Market Hari Ini 25 Sep 2025 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Uslimin Usle

CPO Naik, Sentimen Global dan Kebijakan Dorong Pemulihan Harga

Prediksi menyebutkan bahwa ekspor sawit Indonesia ke Uni Eropa bakal terdongkrak pada 2026

Harga minyak sawit berjangka di Malaysia kembali menanjak pada Kamis, mencetak kemenangan beruntun dua sesi.

Ilustrasi industri sawit. Foto: dok KabarBursa.com
Ilustrasi industri sawit. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Harga minyak sawit berjangka di Malaysia kembali menanjak pada Kamis, mencetak kemenangan beruntun dua sesi. Arah positif ini didorong oleh dorongan harga minyak kedelai, lonjakan ekspor, serta penangguhan aturan anti-deforestasi Uni Eropa selama satu tahun.

Kontrak CPO bulan Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange melonjak 40 ringgit (0,91  persen) menjadi 4.419 ringgit/ton (USD 1.049,15) pada sesi tengah hari. Laporan Reuters di Kuala Lumpur mencatat momentum tersebut.

Menurut David Ng, trader di Iceberg X Sdn Bhd, penguatan “soyoil” dan performa ekspor yang solid menjadi pendorong utama. Data AmSpec Agri Malaysia menegaskan hal ini: ekspor sawit Malaysia selama 1–25 September naik 11,3  persen dibanding periode sama bulan sebelumnya. Intertek Testing Services juga akan merilis estimasi serupa hari ini.

Penangguhan penerapan Regulasi Deforestasi Uni Eropa (EUDR) menjadi katalis krusial. Uni Eropa pada 23 September mengumumkan penundaan regulasi yang sebelumnya akan melarang impor komoditas—termasuk CPO—yang terkait deforestasi. Keputusan ini memberi ruang bernapas bagi eksportir sawit dan memperkuat sentimen pasar, menurut Ng.

Prediksi menyebutkan bahwa ekspor sawit Indonesia ke Uni Eropa bakal terdongkrak pada 2026, didukung perjanjian perdagangan bilateral, seperti diungkap sumber dari asosiasi industri Indonesia.

Sementara itu, pergerakan harga komoditas global turut memperkuat dinamika. Minyak kedelai di Dalian melonjak 1,24 persen, kontrak sawit terkait menguat 1,59 persen. Di Chicago Board of Trade, harga kedelai naik 0,44  persen. CPO pun cenderung mengikuti jejak minyak nabati lain dalam persaingan pangsa pasar global.

Namun, harga minyak mentah melemah di sesi Asia, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam tujuh minggu. Aksi ambil untung dan ketidakpastian pasokan serta permintaan menjadi penyebab utama penurunan. Kondisi ini membuat CPO relatif kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Ringgit Malaysia melemah 0,19  persen terhadap dolar AS, menjadikan CPO lebih murah bagi pembeli dengan mata uang asing. Secara teknikal, analis Reuters Wang Tao memproyeksikan harga CPO bisa menanjak ke kisaran 4.457–4.492 ringgit/ton dalam waktu dekat.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait