Market Hari Ini 08 Jul 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

BRMS Bidik Lonjakan Produksi Emas Poboya di 2028

BRMS pacu ekspansi tambang bawah tanah di Poboya untuk tingkatkan produksi emas hingga 3 kali lipat pada 2028, didukung kinerja keuangan kuat di awal 2025.

BRMS siapkan tambang bawah tanah di Poboya. Target produksi emas 2028 melonjak, sejalan lonjakan laba dan pendapatan kuartal I 2025.

Ilustrasi tambang milik PT Bumi Resources Minerals Tbk. (Foto: Dok Perusahaan)
Ilustrasi tambang milik PT Bumi Resources Minerals Tbk. (Foto: Dok Perusahaan)

Daftar Isi

  1. 01 Laba dan Pendapatan BRMS Melejit di Awal 2025, Sinyal Kuat Akselerasi Bisnis

KABARBURSA.COM - PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) tengah menyiapkan lompatan strategis dalam bisnis emasnya. 

Setelah bertahun-tahun mengeksplorasi dan memproduksi dari tambang terbuka di Poboya, Palu, perusahaan kini bersiap melakukan pergeseran besar. Mulai akhir 2027 atau awal 2028, BRMS akan memulai operasi tambang bawah tanah di Blok 1 Poboya.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Tambang terbuka yang selama ini menjadi andalan BRMS memiliki kadar bijih emas yang relatif rendah, sekitar 1,5 gram per ton. 

Sementara itu, survei internal menunjukkan bahwa lapisan bijih di bawah permukaan mengandung kadar yang jauh lebih tinggi, berkisar antara 3,5 hingga 4,9 gram per ton. Artinya, BRMS akan mengakses emas yang lebih kaya dan berpotensi meningkatkan efisiensi sekaligus menurunkan biaya per ons produksi.

Perusahaan memperkirakan bahwa transisi ini akan berdampak langsung terhadap volume produksi. Jika pada 2025 BRMS menargetkan produksi emas di kisaran 70.000 hingga 75.000 ons, maka saat tambang bawah tanah mulai beroperasi penuh pada 2028, jumlah itu bisa meningkat dua hingga tiga kali lipat. 

Dengan kata lain, BRMS membidik kapasitas produksi tahunan hingga 225.000 ons—sebuah lonjakan signifikan dalam waktu relatif singkat.

Rencana ini menjadi sinyal jelas bahwa BRMS tidak lagi bermain di liga yang sama. Dengan mengakses bijih berkualitas tinggi, margin keuntungan bisa terdongkrak, dan posisi perusahaan sebagai produsen emas nasional bisa semakin menguat. 

Tidak menutup kemungkinan, langkah ini juga akan membuka peluang peningkatan valuasi saham, seiring dengan kenaikan ekspektasi pasar terhadap prospek jangka menengah perusahaan.

Namun perlu dicatat, transisi ke tambang bawah tanah bukan pekerjaan ringan. Perusahaan akan menghadapi tantangan besar, mulai dari kebutuhan investasi infrastruktur dan teknologi yang jauh lebih kompleks, hingga kesiapan sumber daya manusia dan manajemen risiko yang lebih ketat, terutama dari sisi keselamatan kerja.

Meski demikian, langkah ini memberi gambaran jelas bahwa BRMS mulai menatap fase pertumbuhan baru. Jika semua berjalan sesuai rencana, perusahaan yang dulunya dipandang sebagai pemain menengah ini bisa menjelma menjadi salah satu penentu peta industri emas di Asia Tenggara.

Waktu akan membuktikan apakah strategi ini mampu terealisasi penuh. Tapi satu hal pasti, bagi pelaku pasar yang mencermati sektor tambang, BRMS kini tengah memasuki masa transisi penting yang layak dikawal dengan saksama.

Laba dan Pendapatan BRMS Melejit di Awal 2025, Sinyal Kuat Akselerasi Bisnis

Sementara, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) membuka tahun 2025 dengan kinerja yang tak bisa diabaikan. Dalam laporan keuangan kuartal I, perusahaan mencatat lonjakan pendapatan yang signifikan, mencapai Rp1,036 triliun, naik tajam dari Rp851 miliar di kuartal sebelumnya. 

Jika dibandingkan dengan kuartal I tahun lalu, lonjakan ini bahkan hampir tiga kali lipat, menandakan percepatan pertumbuhan yang mulai berakar kuat.

Pertumbuhan pendapatan ini juga tercermin dalam perbaikan di hampir seluruh lini keuangan. Laba kotor tercatat naik ke Rp591 miliar, mengindikasikan efisiensi biaya yang semakin terjaga di tengah peningkatan aktivitas produksi. 

Sementara itu, laba usaha juga naik signifikan menjadi Rp451 miliar, memperkuat posisi operasional perusahaan yang kini makin solid.

Namun angka yang paling menyita perhatian datang dari laba bersih. BRMS mencatatkan laba sebesar Rp243 miliar, melonjak lebih dari tiga kali lipat dibanding kuartal I 2024. 

Ini merupakan pencapaian tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, dan berdampak langsung pada peningkatan laba per saham (EPS) yang kini mencapai Rp1,67, dari sebelumnya hanya Rp0,40.

Secara fundamental, peningkatan kinerja ini juga berdampak pada rasio profitabilitas perusahaan. Return on Assets (ROA) naik menjadi 1,23 persen, sementara Return on Equity (ROE) berada di angka 1,18 persen. 

Angka ini mencerminkan bahwa pertumbuhan BRMS tak hanya agresif, tapi juga mulai berbuah manis dalam efisiensi penggunaan aset dan modal.

Selain itu, EBITDA BRMS yang menyentuh Rp512 miliar menjadi indikator penting bahwa arus kas dari aktivitas inti perusahaan berada dalam posisi yang sangat sehat. Ini memberi ruang lebih luas bagi BRMS untuk menjaga kelangsungan ekspansi tanpa terlalu bergantung pada utang atau pembiayaan eksternal jangka pendek.

Kinerja positif ini juga menjadi landasan penting dalam menyambut rencana strategis jangka menengah perusahaan, peralihan dari tambang terbuka ke tambang bawah tanah di Poboya, Palu. 

Proyek ini ditargetkan aktif pada 2028, dengan proyeksi produksi yang bisa meningkat hingga dua hingga tiga kali lipat dari target produksi emas tahun 2025. 

Dengan kadar bijih yang lebih tinggi dan model operasi yang lebih efisien, BRMS tampaknya tengah menyiapkan loncatan menuju skala produksi yang lebih besar.

Jika kinerja seperti ini bisa dipertahankan atau bahkan ditingkatkan, bukan tak mungkin pasar akan mulai menempatkan BRMS dalam jajaran pemain utama di industri pertambangan emas nasional. 

Tahun 2025 mungkin akan dikenang sebagai titik awal babak baru BRMS, bukan lagi perusahaan tambang yang berkembang, tapi yang mulai memimpin.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait