KABARBURSA.COM – Ekonom sekaligus Guru Besar Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi menanggapi upaya diversifikasi pasar ekspor nikel Indonesia menjadi strategi utama untuk mengurangi ketergantungan terhadap China, yang selama ini menyerap 80 hingga 90 persen ekspor nikel nasional.
Pemerintah dan pelaku industri kini mendorong ekspansi ke Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa, yang diyakini dapat meningkatkan harga jual, margin keuntungan, serta daya saing global bagi emiten tambang seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Harita Nickel Tbk (NCKL).
Syafruddin beranggapan diversifikasi itu sebagai langkah strategis untuk mengamankan posisi Indonesia di pasar global. Menurutnya, ekspansi ke Amerika Serikat dan Uni Eropa akan mendorong penerapan standar keberlanjutan yang lebih ketat dan meningkatkan nilai jual nikel Indonesia.