"Diperkirakan pasar oleokimia pada tahun 2030 akan meningkat menjadi US$ 5,4 miliar dengan asumsi pertumbuhan sebesar 6 persen setiap tahun," ujar Rapolo.
Namun, nilai ekspor oleokimia pada tahun 2023 sempat mengalami penurunan karena turunnya nilai komoditas dunia, mencapai sekitar US$ 3,5 miliar dengan volume sekitar 4,2 juta ton. Pada tahun 2022, nilai ekspor oleokimia mencapai US$ 5,4 miliar dengan volume yang sama.
Rapolo juga menyoroti bahwa pasar ekspor oleokimia terbesar terletak di kawasan Asia Pasifik, dengan nilai sebesar US$ 16 miliar, sementara sisanya menuju Uni Eropa dan Amerika. Produk oleokimia yang diekspor sebagian besar adalah asam lemak (fatty acid), alkohol lemak (fatty alcohol), dan produk turunan lainnya.
Rapolo menyarankan agar Indonesia memperhatikan pasar Afrika, yang memiliki total populasi sekitar 1,4 miliar, meskipun GDP-nya masih rendah. Selain itu, Rapolo juga mencatat bahwa ada beberapa produk hilir sawit yang masih diabaikan oleh pelaku industri sawit Indonesia, seperti tokoferol dan betakaroten, yang memiliki pangsa pasar masing-masing sebesar US$ 1,3 miliar dan US$ 4,7 miliar.
Produk turunan ini saat ini dominan diproduksi oleh perusahaan dari Eropa, China, Jepang, dan Amerika, sedangkan Indonesia sebagai sumber bahan baku belum optimal dalam memanfaatkan potensinya.