KABARBURSA.COM – PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), emiten infrastruktur milik grup Prajogo Pangestu, resmi membagikan dividen tunai perdana setelah kurang dari setahun melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Di tengah euforia saham yang masih bergerak liar, investor kini mulai menghitung potensi yield dan membaca arah strategi ekspansi perseroan ke depan.
Berdasarkan keterbukaan informasi, CDIA akan membagikan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp5,563434 per saham. Keputusan tersebut ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 8 Mei 2026.
Manajemen dalam keterbukaan informasi menyampaikan pemegang saham yang berhak menerima dividen adalah investor yang tercatat pada 22 Mei 2026 atau recording date. Sementara cum dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 20 Mei 2026 dan ex dividen pada 21 Mei 2026.
Adapun pembayaran dividen dijadwalkan berlangsung pada 9 Juni 2026.
Jika mengacu pada harga saham CDIA di level Rp1.060 per saham pada perdagangan terakhir, maka dividend yield perseroan berada di kisaran 0,52 persen.
Meski relatif kecil, pembagian dividen ini tetap menjadi perhatian pasar karena merupakan distribusi laba perdana sejak CDIA melantai di bursa pada 9 Juli 2025.
Data Stockbit menunjukkan CDIA melakukan IPO di harga Rp190 per saham dengan nilai penawaran umum mencapai Rp2,37 triliun. Jumlah saham yang dilepas ke publik saat IPO mencapai 12,48 miliar saham dengan porsi free float sekitar 9,90 persen.
Sejak IPO, pergerakan saham CDIA terbilang agresif. Pada perdagangan terakhir, saham ini ditutup menguat 5,47 persen ke level 1.060 dengan volume transaksi mencapai 110,59 juta saham. Kenaikan tersebut membuat saham CDIA sudah melonjak lebih dari lima kali lipat dibanding harga IPO-nya.
Di tengah reli tersebut, agenda pembagian dividen mulai menjadi katalis baru bagi investor. Pasar juga mulai mencermati konsistensi perseroan dalam menjaga profitabilitas dan arus kas di tengah ekspansi bisnis infrastruktur yang masih berlangsung.
Sebelumnya, dalam pemanggilan resmi RUPS, manajemen memang telah memberi sinyal bahwa penggunaan laba bersih tahun buku 2025 akan menjadi salah satu agenda utama rapat pemegang saham.
Selain dividen, RUPS juga membahas perubahan susunan pengurus, remunerasi direksi dan komisaris, penunjukan auditor, hingga penyesuaian kegiatan usaha sesuai KBLI 2025.
Sebagai bagian dari grup Barito Pacific milik Prajogo Pangestu, CDIA memang terus menjadi salah satu saham yang paling banyak diperhatikan pelaku pasar sejak IPO. Pergerakan harga yang sangat agresif membuat saham ini masuk radar trader jangka pendek maupun investor yang memburu saham bertema infrastruktur dan utilitas.
Namun di sisi lain, valuasi saham yang sudah naik tajam juga membuat pasar mulai lebih sensitif terhadap setiap agenda korporasi perseroan, termasuk arah pembagian laba dan strategi ekspansi ke depan.
Dalam keterbukaan informasi terbaru, Direksi CDIA menyebut pembagian dividen dilakukan berdasarkan keputusan RUPST dan berasal dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk untuk tahun buku 2025.
Manajemen juga memastikan pembagian dividen dilakukan melalui mekanisme KSEI maupun pemindahbukuan langsung untuk pemegang saham warkat sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain itu, perseroan mengingatkan bahwa dividen tunai akan dikenakan pajak sesuai aturan perpajakan yang berlaku, termasuk ketentuan pajak untuk investor domestik maupun asing.
Dengan kombinasi saham yang masih aktif diperdagangkan, posisi sebagai bagian dari grup Prajogo Pangestu, dan dividen perdana pasca-IPO, pergerakan CDIA diperkirakan masih akan terus menjadi perhatian pasar dalam beberapa waktu ke depan.(*)