Market Hari Ini 28 Jun 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Dua Aktor yang Sebabkan BMRI dan BBRI Loyo Sepekan

Data perdagangan pasar reguler periode 22 hingga 26 Juni 2026 merekam tekanan jual masif pada saham bank pelat merah.

Saham BMRI dan BBRI loyo sepekan. Intip aksi distribusi dari dua broker asing utama, ZP dan AK, yang lepas saham bank BUMN hingga triliunan rupiah.

Aksi lepas saham secara beruntun oleh dua broker asing raksasa membuat harga saham perbankan BUMN loyo sepanjang pekan keempat Juni 2026. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)
Aksi lepas saham secara beruntun oleh dua broker asing raksasa membuat harga saham perbankan BUMN loyo sepanjang pekan keempat Juni 2026. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM – Aksi lepas saham secara beruntun oleh dua broker asing raksasa membuat harga saham perbankan BUMN loyo sepanjang pekan keempat Juni 2026. 

Data perdagangan pasar reguler periode 22 hingga 26 Juni 2026 merekam tekanan jual masif pada saham bank pelat merah. 

Dua aktor utama di balik distribusi besar-besaran ini adalah Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) dan UBS Sekuritas Indonesia (AK). Langkah divestasi serentak tersebut mengindikasikan adanya penyesuaian portofolio global pada sektor keuangan negara.

ZP menjadi aktor pertama dengan catatan jual bersih (net sell) terbesar di bursa yang mencapai Rp1,4 triliun. Sepanjang pekan berjalan, ZP agresif melakukan pengosongan portofolio secara makro di pasar reguler. 

Kondisi ini menempatkan ZP sebagai motor utama penekan indeks saham sektor keuangan harian karena nilai penjualannya yang masif mencapai Rp5,4 triliun gagal diimbangi oleh nilai pembelian yang hanya bertahan di angka Rp4,0 triliun. 

Ditinjau dari kuantitasnya, aktivitas distribusi ini turut menyeret total volume perdagangan ZP hingga menyentuh 8,2 miliar lembar saham dengan frekuensi sebanyak 704,9 ribu kali transaksi. 

Aktor kedua yang memicu penurunan harga saham perbankan BUMN adalah UBS Sekuritas Indonesia dengan total net sell mingguan Rp649,4 miIiar. Sumber utama tekanan jual dari sekuritas asal Swiss ini berasal dari aksi lego pada saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). AK menjadikan BMRI sebagai korban utama distribusi harian dengan total nilai penjualan bersih mencapai Rp305,8 miIiar. 

Penjualan ini langsung menekan pergerakan harga saham bank komersial terbesar tersebut.

Pada awal pekan, broker AK melepas saham BMRI pada harga rata-rata 4.263. Namun, akibat tekanan jual yang konsisten setiap hari, harga rata-rata penjualan AK terus terseret turun ke level 4.126, lalu turun lagi ke 4.045 pada hari berikutnya, hingga menyentuh level terendah di 3.953 pada akhir pekan.

Aksi jual paling agresif oleh broker AK pada saham BMRI terjadi pada Selasa, 23 Juni 2026. Hanya dalam satu hari perdagangan, nilai net sell harian AK pada saham BMRI melonjak hingga Rp173,3 miIiar. 

Sepanjang pekan perdagangan, aksi distribusi harian ini berjalan beriringan dengan rontoknya nilai saham BMRI di papan bursa. Pada 22 Juni, saham BMRI mencatatkan return minus 1,02 persen. Saat tekanan jual AK mencapai puncaknya pada 23 Juni sebesar minus Rp173,3 miliar, harga saham kembali tertekan dengan return minus 0,15 persen, dan berlanjut anjlok dengan return minus 1,89 persen pada 24 Juni.

Selain saham BMRI, broker AK juga menyasar saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebagai target jualan. AK melepas kepemilikan saham BBRI dengan total akumulasi nilai penjualan bersih sebesar Rp214,7 miIiar dalam sepekan. Sekuritas asing ini melepas aset BBRI dengan patokan harga jual rata-rata sebesar Rp2.868 per lembar saham. 

Gerakan serentak melepas BMRI dan BBRI dalam waktu lima hari berturut-turut menunjukkan adanya kesamaan strategi dari para pengelola dana institusi asing. 

Data transaksi harian mencatat broker AK secara konsisten mendistribusikan saham BMRI hingga mencapai total net sell sepekan senilai Rp305,8 miliar dengan volume 743.736 lot, serta melepas saham BBRI dengan total akumulasi jual bersih Rp214,7 miliar pada harga rata-rata Rp2.868 per lembar. 

Langkah keluar darurat ini membuat volatilitas harian saham-saham perbankan pelat merah meningkat tajam, terlihat dari fluktuasi return harian BMRI yang sempat menyentuh level minus 1,89 persen. 

Meskipun mendapat tekanan jual Rp2,68 triliun dari akumulasi net sell harian ZP (Rp1,4 triliun), AK (Rp649,4 miliar), dan Mandiri Sekuritas atau CC (Rp639,4 miliar), likuiditas pasar reguler tetap terjaga. 

Sinergi transaksi dari investor ritel domestik lewat broker lain mampu bertindak sebagai penopang arus modal keluar ini, yang dibuktikan oleh aksi beli bersih tunggal dari broker XL (Stockbit) hingga menembus angka Rp1,1 triliun.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait