KABARBURSA.COM - PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) akan mengelar Public Expose Tahunan secara virtual dengan agenda utama memaparkan kinerja keuangan tahun buku 2025 sekaligus perkembangan bisnis sepanjang 2026.
Meski bukan agenda korporasi yang menghasilkan keputusan langsung seperti pembagian dividen atau aksi korporasi besar, public expose kali ini berpotensi menjadi momentum penting karena investor akan mencari penjelasan mengenai penurunan laba sepanjang 2025 dan prospek ekspansi yang sedang dipersiapkan manajemen.
Fokus utama pasar kemungkinan akan tertuju pada kualitas pertumbuhan bisnis CLEO. Sepanjang 2025, perusahaan berhasil membukukan penjualan sebesar Rp2,83 triliun atau tumbuh 4,8 persen dibanding tahun sebelumnya.
Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut tidak sepenuhnya tercermin pada laba bersih. Perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp389,5 miliar, turun 17,8 persen secara tahunan. Tekanan margin membuat pertumbuhan pendapatan belum mampu diterjemahkan menjadi pertumbuhan keuntungan.
Kinerja Keuangan Kuartal 1-2026
Meski demikian, perkembangan terbaru pada kuartal pertama 2026 memberikan sinyal yang jauh lebih positif. CLEO mencatat pendapatan Rp774 miliar, meningkat sekitar 15,7 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp669 miliar. Laba usaha juga melonjak menjadi Rp168 miliar dari Rp157 miliar pada kuartal I-2025.
Yang paling menarik, laba bersih berhasil tumbuh menjadi Rp123 miliar dibanding Rp117 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan 5,2 persen tersebut menunjukkan bahwa profitabilitas perusahaan mulai kembali pulih setelah mengalami tekanan sepanjang 2025.
Jika melihat struktur laporan keuangan, terdapat perbaikan yang cukup menarik pada tingkat efisiensi operasional. Margin laba kotor kuartal I-2026 mencapai sekitar 56,7 persen, sementara laba usaha naik menjadi Rp168 miliar dari Rp118 miliar pada kuartal sebelumnya.
Di sini, strategi pengendalian biaya mulai memberikan hasil yang lebih baik. Dengan kata lain, pasar akan menunggu apakah tren pemulihan margin ini dapat dipertahankan sepanjang tahun 2026.
Selain membahas kinerja, manajemen juga diperkirakan akan memberikan pembaruan mengenai rencana pembangunan tiga pabrik baru pada semester II-2026. Agenda ini sangat penting, karena selama bertahun-tahun CLEO dikenal agresif memperluas jaringan produksi dan distribusi.
Saat ini perusahaan telah memiliki 22 pabrik dan 96 depo logistik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Infrastruktur tersebut menjadi salah satu keunggulan kompetitif CLEO dibanding banyak pemain lain di industri AMDK.
Profil CLEO
Dari sisi profil perusahaan, CLEO memiliki perjalanan bisnis yang cukup panjang. Perseroan mulai beroperasi secara komersial sejak 2003 setelah mengambil alih bisnis air minum dalam kemasan merek Anda.
Setahun kemudian, perusahaan membangun pabrik pertama di Pandaan, Jawa Timur, dan secara bertahap memperluas jangkauan distribusi ke seluruh Indonesia. Strategi ekspansi yang konsisten menjadikan CLEO sebagai salah satu pemain nasional yang memiliki jaringan produksi dan distribusi yang luas.
Di pasar modal, CLEO resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 5 Mei 2017 melalui penawaran umum perdana saham sebanyak 450 juta saham dengan harga IPO Rp115 per saham. Saat ini jumlah saham beredar mencapai 24 miliar lembar.
Namun, free float CLEO hanya sekitar 12,36 persen. Angka ini tergolong relatif kecil untuk ukuran emiten papan utama. Free float yang terbatas sering kali membuat pergerakan saham menjadi lebih sensitif terhadap perubahan permintaan dan penawaran karena jumlah saham yang beredar di publik tidak terlalu besar.
Dari sisi fundamental, CLEO masih menunjukkan profil yang sehat. Return on Equity (ROE) kuartal I-2026 berada di level 5,06 persen, sementara Return on Assets (ROA) mencapai 3,67 persen.
Kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban bunga juga sangat kuat dengan interest coverage ratio mencapai 25,47 kali. Angka ini menunjukkan bahwa beban utang masih berada dalam level yang sangat terkendali.(*)