KABARBURSA.COM – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mulai membuka babak baru di pasar modal setelah resmi mengumumkan rencana pembelian kembali saham atau buyback senilai maksimal Rp3,5 triliun.
Keterbukaan informasi itu diumumkan perseroan pada 11 Mei 2026 dan akan dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 18 Juni 2026.
Di tengah saham yang masih tertahan di level Rp50, langkah ini langsung menarik perhatian pasar. Sebab, buyback dalam ukuran jumbo biasanya bukan hanya bicara soal pengelolaan modal, tetapi juga sinyal bagaimana manajemen membaca valuasi sahamnya sendiri.
Dalam dokumen keterbukaan informasi, GOTO menyebut dana buyback akan berasal dari kas internal dan tidak berasal dari hasil penawaran umum maupun pinjaman. Nilai maksimal dana yang disiapkan mencapai Rp3,5 triliun dengan periode pelaksanaan hingga 12 bulan setelah persetujuan RUPSLB, yakni mulai 19 Juni 2026 sampai 18 Juni 2027.
Perseroan juga menyebut, jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak akan melebihi 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor, termasuk saham tresuri yang telah dimiliki saat ini. Hingga 30 April 2026, GOTO tercatat sudah memiliki saham tresuri sekitar 39,29 miliar saham atau setara 3,3 persen dari total modal disetor.
Menariknya, manajemen secara eksplisit menyebut buyback dilakukan untuk memberi fleksibilitas pengelolaan modal sekaligus membuat harga saham lebih mencerminkan nilai fundamental perseroan.
“Melalui Pembelian Kembali Saham, Perseroan berharap performa harga saham Perseroan dapat mencerminkan nilai fundamental yang sesungguhnya,” tulis manajemen dalam keterbukaan informasi.
Saham Tak Bergerak dari Area Gocap
Kalimat tersebut menjadi menarik karena muncul ketika saham GOTO justru sedang berada dalam fase stagnan panjang di area gocap. Sepanjang Mei 2026, saham ini praktis bergerak datar di level Rp50–51 meski aktivitas transaksi masih sangat besar.
Pada perdagangan 4 Mei 2026, saham GOTO ditutup di level 51 setelah turun 5,56 persen dengan nilai transaksi mencapai Rp1,33 triliun. Tekanan asing juga terlihat agresif ketika net foreign sell mencapai Rp172,79 miliar.
Tekanan tersebut berlanjut pada 5 Mei ketika saham turun lagi ke level 50 dengan nilai transaksi Rp409,21 miliar dan net foreign sell sekitar Rp41,06 miliar. Namun setelah itu, pola transaksi mulai berubah.
Pada 6 Mei, investor asing mulai kembali mencatat net foreign buy Rp12,08 miliar ketika saham bergerak di area Rp50–51. Arus beli asing bahkan melonjak pada 7 Mei dengan net buy mencapai Rp68,06 miliar.
Meski sempat kembali dibayangi net foreign sell Rp33,61 miliar pada 8 Mei, arus dana asing kembali masuk pada 11 Mei dengan net foreign buy Rp15,56 miliar. Aktivitas tersebut berlangsung ketika saham tetap tertahan di level Rp50.
Situasi ini membuat pergerakan GOTO mulai terlihat unik di mata pasar. Nilai transaksi masih besar, arus asing bolak-balik agresif, tetapi harga saham nyaris tidak bergerak dari area gocap.
Bagi sebagian pelaku pasar, kondisi seperti ini sering dibaca sebagai fase tarik-menarik posisi besar. Terlebih ketika buyback jumbo mulai diumumkan tepat di tengah fase konsolidasi panjang saham.
Di sisi lain, manajemen GOTO juga memberi sinyal bahwa langkah buyback tetap akan dijalankan secara disiplin dan hati-hati. Perseroan menyebut implementasi buyback masih akan mempertimbangkan berbagai kondisi bisnis, termasuk perubahan regulasi yang berkaitan dengan skema pembagian pendapatan mitra pengemudi.
Artinya, buyback ini bukan sekadar aksi jangka pendek untuk menjaga harga saham, tetapi juga bagian dari strategi pengelolaan modal jangka panjang perusahaan digital terbesar di Indonesia tersebut.
Secara finansial, GOTO menilai kondisi kas perseroan masih memadai untuk menjalankan buyback tanpa mengganggu operasional. Dalam simulasi proforma perusahaan, posisi kas dan setara kas setelah buyback diperkirakan turun dari Rp21,75 triliun menjadi Rp18,25 triliun.
Total ekuitas juga diproyeksikan turun dari Rp28,71 triliun menjadi Rp25,21 triliun setelah asumsi buyback penuh dilakukan. Namun perseroan menilai dampaknya terhadap operasional dan keberlangsungan usaha tidak material.
Di tengah semua itu, perhatian pasar kini mulai bergerak ke satu pertanyaan yang lebih besar, apakah buyback Rp3,5 triliun ini menjadi sinyal bahwa GOTO mulai melihat fase valuasi sahamnya sudah terlalu murah?
Sebab dalam banyak kasus di pasar modal, buyback jumbo biasanya muncul ketika emiten mulai merasa harga saham tidak lagi mencerminkan nilai bisnis yang sedang dibangun. Dan menariknya, langkah ini datang ketika GOTO masih berada di tengah proses panjang menuju fase profitabilitas yang lebih stabil.
Untuk saat ini, pasar tampaknya belum sepenuhnya memberi jawaban. Namun ketika saham terus bertahan di area gocap sementara perusahaan mulai menyiapkan buyback triliunan rupiah, perhatian investor perlahan mulai berubah: bukan lagi sekadar bertanya apakah GOTO bisa bertahan, tetapi apakah pasar sedang mulai salah membaca nilainya.(*)