KABARBURSA.COM - Penyanyi Celine Dion baru saja merilis film dokumenter yang bercerita tentang perjalanan penyakitnya. "I Am: Celine Dion", berkisah bagaimana ia bisa bertahan dan bangkit melawan sindrom autoimun yang diderita. Baginya, penyakit adalah sesuatu hal yang patut diperjuangkan kesembuhannya.
Dikutip dari People, Dion sambil menangis memperkenalkan film dokumenter yang berfokus pada hidupnya sebagai ucapan terima kasih kepada orang-orang yang mendukungnya. FIlm ini sudah ditayangkan secara perdana di New York City. Selanjutnya, film dokumenter tersebut akan ditayangkan di Prime Video.
Di awal pidatonya, ia berterima kasih kepada Dr Amanda Piquet dan pembuat film dokumenter Irene Taylor Brodsky. Penyanyi berusia 56 tahun itu mengucapkan rasa terima kasih mendalam kepada penonton, karena film dokumenternya mendapat apresiasi luar biasa dari yang pernah dia hadiri selama bertahun-tahun.
“Tentu saja, saya tidak akan berada di sini tanpa kasih sayang dan dukungan setiap hari dari anak-anak saya yang luar biasa. Terima kasih, René-Charles (23). Terima kasih, Nelson (13). Terima kasih, Eddy (13). Terima kasih banyak,” kata Dion.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para penggemarnya atas perhatian dan dukungan mereka selama ini.
"Terima kasih kepada kalian semua dari lubuk hati saya yang terdalam karena telah menjadi bagian dari perjalanan saya. Film ini adalah surat cinta saya untuk Anda masing-masing. Saya berharap dapat bertemu kalian lagi segera,” tutupnya disambut tepuk tangan meriah.
Salah satu cerita dalam film ini adalah ketika ia mempelajari tentang kondisinya dan membandingkannya dengan sebuah apel.
"Saya tidak percaya betapa beruntungnya saya memiliki teman-teman dalam hidup saya.”
Pemenang Grammy lima kali itu mengenakan rok panjang dan blus lengan panjang putih yang elegan untuk acara tersebut. "I Am: Céline Dion" tayang perdana di Prime Video pada 25 Juni.
Biaya Pembuatan Film DOkumenter
Produksi sebuah film cenderung berasosiasi dengan anggaran besar. Namun, biaya pembuatan film dokumenter ternyata tidaklah terlalu besar. Hal ini disampaikan Networking Director Bingkai Indonesia Ina Nisrina Has.
Menurut Ina, untuk pembuatan film dokumenter tidak memerlukan anggaran besar, bahkan bisa tanpa modal, yang penting ada kemauan. Media apapun, seperti handphone, dapat dijadikan alat merekam, tanpa harus kamera besar.
Namun, standar pembuatan film dokumenter, di luar berhubungan dengan production house, membutuhkan dana sekitar Rp45 juta hingga Rp50 juta, tidak termasuk biaya transportasi.
“Seperti orang travelling, apakah mau menggunakan cara backpacker atau yang mahal. Jika ingin suara bagus dan lensa keren, ya butuh dana sekitar itu. Intinya bukan pada hasil film yang artistiknya bagus, tetapi pada konten pesan yang ingin disampaikan,” jelas dia
Hal serupa disampaikan Voni Novita, Direktur StoS Film Festival 2014. Aktivis Jatam (Jaringan Advokasi Tambang) ini mengaku untuk pembuatan dua film bertema lingkungan, anggaran yang dihabiskan sekitar Rp50 juta.
“Pengalaman kami, hanya menghabiskan sekitar Rp50 juta tanpa membeli alat baru. Pengeluaran terbesar untuk operasional, terutama jika lokasi jauh dan sulit dijangkau dengan transportasi umum, seperti harus naik pesawat,” tuturnya.
Apa Itu Penyakit Autoimun
Kembali kepada penyakit Celine Dion, sindrom autoimun. Adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri. Ada lebih dari 80 penyakit yang digolongkan penyakit autoimun. Beberapa memiliki gejala serupa, seperti lelah, nyeri otot dan demam.
Normalnya, sistem kekebalan tubuh berfungsi untuk menjaga tubuh dari serangan organisme asing, seperti bakteri dan virus. Saat organisme asing ini menyerang, sistem kekebalan tubuh akan melepas protein yang disebut antibodi, untuk melawan dan mencegak terjadinya penyakit.]
Tetapi, pada autoimun justru sebaliknya. Sistem kekebalan tubuh menganggap sel tubuh yang sehat sebagai zat asing. Akibatnya, antibodi uang dilepaskan menyerang sel-sel sehat tersebut.
Hingga saat ini penyebab penyakit autoimun belum diketahui pasti. Namun, ada beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit autoimun, seperti memiliki riwayat penyakit dalam keluarga, menderita infeksi bakteri atau virus seperti virus Epstein Barr. Penyakit ini juga bisa disebabkan karena paparan bahan kimia seperti asbes, merkuri, dioksin atau pestisida, merokok, hingga obesitas.
Untuk gejala awal, hampir mirip antara satu jenis dengan jenis lainnya, yaitu sering merasa lemas, otot pegal atau nyeri sendi, ruam kulit, demam yang hilang timbul, bengkak di sendi atau wajah, rambut rontok, sulit konsentrasi, kesemutan di tangan dan kaki.
Meski begitu, masing-masing penyakit autoimun tetap memiliki gejala spesifik, seperti diabetes tipe 1 yang gejalanya berupa sering haus, lemas, dan berat badan menurun drastis.(*)