KABARBURSA.COM – Bitcoin memang belum jatuh, tetapi pasar mulai melihat bahwa ada reli yang tidak sekuat sebelumnya. Harga logam kripto ini masih mampu bertahan di atas area USD79.000, daya dorongnya tidak seagresif beberapa pekan sebelumnya.
Sejauh ini memang belum ada tanda kepanikan besar. Namun di balik itu, pelaku memperhatikan munculnya diskon harga Bitcoin di Coinbase dibanding bursa global berbasis stablecoin seperti Binance, OKX, dan Bybit.
Dalam sepekan terakhir, pasangan BTC/USD di Coinbase diperdagangkan sekitar 0,03 persen lebih rendah dibanding harga BTC/USDT di sejumlah bursa internasional. Padahal pada April lalu, Coinbase justru sempat mencatat premi sekitar 0,04 persen.
Perubahan arah ini memunculkan pertanyaan. Selama ini, premi Coinbase sering dianggap sebagai indikator masuknya permintaan institusi Amerika Serikat ke Bitcoin. Ketika premi menghilang dan berubah menjadi diskon, sebagian pelaku pasar mulai membaca adanya perlambatan minat beli dari investor besar.
Namun cerita di balik pergerakannya tidak sesederhana itu. Tekanan justru datang dari pasar stablecoin yang mulai menunjukkan tanda-tanda keluarnya dana dari ekosistem kripto.
Dalam perdagangan berbasis Yuan China, stablecoin dolar AS bahkan diperdagangkan dengan diskon sekitar 0,6 persen dibanding kurs resmi. Kondisi ini biasanya muncul ketika investor mulai menukar aset kripto kembali menjadi uang tunai atau keluar dari pasar digital.
Situasi tersebut ikut membuat harga Bitcoin di bursa berbasis dolar terlihat lebih murah dibanding platform berbasis stablecoin. Jadi, diskon Coinbase bukan semata soal investor institusi pergi meninggalkan Bitcoin, tetapi juga dipengaruhi perubahan permintaan stablecoin di pasar global.
Di sisi lain, aliran dana di Coinbase juga belum menunjukkan tekanan jual besar-besaran. Data Glassnode memperlihatkan rata-rata setoran bersih Bitcoin ke Coinbase hanya sekitar USD58 juta per hari, angka yang masih tergolong moderat untuk ukuran pasar kripto saat ini.
Namun sentimen pasar mulai melemah setelah Bitcoin beberapa kali gagal menembus area resistance USD82.000. Kegagalan breakout itu muncul bersamaan dengan arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat yang sejak 7 Mei tercatat mencapai USD1,26 miliar.
Kondisi tersebut membuat pasar bergerak lebih hati-hati. Investor mulai mengurangi agresivitas sambil menunggu arah baru, terutama setelah reli Bitcoin dalam beberapa bulan terakhir bergerak sangat cepat.
Meski begitu, Bitcoin sejauh ini masih menunjukkan daya tahan yang relatif kuat. Koreksi sekitar 5 persen dari puncak USD82.840 pada 6 Mei belum dianggap sebagai sinyal perubahan tren besar.
Bahkan perusahaan seperti Strategy milik Michael Saylor masih terus menambah eksposur Bitcoin di tengah pasar yang mulai bergerak ragu-ragu. Karena itu, sebagian pelaku pasar menilai peluang Bitcoin kembali turun ke area USD76.000 dalam waktu dekat masih relatif kecil selama tekanan jual besar belum benar-benar muncul di pasar spot.(*)