Market Hari Ini 28 Aug 2025 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Uslimin Usle

Dari Receh Jadi Buruan Asing – Fenomena Backdoor Listing yang Siap Mengguncang Pasar

Dari harga recehan Rp25, saham ini mendadak diperebutkan pasar, seiring menguatnya rumor backdoor listing oleh perusahaan raksasa global

Pasar modal Indonesia kembali diramaikan dengan fenomena langka yang membuat banyak mata investor tertuju pada satu nama, PT Diamond Citra Propertindo Tbk

Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com
Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Pasar modal Indonesia kembali diramaikan dengan fenomena langka yang membuat banyak mata investor tertuju pada satu nama, PT Diamond Citra Propertindo Tbk. dengan kode saham DADA. Dari harga recehan Rp25, saham ini mendadak diperebutkan pasar, seiring menguatnya rumor backdoor listing oleh perusahaan raksasa global.

Backdoor listing atau reverse takeover adalah mekanisme ketika perusahaan besar yang belum melantai di bursa “menumpang” lewat perusahaan publik kecil yang sudah ada. Bagi awam, ibarat perusahaan raksasa masuk ke rumah kecil, lalu merenovasinya menjadi gedung pencakar langit. Inilah yang kini sedang ramai dikaitkan dengan DADA.

Mengapa DADA Diperebutkan?

Awalnya, harga saham DADA di kisaran Rp25 per lembar. Dengan book value sekitar Rp600 miliar, DADA terlihat biasa saja. Namun, pasar tahu sesuatu yang lebih besar tengah dipersiapkan.

Perbandingan dengan Raksasa Jepang di bursa saham menurut Analis pasar modal & pakar saham Rendy Yefta seperti berikut:

Harga Saham Asing (A) di Bursa Tokyo: ¥3.160 – ¥3.170 per lembar (kurs JPY/IDR saat ini: Rp110 – Rp111 per ¥1). Jika dikonversi, maka kisaran Rp347.600 - Rp351.870.

Harga Saham Asing B di Bursa Tokyo: ¥4.290 – ¥4.332 per lembar (kurs JPY/IDR saat ini: Rp110 – Rp111 per ¥1). Jika dikonversi, maka kisaran Rp471.900 - Rp480.852. Jadi, harga saham asing per lembar dalam rupiah Rp472 ribu – Rp481 ribu.

“Jika benar raksasa asing ini yang masuk, valuasi DADA akan berubah total. Dari saham receh, bisa jadi multibagger yang spektakuler,” ujar Michael Wijaya, analis pasar modal dan pendiri komunitas @ber_investasi.

Bandingkan Valuasi: Saham Asing A (Tokyo): ±Rp350 ribu/lembar dan Saham Asing B (Tokyo): ±Rp475 ribu/lembar. DADA (Indonesia): Rp25 → target spekulatif pasca backdoor Rp14.000/lembar. Bahkan di Rp14.000 per lembar, DADA masih dianggap “murah” untuk ukuran investor global yang terbiasa membeli saham ratusan ribu rupiah.

Analogi untuk Investor Lokal

Bayangkan Anda punya tanah kecil seharga Rp25 juta. Tiba-tiba, developer kelas dunia datang, membeli tanah itu, dan membangun pusat perbelanjaan modern di atasnya. Apakah nilai tanah Anda tetap sama? Tentu tidak. Nilainya akan berlipat berkali-kali.

Itulah potensi DADA. Dari Rp25 → Rp500 saja sudah 20x lipat. Dari Rp25 → Rp14.000, masih dianggap “receh” oleh asing.

"Pasar tidak pernah berbohong. Lonjakan bid berjuta-juta lot, transaksi nego di harga tinggi, dan rumor masuknya investor asing kelas dunia menjadi sinyal kuat bahwa DADA sedang bersiap berubah dari “cacing” menjadi “naga” di bursa."

Bagi investor lokal, DADA mungkin terlihat saham receh. Tapi bagi asing bermodal triliunan, ini adalah diskon luar biasa yang layak diperebutkan. Saham DADA adalah kesempatan langka untuk berada di awal sebuah transformasi besar.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait