan mengalami penurunan," katanya.

Ketiga, Destry menyoroti proses disinflasi yang berlangsung secara bertahap. Meskipun inflasi di negara-negara maju menunjukkan penurunan, namun penurunan tersebut berlangsung lambat.

"Kondisi ini menyebabkan disinflasi terjadi secara bertahap, sehingga kita menghadapi lingkungan di mana tingkat suku bunga cenderung tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Kami memperkirakan suku bunga global, seperti Fed Fund Rate, akan mengalami penurunan pada semester kedua tahun ini," jelas Destry.

Ia menambahkan, tingkat inflasi yang masih tinggi di Amerika Serikat (AS) menyebabkan suku bunga Federal Reserve tetap tinggi. Akibatnya, imbal hasil (yield) obligasi AS tetap berada pada level yang tinggi.

"Sehingga saat ini, yield obligasi pemerintah AS dengan tenor 10 tahun kembali mencapai level di atas 4 persen," tambahnya.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
KA
KabarBursa.pro Editorial Team

KabarBursa.com

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait