Market Hari Ini 10 Jun 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Diisukan Delisting, Bid BDMN Semakin Tebal

Orderbook BDMN menunjukkan akumulasi kuat di level Rp3.880 di tengah free float yang menyusut dan rencana integrasi MUFG. Apakah ini awal rerating valuasi saham?

BDMN menunjukkan bid tebal di Rp3.880, free float turun 7,53 persen dan valuasi masih 0,7x PBV. Ada potensi rerating menuju Rp5.400-Rp8.100.

Ada antrean bid yang cukup tebal di struktur orderbook BDMN, yaitu sebanyak 117 lot di level 3.880. (Foto: dok KabarBursa)
Ada antrean bid yang cukup tebal di struktur orderbook BDMN, yaitu sebanyak 117 lot di level 3.880. (Foto: dok KabarBursa)

Daftar Isi

  1. 01 Harga Wajar Saham BDMN
  2. 02 Struktur Orderbook BDMN

KABARBURSA.COM Sekilas, tidak ada yang terlalu menarik dari PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN). Harga sahamnya turun 2,27 persen ke level Rp3.880, free float juga menyusut menjadi 7,53 persen, jumlah pemegang saham berkurang 1.725 investor, dan kepemilikan MUFG Bank Ltd. tetap mendominasi sebesar 92,47 persen.

Namun, di balik pergerakan harga yang terlihat biasa, struktur orderbook BDMN memperlihatkan sesuatu yang menarik. Pada penutupan perdagangan Rabu, 10 Juni 2026, antrean beli (bid) di level Rp3.880 mencapai 117 lot dan menjadi bid terbesar di pasar. 

Di bawahnya, antrean beli juga berlapis mulai dari Rp3.870, Rp3.860 hingga Rp3.780 dengan total ribuan lot yang siap menyerap tekanan jual.

Sebaliknya, antrean jual (offer) di harga Rp3.890 hanya sebanyak empat lot. Memang terdapat offer yang lebih besar di level Rp3.940, Rp3.950 hingga Rp3.990, tetapi secara keseluruhan struktur orderbook menunjukkan adanya minat akumulasi yang cukup kuat di area Rp3.880.

Pelaku pasar sepertinya sedang menjaga area harga tertentu sambil menunggu katalis berikutnya. Katalis tersebut kemungkinan besar adalah rencana integrasi Bank Danamon dengan MUFG Indonesia.

Rencana itu bukan sekadar aksi korporasi biasa. Integrasi dilakukan sebagai bagian dari penyesuaian terhadap regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai struktur kepemilikan perbankan. Jika terealisasi, entitas gabungan diperkirakan memiliki total ekuitas sekitar Rp100 triliun dengan total aset mendekati Rp500 triliun.

Dengan ukuran tersebut, bank hasil integrasi berpotensi menjadi bank swasta terbesar kedua di Indonesia atau bahkan masuk lima besar industri perbankan nasional.

Inilah alasan mengapa sebagian investor mulai melihat BDMN dari perspektif yang berbeda.

Meski struktur resmi transaksi belum diumumkan, banyak Algo Research memperkirakan BDMN akan menjadi surviving entity atau entitas yang tetap berdiri setelah proses integrasi selesai. Artinya, seluruh aset dan operasional dapat terpusat pada Bank Danamon.

Menariknya lagi, aksi korporasi ini diperkirakan tidak memerlukan Mandatory Tender Offer (MTO). Namun pemegang saham minoritas yang tidak menyetujui transaksi tetap berpotensi memperoleh mekanisme exit sesuai ketentuan yang berlaku.

Harga Wajar Saham BDMN

Cerita berikutnya datang dari valuasi.

Saat ini BDMN diperdagangkan hanya sekitar 0,7 kali Price to Book Value (PBV). Padahal transaksi merger dan akuisisi sektor perbankan di Indonesia umumnya berlangsung pada kisaran 1 hingga 1,5 kali PBV.

Dengan menggunakan pendekatan tersebut, nilai wajar BDMN berada di kisaran Rp5.400 hingga Rp8.100 per saham. Dibandingkan harga penutupan Rp3.880, potensi kenaikannya masih sangat menarik apabila proses integrasi berjalan sesuai rencana.

Di sisi lain, data kepemilikan saham juga memberikan gambaran yang unik.

Free float BDMN turun tipis menjadi 7,53 persen dari sebelumnya 7,54 persen. Jumlah pemegang saham juga menyusut menjadi 32.174 investor atau berkurang 1.725 investor dibanding periode sebelumnya. 

Sementara itu, MUFG Bank Ltd. tetap menggenggam 92,47 persen saham dan tidak terdapat perubahan kepemilikan oleh direksi maupun komisaris.

Artinya, saham yang benar-benar beredar di publik semakin terbatas.

Dalam kondisi seperti ini, ketika pasokan saham publik semakin kecil sementara muncul ekspektasi terhadap aksi korporasi besar, keseimbangan permintaan dan penawaran dapat berubah dengan cepat.

Struktur Orderbook BDMN

Struktur orderbook pada perdagangan terakhir seolah mengonfirmasi kondisi tersebut. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp13,8 miliar dengan volume sekitar 4,96 juta saham dan frekuensi transaksi sebanyak 1.952 kali. Harga sempat menyentuh level tertinggi Rp4.040 sebelum akhirnya ditutup di Rp3.880.

Menariknya, area Rp3.880 justru menjadi titik dengan antrean beli terbesar sehingga menunjukkan adanya investor yang bersedia menyerap tekanan jual di level tersebut.

Artinya, saham BDMN akan langsung bergerak naik dalam waktu dekat. Risiko tetap ada. Pelemahan kondisi makroekonomi dapat memengaruhi pertumbuhan kredit, sementara proses integrasi yang lebih lama dari perkiraan dapat membuat pasar kehilangan momentum.

Namun jika melihat keseluruhan cerita, mulai dari valuasi yang masih murah, dominasi pemegang saham strategis, jumlah saham publik yang semakin terbatas, hingga struktur orderbook yang menunjukkan adanya akumulasi di area Rp3.880, tidak mengherankan jika sebagian investor mulai diam-diam melirik BDMN.

Pasar mungkin belum sepenuhnya bereaksi, tetapi bagi investor yang mencari saham dengan katalis korporasi dan valuasi diskon, Bank Danamon menawarkan itu.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait