Market Hari Ini 09 Feb 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Bisnis Emas BRIS Dongkrak Kinerja Keuangan, Saham Mulai Pulih

Pertumbuhan laba BRIS ditopang bisnis emas yang agresif, sementara pergerakan saham mulai menunjukkan pemulihan setelah tekanan panjang sepanjang 2025.

Bisnis emas mendorong laba BRIS tumbuh 8 persen pada 2025. Saham BRIS mulai pulih ke 2.410 meski tren jangka menengah masih konsolidasi.

Bisnis gadai emas milik BRIS menjadi faktor pembeda paling menonjol dalam struktur pendapatan. Foto: Dok KabarBursa.
Bisnis gadai emas milik BRIS menjadi faktor pembeda paling menonjol dalam struktur pendapatan. Foto: Dok KabarBursa.

Daftar Isi

  1. 01 Bisnis Gadai Emas Paling Menonjol
  2. 02 Dampak Banjir Aceh
  3. 03 Harga Mulai pulih

KABARBURSA.COM - Kinerja PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) sepanjang 2025 memperlihatkan pola pertumbuhan yang terukur dan konsisten. Laba bersih tercatat mencapai Rp7,6 triliun atau tumbuh 8 persen secara tahunan. 

Capaian ini sejalan dengan ekspektasi pasar karena setara dengan 100 persen estimasi konsensus 2025F. Artinya, pertumbuhan BRIS berada dalam koridor yang sudah diantisipasi pelaku pasar sejak awal tahun.

Pada kuartal keempat 2025, BRIS membukukan laba bersih Rp2 triliun, naik 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan meningkat 9 persen secara kuartalan. Stabilitas laba ini terjadi di tengah dinamika biaya risiko yang sempat meningkat akibat faktor non-struktural, yakni bencana banjir di Aceh pada akhir November 2025. 

Secara operasional, kinerja inti bank tetap menunjukkan penguatan. Hal ini tercermin dari pertumbuhan pendapatan operasional sebelum provisi yang ditopang oleh dua mesin utama, yakni Fee Based Income dan Net Margin Income.

Bisnis Gadai Emas Paling Menonjol

Bisnis emas menjadi faktor pembeda paling menonjol dalam struktur pendapatan BRIS sepanjang 2025. Pendapatan dari gadai emas dan transaksi emas digital melonjak 77 persen secara tahunan dan menyumbang sekitar 24 persen dari total Fee Based Income

Dampak langsungnya terlihat pada perbaikan struktur pendanaan. Rasio dana murah atau CASA meningkat menjadi 62 persen per Desember 2025, naik dari 59 persen pada September 2025 dan lebih tinggi dibandingkan posisi akhir 2024 yang berada di level 60 persen. 

Seiring dengan perbaikan CASA, Cost of Fund turun signifikan menjadi 2,2 persen secara month to date pada Desember 2025, dari 2,6 persen pada September dan 2,7 persen pada Juni 2025. Penurunan biaya dana ini berperan penting dalam menjaga Net Imbalan tetap stabil di kisaran 5,6 hingga 5,7 persen sepanjang 2025, meskipun financing yield tercatat turun 23 basis poin pada periode yang sama akibat lingkungan imbal hasil yang rendah.

Dari sisi pembiayaan, portofolio emas BRIS juga menunjukkan akselerasi yang solid. Pembiayaan emas tumbuh 79 persen secara tahunan dan 22 persen secara kuartalan per Desember 2025, sehingga kontribusinya terhadap total pembiayaan meningkat menjadi 7,2 persen, dari 4,6 persen pada akhir 2024.

Dalam jangka menengah, manajemen menargetkan porsi pembiayaan emas dapat mencapai 15 hingga 20 persen dari total portofolio, yang mengindikasikan bahwa segmen ini akan terus menjadi motor pertumbuhan struktural BRIS.

Dampak Banjir Aceh

Di sisi kualitas aset, kenaikan beban provisi sebesar 24 persen secara tahunan selama 2025 terutama dipicu oleh pencadangan tambahan terkait nasabah terdampak banjir di Aceh, dengan nilai sekitar Rp366 miliar. 

Jika faktor ini dikecualikan, kenaikan provisi hanya sekitar 5 persen secara tahunan, mencerminkan bahwa risiko kredit inti relatif terkendali. Financing at Risk sempat naik menjadi 9,2 persen per Desember 2025 dari 6,7 persen sebelum banjir, sejalan dengan eksposur BRIS di wilayah terdampak yang mencapai sekitar 3 persen dari total pembiayaan.

Meski demikian, indikator kualitas aset jangka menengah masih menunjukkan perbaikan. NPF Gross turun ke level 1,8 persen, terendah setidaknya sejak 2021, menegaskan bahwa portofolio pembiayaan BRIS secara struktural semakin sehat. 

NPF Coverage juga tetap solid di atas 190 persen, memberikan bantalan yang cukup terhadap potensi risiko lanjutan. Sementara itu, beban provisi secara kuartalan justru turun 8 persen pada 4Q25, meskipun FAR Coverage menurun menjadi 37 persen akibat lonjakan FAR pascabanjir.

Harga Mulai pulih

Jika dilihat dari pergerakan sahamnya, pasar memberikan respons positif, di mana saham BRIS hingga pukul 11.30 WIB, diperdagangkan di level 2.410, menguat 30 poin atau 1,26 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di 2.380. 

Secara intraday, harga sempat mengalami tekanan di awal sesi dengan penurunan hingga menyentuh level terendah 2.330, sebelum arah pergerakan berbalik naik dan membentuk tren penguatan bertahap menuju siang hari.

Struktur intraday menunjukkan pola pemulihan yang cukup rapi. Setelah tekanan jual awal mereda, minat beli muncul konsisten membawa harga kembali ke atas 2.380, lalu bertahan di atas area tersebut hingga mendekati level tertinggi harian di 2.420. 

Pergerakan ini mengindikasikan bahwa area 2.380 kini berfungsi sebagai titik keseimbangan baru sekaligus penopang jangka sangat pendek. Selama harga mampu bertahan di atas level tersebut, bias pergerakan intraday BRIS cenderung stabil dengan kecenderungan menguat terbatas. 

Sementara itu, area 2.420 menjadi zona uji terdekat yang menentukan apakah penguatan hari ini mampu berlanjut atau kembali tertahan oleh aksi ambil untung jangka pendek.

Jika ditarik ke perspektif yang lebih panjang, pergerakan year to date BRIS masih berada dalam fase pemulihan setelah tekanan yang cukup panjang sepanjang 2025. Dalam rentang satu tahun terakhir, harga BRIS turun sekitar 20,98 persen atau terkoreksi 640 poin dari level di atas 3.000. 

Grafik satu tahun memperlihatkan tren menurun yang relatif konsisten sejak pertengahan 2025, dengan tekanan jual semakin kuat pada kuartal IV hingga awal 2026, sebelum harga membentuk dasar di area 2.100 pada akhir Januari 2026.

Rebound dari area 2.100 menuju kisaran 2.400 saat ini menunjukkan adanya upaya pembentukan base baru. Kenaikan ini terjadi setelah fase distribusi panjang, sehingga secara struktur harga masih dapat dikategorikan sebagai pemulihan awal, bukan pembalikan tren jangka menengah yang sepenuhnya terkonfirmasi. 

Area 2.500 hingga 2.600 pada grafik tahunan terlihat sebagai zona pasokan yang cukup tebal, mengingat sebelumnya menjadi area konsolidasi panjang sebelum breakdown pada paruh kedua 2025. Selama BRIS belum mampu kembali menembus dan bertahan di atas zona tersebut, tren year to date masih cenderung sideways dengan bias melemah secara historis.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait