Market Hari Ini 27 May 2025 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Yunila Wati

CLEO Luruskan soal Utang, Produksi Siap Tembus 5,8 Miliar Liter

Manajemen CLEO pastikan tidak ada utang jatuh tempo pada Juni 2025. Produksi ditargetkan naik lewat tiga pabrik baru di Palu, Pontianak, dan Pekanbaru.

Manajemen CLEO pastikan tak ada utang jatuh tempo 12 Juni. Produksi air minum ditargetkan capai 5,8 miliar liter dari tiga pabrik baru 2025.

Direktur Keuangan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) Lukas Setio Wongso dalam paparan publik daring yang digelar pada Senin, 26 Mei 2025. (Foto: Tangkapan Layar/Desty Luthfiani)
Direktur Keuangan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) Lukas Setio Wongso dalam paparan publik daring yang digelar pada Senin, 26 Mei 2025. (Foto: Tangkapan Layar/Desty Luthfiani)

Daftar Isi

  1. 01 Jejak Pembiayaan CLEO: Dari BNI ke Private Placement
  2. 02 Produksi CLEO Ditargetkan Capai 5,8 Miliar Liter di 2025

KABARBURSA.COM – PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) meluruskan pemberitaan mengenai fasilitas kredit modal kerja (capital expenditure/capex) yang disebut akan jatuh tempo pada 12 Juni 2025. 

Manajemen CLEO menyampaikan klarifikasi kredit modal kerja Rp174 miliar sekaligus menegaskan bahwa tidak ada kewajiban pelunasan dalam waktu dekat. 

Alasannya adalah fasilitas tersebut merupakan kredit tahunan yang sedang dalam proses perpanjangan. Pernyataan ini pun disampaikan untuk meredam kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan likuiditas perseroan. 

Dalam paparan publik daring yang digelar pada Senin, 26 Mei 2025, Direktur Keuangan CLEO, Lukas Setio Wongso, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tanggal 12 Juni 2025 adalah masa berakhirnya perjanjian tahunan dari fasilitas modal kerja, bukan jatuh tempo pelunasan utang.

“Untuk tanggal 12 Juni ini memang adalah tanggal masa berlaku perjanjian kredit modal kerja kami, jadi bukan berarti akan jatuh tempo. Kredit ini bersifat tahunan dan setiap tahun dilakukan proses perpanjangan. Saat ini kami sedang menjalani proses tersebut, sehingga tidak ada kewajiban bagi kami untuk membayar Rp174 miliar pada tanggal tersebut,” jelas Lukas.

Menutup sesi klarifikasi, manajemen CLEO menegaskan bahwa tidak terdapat risiko gagal bayar atau gangguan terhadap operasional akibat fasilitas kredit yang menjadi sorotan pasar. Proses bisnis CLEO tetap berjalan normal, dan ekspansi infrastruktur tetap sesuai dengan rencana awal.

CLEO juga menyampaikan bahwa strategi kombinasi antara efisiensi energi, ekspansi jaringan produksi, dan tata kelola keuangan yang disiplin menjadi fondasi utama pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang.

“Fokus kami adalah menciptakan pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan bagi seluruh pemegang saham,” tegas manajemen.

Dalam kesempatan yang sama, Lukas juga menekankan komitmen perseroan untuk meningkatkan kualitas laporan keuangan. Untuk kuartal I 2025, CLEO belum merilis laba bersih karena masih dalam proses audit oleh pihak independen.

“Kami ingin menyajikan laporan keuangan yang lebih andal dan objektif. Dalam hal ini juga ada pihak ketiga yang mensertifikasi, demi meningkatkan kepercayaan publik terhadap transparansi informasi keuangan kami," ungkap Lukas.

Jejak Pembiayaan CLEO: Dari BNI ke Private Placement

Sebelumnya, CLEO diketahui memperoleh fasilitas kredit dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) senilai Rp300 miliar pada Juni 2023. 

Dana ini terdiri atas Rp100 miliar untuk modal kerja berjangka satu tahun dan Rp200 miliar pinjaman jangka panjang dengan tenor tujuh tahun. 

Sebagai jaminan, CLEO menyerahkan sebagian aset tetap, seperti mesin dan properti, dalam skema fidusia.

Langkah serupa pernah dilakukan pada 2018, saat CLEO menggelar private placement senilai Rp274 miliar. 

Dari jumlah tersebut, sekitar Rp225 miliar digunakan untuk melunasi pinjaman PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang menjadi bagian dari strategi konsolidasi neraca dan penguatan struktur modal.

Produksi CLEO Ditargetkan Capai 5,8 Miliar Liter di 2025

Di sisi operasional, perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) dengan merk dagang Cleo itu terus memperluas jangkauan produksinya. 

Direktur Operasional Nio Eko Susilo menjelaskan bahwa hingga akhir 2025, kapasitas produksi CLEO ditargetkan mencapai 5,8 miliar liter per tahun. Hal ini sejalan dengan penyelesaian pembangunan tiga pabrik baru di Palu, Pontianak, dan Pekanbaru.

“Pekanbaru adalah wilayah strategis yang akan menjadi pusat distribusi untuk Provinsi Riau, Sumatera Barat, Jambi hingga Kepri, karena aksesnya kini semakin mudah lewat tol. Pontianak juga sangat potensial karena sebelumnya selalu disuplai dari Pulau Jawa dengan biaya logistik tinggi. Pabrik di Kalimantan Barat ini akan memangkas biaya distribusi secara signifikan," papar Eko.

“Selama ini Palu disuplai dari Surabaya, dan jarak tempuh dari pabrik eksisting di Makassar atau Manado juga cukup menantang. Dengan pabrik di Palu, distribusi jadi lebih efisien dan pasar kami akan tumbuh lebih cepat,” tambahnya.

Ketiga pabrik ini dirancang untuk mengefisienkan biaya distribusi, mempercepat waktu tempuh, dan meningkatkan kehadiran CLEO di wilayah yang selama ini belum optimal dijangkau, termasuk sebagian wilayah Sulawesi dan Indonesia timur. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait