KABARBURSA.COM – Kinerja keuangan PT Blue Bird Tbk (BIRD) mulai kehilangan tenaga. Pendapatan di kuartal I 2026 memang masih tumbuh dua digit, tetapi tekanan biaya operasional dan lonjakan depresiasi mulai memakan margin laba perusahaan taksi terbesar di Indonesia itu.
Pada kuartal I 2026, BIRD membukukan laba bersih Rp156 miliar atau turun 6 persen secara tahunan. Angka ini juga berada di bawah ekspektasi pasar karena baru setara sekitar 21 persen dari estimasi laba bersih konsensus sepanjang 2026.
Penurunan laba tersebut muncul ketika operasional perusahaan mulai mengalami tekanan cukup terasa. Laba usaha turun menjadi Rp152 miliar atau melemah 10 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Margin laba usaha juga ikut turun ke level 10 persen dari sebelumnya 13 persen pada kuartal I 2025. Kondisi tersebut menunjukkan pertumbuhan bisnis BIRD mulai tertahan oleh kenaikan biaya yang bergerak lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan.
Pendapatan perusahaan sebenarnya masih tumbuh cukup solid. Pada kuartal I 2026, pendapatan BIRD mencapai Rp1,45 triliun atau naik 12 persen secara tahunan.
Pertumbuhan itu ditopang hampir seluruh lini bisnis. Segmen taksi tumbuh 12 persen secara tahunan, sementara segmen non-taksi juga naik 11 persen.
Namun di balik pertumbuhan tersebut, struktur biaya mulai berubah cukup agresif. Beban pokok pendapatan naik 15 persen secara tahunan dan beban operasional meningkat 13 persen. Kenaikan ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan pendapatan.
Tekanan terbesar datang dari biaya depresiasi yang melonjak sekitar 31 persen secara tahunan. Lonjakan depresiasi tersebut bahkan sudah berlangsung selama tiga kuartal terakhir, sejak kuartal III 2025 hingga kuartal I 2026.
Pasar mulai membaca situasi ini sebagai tanda adanya accelerated depreciation atau percepatan penyusutan aset armada. Biasanya kondisi seperti ini terjadi ketika perusahaan mempercepat pembaruan armada, menyesuaikan umur ekonomis kendaraan, atau melakukan strategi efisiensi jangka panjang.
Selain depresiasi, kenaikan biaya pendukung operasional juga ikut membesar hingga 21 persen secara tahunan. Akibatnya, margin laba kotor turun ke level 31 persen dari sebelumnya 32,8 persen pada kuartal I 2025.
Tekanan lain datang dari sisi pembiayaan. Beban keuangan BIRD melonjak 75 persen menjadi Rp23 miliar dibanding Rp13 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Meski masih relatif terkendali, kenaikan bunga dan pembiayaan armada mulai ikut memengaruhi bottom line perusahaan.
Stockbit Sekuritas menilai secara keseluruhan kinerja BIRD pada kuartal I 2026 tergolong relatif lemah. Selain tekanan depresiasi, pasar juga mulai mencermati potensi kenaikan harga BBM di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah yang dapat kembali menekan margin operasional perusahaan transportasi.
Di tengah situasi tersebut, BIRD juga mulai bersiap menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Berdasarkan pengumuman resmi perusahaan, RUPS akan dilaksanakan pada Kamis, 18 Juni 2026 di Gedung Bluebird, Jakarta Selatan.
Perseroan akan melakukan pemanggilan rapat pada 26 Mei 2026 melalui situs Bursa Efek Indonesia, KSEI, dan situs resmi perusahaan. Pemegang saham yang berhak hadir adalah investor yang tercatat dalam daftar pemegang saham per 25 Mei 2026 pukul 16.00 WIB.
Dalam pengumuman tersebut, BIRD juga mendorong penggunaan fasilitas eASY.KSEI untuk pemberian kuasa elektronik atau e-proxy menjelang pelaksanaan rapat.
Pasar kini mulai menunggu arah strategi Blue Bird setelah kinerja awal tahun yang mulai kehilangan momentum. Selama beberapa tahun terakhir, BIRD sempat menikmati fase pemulihan mobilitas pascapandemi yang cukup kuat. Namun memasuki 2026, tantangannya mulai berubah.
Kini pasar tidak lagi hanya melihat pertumbuhan pendapatan, tetapi juga kemampuan perusahaan menjaga efisiensi armada, menekan biaya operasional, dan mempertahankan margin di tengah risiko kenaikan BBM serta biaya pembiayaan yang makin mahal.
Di titik inilah cerita BIRD mulai bergeser. Bukan lagi sekadar soal pemulihan mobilitas masyarakat, tetapi tentang bagaimana perusahaan menjaga profitabilitas ketika biaya operasional mulai bergerak lebih cepat dibanding pertumbuhan bisnisnya.(*)