KABARBURSA.COM – Sepekan pergerakan saham big banks memperlihatkan saham Bank Central Asia (BBCA) melakukan akumulasi asing yang cukup signifikan. Sementara, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI) mulai kehilangan tenaga setelah reli yang sempat terjadi di awal pekan.
Data perdagangan memperlihatkan bahwa BBCA menjadi saham dengan performa paling konsisten sekaligus paling diminati investor asing.
Pada 15 Juni 2026, BBCA ditutup di level 6.275 atau melonjak 5,91 persen dengan nilai transaksi mencapai Rp3,01 triliun. Asing melakukan pembelian sebesar Rp1,84 triliun dan penjualan Rp1,64 triliun sehingga menghasilkan net foreign buy Rp203,68 miliar.
Momentum tersebut berlanjut pada 17 Juni ketika harga bertahan di level 6.275. Meskipun tidak mengalami perubahan harga, aktivitas asing justru semakin agresif dengan nilai beli mencapai Rp2,19 triliun dan menghasilkan net foreign buy Rp375,29 miliar.
Sempat terkoreksi pada 18 Juni menjadi 6.075 atau turun 3,19 persen, tekanan jual asing relatif terbatas dengan net sell hanya Rp51,94 miliar.
Yang menarik terjadi pada 19 Juni. BBCA kembali bangkit dan naik 3,70 persen ke level 6.300 dengan nilai transaksi Rp2,29 triliun. Investor asing kembali melakukan akumulasi besar dengan pembelian Rp1,95 triliun dan penjualan Rp1,63 triliun sehingga mencatatkan net foreign buy Rp317,19 miliar.
Jika dijumlahkan, selama empat hari perdagangan tersebut BBCA membukukan akumulasi net foreign buy sekitar Rp844 miliar. Angka tersebut menjadikan BBCA sebagai saham perbankan yang paling konsisten dikoleksi investor asing dalam sepekan terakhir.
BBRI Dibuang Asing Rp274 Miliar
Pada 15 Juni, BBRI masih mampu naik 4,91 persen ke level 2.990 walaupun asing sudah mulai mencatatkan net sell Rp35,31 miliar. Momentum sempat membaik pada 17 Juni ketika saham naik menjadi 3.080 dan investor asing kembali melakukan net buy sebesar Rp456,08 miliar.
Namun optimisme itu tidak bertahan lama. Tanggal 18 Juni harga turun 3,90 persen menjadi 2.960 disertai net foreign sell yang sangat besar mencapai Rp557,26 miliar. Tekanan berlanjut pada 19 Juni ketika saham kembali melemah menjadi 2.930 atau turun 1,01 persen dengan net foreign sell Rp137,10 miliar.

Jika dihitung secara kumulatif, dalam empat hari perdagangan terakhir BBRI justru mengalami net foreign sell sekitar Rp274 miliar. Kondisi ini menunjukkan bahwa investor asing mulai melakukan profit taking setelah reli yang terjadi sebelumnya.
BMRI Bukukan Net Buy Rp327 Miliar
Situasi BMRI bahkan terlihat lebih menantang. Bank Mandiri sempat menjadi bintang pada 15 Juni setelah melonjak 7,14 persen ke level 4.500 dengan dukungan net foreign buy mencapai Rp543,09 miliar.
Namun setelah itu momentumnya terus melemah. Pada 17 Juni saham turun tipis ke 4.490 dengan net foreign sell Rp8,10 miliar. Tanggal 18 Juni koreksi berlanjut ke 4.470, meskipun asing masih mencatatkan net buy Rp106,91 miliar.
Puncak tekanan terjadi pada 19 Juni ketika BMRI turun 3,58 persen menjadi 4.310 dengan net foreign sell sangat besar mencapai Rp314,74 miliar.
Secara akumulatif, BMRI masih membukukan net foreign buy sekitar Rp327 miliar selama empat hari perdagangan. Namun sebagian besar angka tersebut berasal dari lonjakan pembelian pada 15 Juni, sementara dua hari terakhir justru menunjukkan perubahan arah menjadi distribusi.
BBCA Paling Defensif
Jika ketiga saham dibandingkan secara langsung, BBCA terlihat paling defensif.
Selain mampu kembali ditutup di level tertinggi mingguan 6.300, saham ini juga terus menarik minat investor asing bahkan ketika pasar mengalami koreksi.
BBRI justru menjadi saham dengan tekanan asing terbesar setelah kehilangan lebih dari Rp694 miliar net foreign flow hanya dalam dua hari terakhir.
Sementara BMRI masih berada di posisi tengah. Saham ini memang masih mempertahankan akumulasi asing secara mingguan, tetapi perubahan arus dana pada hari terakhir menunjukkan investor mulai mengurangi eksposur.
Perbedaan tersebut memperlihatkan perubahan preferensi investor institusi.
Ketika ketidakpastian pasar masih tinggi, investor cenderung mencari emiten dengan kualitas laba yang lebih stabil dan likuiditas tinggi. BBCA kembali menjadi pilihan utama karena dianggap memiliki profil risiko yang lebih defensif dibandingkan bank besar lainnya.
Di sisi lain, BBRI dan BMRI masih menghadapi tekanan karena investor melakukan rotasi portofolio dan mengambil keuntungan setelah reli yang cukup tajam beberapa hari sebelumnya.
Apabila tren foreign flow ini terus berlanjut, BBCA memiliki peluang terbesar untuk mempertahankan momentum kenaikan dan kembali menguji area resistance berikutnya.
BBRI membutuhkan kembalinya akumulasi asing untuk menghentikan tekanan jual, sedangkan BMRI memerlukan konfirmasi bahwa distribusi pada dua hari terakhir hanya bersifat sementara.
Dalam jangka pendek, pertarungan big bank tidak lagi hanya ditentukan oleh fundamental yang sama-sama kuat, tetapi juga oleh arah arus dana asing. Dari data sepekan terakhir, BBCA berhasil memenangkan pertarungan tersebut dengan kombinasi kenaikan harga yang konsisten, nilai transaksi yang tinggi, dan akumulasi asing yang paling solid dibandingkan dua pesaing utamanya.(*)