Market Hari Ini 06 Apr 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

CASA Menyusut, Yield Dividen BMRI Terancam?

Penurunan dana murah mulai menekan biaya dana Bank Mandiri, sementara pasar menanti keputusan dividen di RUPST April 2026 dengan potensi yield yang masih kompetitif.

CASA BMRI turun, cost of funds naik. Bagaimana dampaknya ke dividen dan potensi yield dua digit jelang RUPST 2026?

Dengan CASA yang menurun, potensi yield dividen BMRI diperkirakan ikut berkurang. (Foto: Dok Bank Mandiri)
Dengan CASA yang menurun, potensi yield dividen BMRI diperkirakan ikut berkurang. (Foto: Dok Bank Mandiri)

Daftar Isi

  1. 01 Target NIM 2026
  2. 02 Dividen dan Menciutnya CASA
  3. 03 Potensi Yield Dua Digit

KABARBURSA.COM – Penurunan rasio dana murah atau current account savings account (CASA) di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mulai menjadi sorotan pelaku pasar, seiring perubahan komposisi pendanaan bank.

Riset UOB Kay Hian mencatat rasio CASA BMRI mengalami pelemahan. Pelemahan ini menandakan adanya peningkatan ketergantungan terhadap dana mahal seperti deposito berjangka. Perubahan ini terjadi di tengah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia yang memperketat likuiditas dan meningkatkan kompetisi penghimpunan dana di industri perbankan.

Untuk diketahui, penurunan CASA ini secara langsung akan berdampak pada struktur biaya dana (cost of funds). Porsi dana murah yang mengecil membuat bank harus menawarkan bunga lebih tinggi untuk menarik likuiditas, sehingga beban bunga berpotensi meningkat. 

Dalam kondisi suku bunga yang masih relatif tinggi, ruang penyesuaian bunga kredit tidak sepenuhnya fleksibel. Inilah yang kemudian menekan net interest margin (NIM) dan mulai menjadi perhatian khusus.

Target NIM 2026 

Manajemen BMRI sendiri menargetkan NIM di kisaran 4,6 hingga 4,8 persen pada 2026. Target ini mencerminkan adanya ruang margin yang lebih terbatas dibandingkan periode sebelumnya. Target ini dibuat terutama ketika biaya dana meningkat sementara yield aset produktif tidak bergerak secepat itu.

Kondisi tersebut menempatkan stabilitas margin sebagai variabel yang sensitif terhadap perubahan struktur pendanaan.

Dividen dan Menciutnya CASA

Di tengah dinamika tersebut, perhatian pasar juga tertuju pada agenda Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan berlangsung pada 29 April 2026, khususnya terkait penetapan dividen tahun buku 2025. 

BMRI sebelumnya telah membagikan dividen interim sebesar Rp100 per saham pada Januari 2026 dengan total nilai mencapai Rp9,3 triliun. Keputusan dividen final akan melengkapi distribusi laba bersih yang telah dibukukan sepanjang 2025.

Secara historis, BMRI dikenal memiliki kebijakan dividen yang konsisten dengan rasio pembayaran yang tinggi. Dengan laba per saham (EPS) sebesar Rp609 dan proyeksi dividend payout ratio (DPR) di kisaran 60 hingga 80 persen, estimasi dividen final berada di rentang Rp300 hingga Rp400 per saham setelah dikurangi interim. 

Pada harga saham di kisaran Rp5.000-an, potensi yield dividen berada di level high single digit dan dalam beberapa skenario mendekati dua digit.

Namun, penurunan CASA mulai memunculkan pertanyaan terhadap keberlanjutan yield tersebut. Ketika biaya dana meningkat, tekanan terhadap margin berpotensi memengaruhi pertumbuhan laba ke depan. 

Dalam kondisi ini, ruang untuk mempertahankan atau meningkatkan DPR menjadi lebih terbatas karena bank perlu menjaga keseimbangan antara distribusi dividen dan kebutuhan modal untuk ekspansi kredit.

Potensi Yield Dua Digit

Dengan demikian, potensi yield dua digit tidak serta-merta hilang dalam jangka pendek karena dividen yang akan diputuskan pada RUPST 2026 tetap berbasis pada kinerja laba 2025 yang sudah terealisasi. 

Data hingga Februari 2026 menunjukkan laba bersih BMRI mencapai Rp8,9 triliun, tumbuh 16,7 persen secara tahunan, yang menjadi dasar utama dalam perhitungan dividen. Namun, tekanan pada CASA mulai membentuk ekspektasi baru terhadap arah yield pada periode berikutnya.

Pergerakan saham BMRI pada perdagangan Senin, 6 April 2026, mencerminkan dinamika tersebut. Hingga pukul 11.11 WIB, saham berada di level Rp4.620 atau turun 0,65 persen dari penutupan sebelumnya Rp4.650. 

Sepanjang sesi, harga bergerak dalam rentang Rp4.600 hingga Rp4.700, dengan tekanan jual yang muncul bertahap di area atas dan membentuk pola pergerakan yang cenderung tertahan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar mulai mengakomodasi perubahan pada sisi fundamental pendanaan tanpa disertai tekanan ekstrem. Level Rp4.600 menjadi area uji support terdekat, sementara Rp4.650–Rp4.700 menjadi zona distribusi jangka pendek. 

Pergerakan tersebut memperlihatkan bagaimana sentimen penurunan CASA, ekspektasi margin, dan narasi dividen mulai terintegrasi dalam pembentukan harga saham BMRI.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait