Bursa Asia Bangkit Usai Guncangan Perang Iran

Pasar saham Asia rebound mengikuti Wall Street, tetapi lonjakan harga minyak akibat perang Iran masih membayangi sentimen investor global.

Bursa Asia melonjak setelah rebound Wall Street. Namun harga minyak akibat perang Iran kembali naik dan memicu kekhawatiran inflasi global.

Bursa Asia melonjak setelah rebound Wall Street. Namun harga minyak akibat perang Iran kembali naik dan memicu kekhawatiran inflasi global. Foto: Dok. KabarBursa
Bursa Asia melonjak setelah rebound Wall Street. Namun harga minyak akibat perang Iran kembali naik dan memicu kekhawatiran inflasi global. Foto: Dok. KabarBursa

Daftar Isi

  1. 01 Ekonomi AS Masih Menunjukkan Tenaga

KABARBURSA.COM — Pasar saham Asia mencoba bangkit setelah guncangan perang Iran mengguncang sentimen global. Bursa-bursa utama di kawasan melonjak pada perdagangan Kamis pagi, mengikuti rebound Wall Street. Namun optimisme itu belum sepenuhnya kokoh karena harga minyak kembali menanjak dan kontrak berjangka saham Amerika justru melemah.

Dilansir dari AP, Kamis, 5 Maret 2026, lonjakan paling mencolok terjadi di Korea Selatan. Indeks Kospi melesat 10,1 persen ke level 5.607,71 setelah sehari sebelumnya mengalami kejatuhan terbesar dalam sejarahnya. Pemerintah Korea Selatan bahkan langsung mengumumkan langkah darurat ekonomi untuk menenangkan pasar.

Penurunan tajam sehari sebelumnya dipicu aksi ambil untung para investor. Dalam beberapa bulan terakhir indeks Kospi sebenarnya sudah melesat ke rekor tertinggi. Ketika perang Iran meletus, banyak pelaku pasar memilih mengunci keuntungan sebelum risiko geopolitik membesar.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 juga bergerak naik meski sempat kehilangan sebagian penguatan awal. Indeks tersebut masih mampu bertambah 2,8 persen ke posisi 55.793,74.

Sentimen positif juga terlihat di kawasan lain. Indeks S&P/ASX 200 Australia naik tipis 0,1 persen ke 8.913,10. Bursa Selandia Baru menguat 0,5 persen. Sementara indeks utama Taiwan bertambah 2,2 persen.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 148,02 poin atau 1,95 persen ke level 7.725,08. Total volume transaksi tercatat mencapai 123,85 juta lot dengan nilai perdagangan sebesar Rp6,45 triliun dari 761,04 ribu transaksi.

Meski pasar saham mencoba pulih, ketidakpastian perang di Timur Tengah tetap membayangi. Dalam beberapa hari terakhir, arah pasar global sangat dipengaruhi pergerakan harga minyak. Saham-saham di Wall Street juga sempat bangkit setelah harga minyak berhenti melonjak dan laporan ekonomi AS menunjukkan sinyal positif.

Indeks S&P 500 naik 0,8 persen ke 6.869,50 dan berhasil menghapus sebagian besar kerugian sejak konflik Iran dimulai. Dow Jones Industrial Average bertambah 0,5 persen ke 48.739,41. Sementara Nasdaq melonjak 1,3 persen ke 22.807,48. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Harga minyak kembali merangkak naik pada awal perdagangan Kamis.

Minyak Brent yang menjadi acuan global naik 2,6 persen menjadi USD83,51 per barel atau sekitar Rp1.407.144. Sementara minyak mentah acuan Amerika melonjak 3,2 persen ke USD77,01 per barel atau sekitar Rp1.297.619.

Kenaikan harga energi inilah yang membuat investor kembali waspada. Lonjakan minyak berpotensi memicu inflasi baru sekaligus menekan laba perusahaan global.

Ekonomi AS Masih Menunjukkan Tenaga

Di tengah ketegangan geopolitik, sejumlah data ekonomi Amerika justru memberi kabar baik bagi pasar. Salah satu laporan menunjukkan aktivitas bisnis di sektor jasa seperti real estate dan keuangan tumbuh pada bulan lalu dengan laju tercepat sejak musim panas 2022. Laporan tersebut juga mencatat kenaikan harga di sektor jasa mulai melambat sebelum konflik Iran pecah.

Laporan lain menyebut perusahaan-perusahaan swasta di luar sektor pemerintah meningkatkan perekrutan tenaga kerja bulan lalu. Data itu memberi harapan terhadap laporan resmi pasar tenaga kerja Amerika yang akan dirilis pemerintah pada Jumat.

Bagi Federal Reserve, kabar tersebut menjadi sinyal positif. Bank sentral Amerika memiliki tugas menjaga pasar tenaga kerja tetap kuat sekaligus menekan inflasi. Namun lonjakan harga minyak akibat perang membuat pekerjaan itu semakin sulit.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait