KABARBURSA.COM – Setelah beberapa waktu bergerak di bawah tekanan, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mulai bangkit. Dalam dua hari berturut-turut, BMRI berada di zona hijau dengan kenaikan signifikan. Bahkan pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026, kenaikannya mencapai lebih dari 10 persen.
Pada perdagangan sesi berjalan Rabu, 10 Juni 2026, saham bank pelat merah ini ditutup sementara di level 4.160 atau naik 70 poin setara 1,71 persen dari penutupan sebelumnya. Bahkan pada running trade, harga sempat berada di level 4.150 atau menguat sekitar 1,47 persen.
Kenaikan tersebut memang belum terlalu spektakuler jika dibandingkan dengan beberapa saham perbankan lain yang melonjak lebih tinggi. Namun yang menarik, penguatan ini terjadi ketika sebagian besar indikator teknikal mulai beralih dari dominasi sinyal jual menjadi netral hingga beli.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan, apakah BMRI sedang memulai fase rebound yang lebih panjang, dan seberapa realistis target konsensus analis di level Rp5.735 dapat tercapai?
Jawabannya menarik. Dari sisi fundamental, optimisme terhadap BMRI masih sangat tinggi. Sebanyak 39 analis yang memantau saham ini memberikan rekomendasi yang sangat positif. Sebanyak 30 analis memberikan rating Buy, enam analis memilih Hold, dan hanya tiga analis yang memberikan rekomendasi Sell.
Konsensus tersebut menghasilkan target harga rata-rata sebesar Rp5.735 per saham. Target tertinggi bahkan mencapai Rp7.250, sementara target terendah berada di Rp3.600. J
ika menggunakan harga saat ini di kisaran Rp4.150 hingga Rp4.160, maka target konsensus memberikan potensi kenaikan sekitar 38 persen. Sementara, target optimistis membuka ruang apresiasi lebih dari 70 persen.
Meski demikian, target konsensus merupakan proyeksi jangka menengah hingga panjang yang didasarkan pada fundamental perusahaan, bukan target yang harus dicapai dalam hitungan hari. Untuk melihat peluang dalam satu hingga dua hari perdagangan ke depan, pendekatan teknikal menjadi lebih relevan.
Dari sisi indikator teknikal harian, kondisi BMRI mulai menunjukkan perubahan yang cukup signifikan dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.
Ringkasan indikator memberikan status "Beli" dengan komposisi empat indikator memberikan sinyal beli, lima indikator netral, dan hanya satu indikator yang masih memberikan sinyal jual. Artinya, keseimbangan mulai bergeser dari dominasi tekanan jual menuju fase akumulasi.
RSI (14) berada di level 48,344. Posisi ini masih berada di area netral dan belum memasuki kondisi overbought. Hal tersebut memberikan ruang bagi harga untuk melanjutkan kenaikan tanpa dibayangi tekanan jual berlebihan.
Stochastic (9,6) berada di level 50,843 yang juga masih netral, sementara Stochastic RSI berada di level 100 dengan status beli berlebih. Kondisi ini menunjukkan momentum jangka pendek memang sudah cukup kuat, tetapi sekaligus membuka peluang munculnya profit taking ringan apabila harga kembali melonjak tajam.
MACD (12,26) masih berada pada level minus 128,796 dan menjadi satu-satunya indikator yang memberikan sinyal jual. Artinya, tren bearish jangka menengah memang belum sepenuhnya berakhir meskipun momentum kenaikan mulai terbentuk.
Sementara itu ADX (14) berada di level 43,741 yang menunjukkan tren yang sedang berlangsung memiliki kekuatan cukup tinggi. Williams %R berada di level minus 20 dengan status beli, CCI (14) berada di level 46,0507 atau netral, sedangkan indikator Highs/Lows (14) berada di level positif 4,2857 yang memberikan sinyal beli.
ATR (14) tercatat sebesar 171,4286 yang mengindikasikan volatilitas BMRI masih cukup tinggi. Dengan volatilitas seperti ini, pergerakan harga dalam rentang 100 hingga 170 poin dalam satu hari masih tergolong wajar.
Jika melihat Moving Average, gambaran yang muncul juga semakin menarik. BMRI sudah berhasil berada di atas MA5 sebesar 3.956, MA10 sebesar 4.043, dan MA20 sebesar 4.158 yang semuanya memberikan sinyal beli.
Namun tantangan masih terlihat pada rata-rata pergerakan yang lebih panjang. MA50 berada di level 4.435, MA100 di level 4.707, dan MA200 di level 4.688 yang seluruhnya masih memberikan sinyal jual. Artinya, BMRI memang sedang membangun tren pemulihan, tetapi belum sepenuhnya mengubah tren jangka menengah menjadi bullish.
Dari sisi pivot point, posisi BMRI juga cukup menarik. Pivot klasik berada di level 3.943, sedangkan harga saat ini sudah bergerak di atas level tersebut sehingga kecenderungan jangka pendek masih berpihak kepada pembeli.
Resistance pertama berada di level 4.236. Jika level ini berhasil ditembus, peluang menuju resistance kedua di 4.383 menjadi semakin terbuka. Bahkan resistance ketiga berada di level 4.676 yang hampir sejajar dengan MA200, sehingga area tersebut akan menjadi ujian penting bagi kelanjutan rebound.
Support terdekat berada di level 3.796, sedangkan support Fibonacci berada di 3.775. Selama harga mampu bertahan di atas area 4.050 hingga 4.100, struktur rebound masih dapat dikatakan terjaga.
Melihat kombinasi seluruh indikator tersebut, peluang BMRI melanjutkan rebound dalam satu hingga dua hari perdagangan ke depan masih terbuka. Momentum penguatan IHSG, rotasi dana ke sektor perbankan, serta dominasi sinyal beli pada indikator harian menjadi modal positif bagi pergerakan saham ini.
Namun, kenaikan kemungkinan masih bersifat bertahap. Area 4.230 hingga 4.380 berpotensi menjadi zona profit taking jangka pendek karena bertepatan dengan resistance teknikal yang cukup kuat. Selama area tersebut belum ditembus secara meyakinkan, pergerakan BMRI diperkirakan lebih banyak bergerak dalam pola rebound teknikal daripada membentuk tren bullish baru.
Dengan demikian, target konsensus analis di level Rp5.735 masih sangat mungkin dicapai, tetapi lebih realistis dipandang sebagai target jangka menengah hingga panjang.
Untuk satu hingga dua hari ke depan, fokus pelaku pasar sebaiknya tertuju pada kemampuan BMRI mempertahankan area 4.100 dan menembus resistance 4.236 sebagai konfirmasi bahwa momentum rebound benar-benar mulai terbentuk.(*)