Market Hari Ini 05 May 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

BRMS Masih Layak Beli? Dua Sekuritas Kasih Target ini

Dua riset besar kompak beri rekomendasi beli, di tengah transisi tambang bawah tanah dan lonjakan proyeksi laba.

UOB dan Ajaib kompak beri target BRMS Rp1.300–1.330. Simak proyeksi laba, tambang bawah tanah, dan arah bisnisnya.

UOB KayHian dan Ajaib Sekuritas melihat BRMS masih layak untuk dikoleksi dan memberikan target 1,300-1.330. (Foto: dok Bumi Resources Minerals)
UOB KayHian dan Ajaib Sekuritas melihat BRMS masih layak untuk dikoleksi dan memberikan target 1,300-1.330. (Foto: dok Bumi Resources Minerals)

Daftar Isi

  1. 01 Proyeksi UOB KayHian
  2. 02 Rekomendasi Ajaib

KABARBURSA.COM – Kinerja PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mendapat perhatian khusus dari dua sekuritas. Di balik bisnis yang sedang berjalan, pasar mulai menilai ulang prospek emiten tambang ini.

UOB Kay Hian melihat, BRMS sedang memasuki fase yang disebut sebagai “era high-grade”. Saat ini, BRMS sedang bertumpu pada transisi operasional dari tambang terbuka menuju tambang bawah tanah di Poboya. 

Proyek ini bukan sekadar ekspansi biasa. Pengembangan tambang bawah tanah tersebut sudah mencapai lebih dari 800 meter. Targetnya produksinya adalah pada pertengahan 2027, dengan kontribusi awal bijih berkadar lebih tinggi mulai masuk sejak akhir 2026. 

Perbedaan kadar ini menjadi titik krusial. Saat ini, kadar emas BRMS berada di kisaran 1,3–1,5 gram per ton, sementara dari tambang bawah tanah diproyeksikan naik ke sekitar 2 gram per ton pada fase awal, bahkan berpotensi lebih tinggi dalam jangka panjang. 

Di saat yang sama, kapasitas pengolahan juga sedang diperbesar. Pabrik carbon-in-leach (CIL) pertama tengah ditingkatkan dari 500 menjadi 2.000 ton per hari dan sudah mencapai progres sekitar 80 persen, dengan target selesai pada kuartal IV 2026. 

Namun, ada konsekuensi jangka pendek yang ikut menyertai. Selama proses peningkatan kapasitas ini, operasional pabrik akan mengalami jeda sementara. Hal ini akan berpotensi menekan produksi dalam waktu dekat sebelum kapasitas baru benar-benar beroperasi penuh.

Proyeksi UOB KayHian

Dari sisi angka, UOB Kay Hian memproyeksikan lonjakan kinerja yang cukup agresif. Laba bersih 2026 diperkirakan mencapai USD94 juta atau tumbuh sekitar 86,8 persen secara tahunan. Perkiraan ini didorong kombinasi volume penjualan, harga emas, dan perubahan struktur operasi. 

Proyeksi jangka panjangnya bahkan lebih besar. Produksi emas diperkirakan bisa mencapai 246 ribu ons pada 2030, seiring ramp-up tambang bawah tanah dan ekspansi kapasitas pengolahan. 

Dengan dasar itu, UOB mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp1.330, yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 63 persen dari harga saat ini. 

Sementara itu, Ajaib Sekuritas membaca cerita yang sama dari sudut yang sedikit berbeda. Mereka menyoroti transisi menuju tambang bawah tanah sebagai faktor utama yang mulai memberikan visibilitas pertumbuhan yang lebih jelas. 

Ajaib mencatat bahwa aset utama BRMS, yakni Citra Palu Mineral (CPM), terus menunjukkan progres, baik dari sisi pengembangan tambang bawah tanah maupun ekspansi fasilitas pengolahan. 

Selain itu, mereka juga menyoroti proyek heap leach yang sudah selesai secara konstruksi dan tengah memasuki tahap dry run. Fasilitas ini akan digunakan untuk mengolah bijih berkadar rendah, memperpanjang umur tambang meskipun dengan tingkat pemulihan yang lebih rendah dibanding metode CIL. 

Di luar itu, pipeline pertumbuhan juga diperkuat oleh proyek Gorontalo yang ditargetkan merilis sumber daya berbasis standar JORC pada paruh pertama 2027. 

Dari sisi pendanaan, Ajaib mencatat adanya fasilitas pembiayaan sebesar USD625 juta yang dialokasikan untuk ekspansi CIL, pengembangan tambang bawah tanah, eksplorasi, hingga potensi akuisisi. 

Meski begitu, tekanan jangka pendek tetap diakui. Margin diperkirakan tertekan akibat aktivitas pushback dan kenaikan royalti dari 10 persen menjadi 16 persen, yang mendorong kenaikan biaya produksi dalam waktu dekat. 

Namun, tekanan tersebut diproyeksikan bersifat sementara. Seiring berjalannya transisi ke tambang bawah tanah, biaya diperkirakan turun ke kisaran USD1.300–1.400 per ons dari sebelumnya USD1.600–1.700 per ons. 

Ajaib juga menyoroti bahwa kinerja 2025 menjadi fondasi penting. Pendapatan naik 53,6 persen dan laba bersih melonjak lebih dari dua kali lipat, mencerminkan kemampuan eksekusi yang mulai terbukti di lapangan. 

Rekomendasi Ajaib

Dengan dasar tersebut, Ajaib mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp1.300, atau potensi kenaikan sekitar 58,5 persen. 

Jika ditarik ke satu garis besar, kedua riset ini memperlihatkan satu benang merah: BRMS sedang berada dalam fase transisi besar. Dalam jangka pendek, tekanan masih muncul dari sisi biaya dan operasional. Namun, fondasi pertumbuhan jangka panjang mulai terbentuk melalui peningkatan kadar, kapasitas, dan diversifikasi aset.

Perubahan ini bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang bagaimana model bisnis BRMS bergeser dari volume ke kualitas, dari tambang terbuka ke bawah tanah, dan dari fase eksplorasi menuju fase produksi yang lebih terukur.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait