KABARBURSA.COM - PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) menambah fasilitas pinjaman afiliasi kepada PT Bara Makmur Dwitama sebesar Rp2 miliar.
Transaksi tersebut dilakukan pada 7 Mei 2026. Perlu diketahui, DAAZ merupakan pemegang saham pengendali PT Bara Makmur Dwitama.
Merujuk keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI),tambahan pinjaman tersebut membuat total fasilitas yang diberikan DAAZ kepada PT Bara Makmur Dwitama meningkat menjadi Rp63 miliar dari sebelumnya Rp61 miliar.
Manajemen DAZZ menyampaikan dana peminjaman tersebut akan digunakan PT Bara Makmur Dwitama untuk kebutuhan modal kerja pembelian batubara.
"Dana yang dipinjamkan berasal dari hasil penerbitan Obligasi I Daaz Bara Lestari Tahun 2025, sesuai dengan rencana penggunaan dana obligasi," ungkap manajemen DAAZ.
Adapun pinjaman ini dikenakan bunga sebesar 8,85 persen
per tahun, dengan jangka waktu 370 hari sejak tanggal perjanjian pinjaman.
Kinerja Keuangan
Diberitakan Kabarbursa.com sebelumnya, berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, DAAZ membukukan pendapatan sebesar Rp13,41 triliun atau tumbuh 32,3 persen dibandingkan realisasi 2024 sebesar Rp10,13 triliun.
Namun peningkatan pendapatan tersebut diikuti oleh kenaikan beban pokok pendapatan yang lebih tinggi. Sepanjang 2025, beban pokok tercatat mencapai Rp12,51 triliun atau meningkat 37,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini melampaui pertumbuhan pendapatan, sehingga menekan margin usaha perusahaan.
Dampaknya terlihat pada laba bruto yang justru mengalami penurunan menjadi Rp902,27 miliar dari sebelumnya Rp1,03 triliun. Secara tahunan, laba bruto menyusut 12,2 persen, yang artinya ada tekanan pada efisiensi biaya dan struktur margin.
Tekanan tersebut berlanjut hingga level profitabilitas yang lebih dalam. Laba sebelum pajak DAAZ tercatat sebesar Rp392,56 miliar, turun 45,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp718,29 miliar. Setelah memperhitungkan beban pajak penghasilan sebesar Rp36,85 miliar, laba tahun berjalan tercatat Rp355,72 miliar atau menurun 41,6 persen secara tahunan.
Adapun laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp263,73 miliar, turun 42,1 persen dibandingkan 2024 yang mencapai Rp455,43 miliar. (*)