Market Hari Ini 04 Aug 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

BRMS Bidik Lonjakan Produksi Emas, Strategi ini Dianggap Paling Tepat

BRMS bersiap melipatgandakan produksi emas lewat tambang bawah tanah Poboya, didukung cadangan panjang, proyek strategis, dan target efisiensi biaya.

BRMS targetkan lonjakan produksi emas, proyek bawah tanah Poboya jadi andalan, efisiensi biaya dan ekspansi proyek strategis dukung kinerja.

Ilustrasi tambang milik PT Bumi Resources Minerals Tbk. (Foto: Dok Perusahaan)
Ilustrasi tambang milik PT Bumi Resources Minerals Tbk. (Foto: Dok Perusahaan)

Daftar Isi

  1. 01 Kehilangan Aset Senilai USD14 Juta
  2. 02 Prospek Emas Tetap Positif, Targetnya?

KABARBURSA.COM – Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) kini berada di fase penting yang bisa menentukan arah bisnisnya dalam jangka panjang. Sumber utama pendapatan perusahaan masih berasal dari tambang emas Citra Palu Mineral (CPM) yang saat ini mengoperasikan dua pabrik CIL berkapasitas 500 tpd dan 4.000 tpd. 

Tambahan satu fasilitas baru berbasis teknologi Heap Leach (HL) yang sudah 80 persen rampung dijadwalkan mulai beroperasi pada 2025. Meski tingkat perolehan emasnya hanya sekitar 65 persen dibanding 93 persen pada pabrik CIL, HL akan menambah kapasitas dan memberi fleksibilitas dalam mengolah bijih berkadar rendah.

Kinerja paruh pertama 2025 cukup solid. Produksi emas meningkat menjadi 38 ribu ons dari 26 ribu ons di periode yang sama tahun lalu, didorong kenaikan kadar bijih dari 1,3 g/t menjadi 1,5 g/t.

Produksi perak juga naik menjadi sekitar 100 ribu ons, walau kontribusinya terhadap pendapatan masih terbatas karena harga yang jauh lebih rendah dibanding emas. 

Di sisi pengembangan, proyek tambang bawah tanah di Poboya berjalan cepat. Portal sudah selesai, terowongan sudah menembus lebih dari 200 meter, dan kadar bijih yang ditargetkan mencapai 4,9 g/t, jauh di atas kadar saat ini. 

Proyek ini diperkirakan mulai menghasilkan pada 2027–2028 dan berpotensi melipatgandakan produksi 2,5 hingga 3 kali lipat.

Cadangan CPM yang cukup untuk 20 tahun operasi memberikan kepastian pasokan jangka panjang. Meski pada kuartal kedua kadar bijih sedikit turun akibat kegiatan pushback untuk mengakses lapisan ore yang lebih dalam, manajemen optimistis biaya tunai yang sempat naik ke USD1.400–1.500 per ons akan kembali normal di kisaran USD1.300 pada kuartal IV.

Kehilangan Aset Senilai USD14 Juta

Secara keuangan, semester pertama 2025 mencatat penghapusan aset senilai USD14 juta, terutama dari pembatalan proyek bauksit yang hasil pengeborannya kurang memuaskan, serta penggantian komponen pabrik CIL lama. 

Meski angkanya besar di laporan, penghapusan ini tidak mempengaruhi arus kas dan justru membuat neraca lebih bersih untuk ekspansi berikutnya.

Dari sisi pipeline, Gorontalo Mineral menjadi proyek andalan berikutnya. Dengan luas area 25 ribu hektare dan izin produksi hingga 2052, area ini menyimpan potensi tembaga-emas yang besar. 

Saat ini, pengeboran sedang dilakukan untuk sertifikasi cadangan, dan pabrik emas skala kecil direncanakan beroperasi pada akhir 2026 untuk mulai menghasilkan arus kas awal sebelum pembangunan pabrik tembaga utama. 

Proyek lain seperti Hexa Banten, Linge di Aceh, dan Dairi Prima yang kaya seng juga memberi diversifikasi tambahan, walaupun sebagian masih menunggu perizinan atau berada di tahap awal pengembangan.

Prospek Emas Tetap Positif, Targetnya?

Manajemen memandang prospek harga emas tetap positif, terutama dengan ketegangan perdagangan global yang mendorong minat terhadap aset lindung nilai. Seluruh penjualan emas dilakukan di dalam negeri, sehingga tidak terdampak kebijakan ekspor atau bea keluar. 

Target jangka menengahnya adalah menurunkan biaya produksi ke USD1.000–1.200 per ons pada 2028, seiring ramp-up tambang bawah tanah. Jika rencana ini tercapai, margin akan melebar dan peluang membagikan dividen pada 2029–2030 menjadi lebih terbuka, bahkan bisa lebih cepat jika ada langkah korporasi strategis.

Dengan kombinasi cadangan yang panjang umur, pipeline proyek yang jelas, dan rencana efisiensi biaya, analis KBVS Research Laurencia Hiemas, menilai BRMS sedang membangun fondasi untuk lonjakan kapasitas dan profitabilitas di masa depan. 

Jika semua berjalan sesuai rencana, pasar bisa melihat perusahaan ini tidak lagi hanya sebagai penambang emas biasa, tetapi sebagai pemain yang siap masuk ke liga pertumbuhan besar.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait