KABARBURSA.COM - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan minat Indonesia untuk menjadi bagian dari Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP), yang diresmikan setelah Amerika Serikat menarik diri dari Trans-Pacific Partnership (TPP). Airlangga menyoroti bahwa kesepuluh negara anggota CPTPP memiliki ekonomi yang mencakup 13,4 persen dari produk domestik bruto (PDB) global, senilai sekitar 13,5 triliun dolar AS.
Airlangga menjelaskan bahwa CPTPP merupakan salah satu kesepakatan perdagangan bebas terbesar di dunia berdasarkan PDB. Dia menekankan bahwa partisipasi aktif Indonesia dalam forum internasional dapat membuka peluang kerja sama yang saling menguntungkan dan mendorong investasi. Seperti Dalam keterangan resmi di Jakarta, 1 Mei 2024.
Inggris juga telah menyatakan kesediaannya untuk menjadi anggota CPTPP, dalam apa yang disebut sebagai kesepakatan perdagangan terbesar sejak Brexit. Bergabungnya Inggris dalam CPTPP diharapkan akan memposisikan negara tersebut di tengah kelompok ekonomi Pasifik yang dinamis dan berkembang.
Airlangga menyatakan bahwa Indonesia akan belajar dari pengalaman Inggris dalam bergabung dengan CPTPP. Lebih lanjut, sebagai negara besar dengan modalitas yang kuat, Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan kerja sama yang luas untuk memperkuat ekonomi domestiknya.
Indonesia juga sedang memulai proses aksesi keanggotaan di Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dengan dukungan dari 38 negara, termasuk Inggris.
Menteri Negara Inggris untuk Indo-Pasifik, Anne-Marie Trevelyan, menegaskan dukungan Inggris terhadap niat Indonesia untuk menjadi anggota OECD dan CPTPP. Inggris siap berbagi pengalaman dan membantu Indonesia dalam proses aksesi keanggotaan. Anne-Marie juga menyarankan untuk membangun kesamaan pandangan dengan melibatkan bisnis guna memanfaatkan perjanjian perdagangan dan mendapatkan nilai tambah dalam jangka panjang.
Pertemuan antara Airlangga dan Anne-Marie juga membahas berbagai potensi kerja sama, khususnya terkait produksi nikel dan mineral lainnya, pembangunan energi terbarukan, dan penguatan rantai pasok.