KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Dyandra Media International Tbk (DYAN) mulai kehilangan momentum setelah sempat ramai diperdagangkan pada awal Mei 2026. Aktivitas transaksi perlahan menurun, harga bergerak melemah, dan arus asing yang sebelumnya sempat agresif mulai mengecil.
Dalam sepekan terakhir, saham DYAN bergerak turun dari area 86–87 menuju level 83. Pada perdagangan 11 Mei 2026, saham ini ditutup stagnan di level 83 setelah sempat dibuka di 84 dan bergerak dalam rentang 80–85.
Nilai transaksi harian juga terlihat mulai menipis. Pada 11 Mei, transaksi hanya mencapai Rp247 juta dengan volume sekitar 29,97 ribu lot dan frekuensi 286 kali. Angka tersebut jauh lebih kecil dibanding awal pekan sebelumnya.
Padahal pada 4 Mei 2026, DYAN sempat diperdagangkan sangat ramai dengan nilai transaksi Rp2,36 miliar dan volume mencapai 273,07 ribu lot. Frekuensi transaksi saat itu juga menembus 1.790 kali, dan menjadi salah satu aktivitas tertinggi DYAN dalam periode berjalan.
Namun menariknya, lonjakan transaksi itu justru muncul bersamaan dengan distribusi asing yang cukup besar. Pada 4 Mei, foreign buy tercatat Rp83,12 juta, sedangkan foreign sell mencapai Rp156,34 juta. Artinya, DYAN mencatat net foreign sell sekitar Rp73,22 juta.
Tekanan asing kembali muncul pada 5 Mei, ketika net foreign sell bertambah menjadi Rp111,15 juta. Meski harga saham masih sempat naik tipis ke level 87, pasar mulai membaca adanya distribusi dari pelaku besar di area atas.
Baru pada 6 Mei, arus asing berubah arah cukup agresif. Foreign buy melonjak ke Rp43,59 juta sementara foreign sell hanya Rp17,84 juta. Kondisi tersebut membuat DYAN mencatat net foreign buy Rp25,76 juta dalam sehari.
Momentum akumulasi asing masih berlanjut pada 7 Mei dengan net foreign buy Rp9,80 juta, lalu Rp1,11 juta pada 8 Mei. Namun meski asing mulai masuk lagi, harga saham justru tetap bergerak turun bertahap hingga kembali ke area 83.
Pola seperti ini biasanya menunjukkan bahwa akumulasi belum cukup kuat untuk mengangkat momentum harga. Pasar terlihat masih berada dalam fase tarik-menarik antara pelaku yang mulai mengoleksi di area bawah dan investor yang memilih keluar setelah reli pendek sebelumnya.
Situasi tersebut juga tercermin dalam broker summary perdagangan 8 Mei 2026. Broker Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) tercatat menjadi pembeli terbesar dengan nilai akumulasi Rp61,6 juta melalui 7,4 ribu lot di harga rata-rata 84.
Di belakangnya ada Valbury Sekuritas (CP) dengan pembelian Rp23,9 juta di harga rata-rata 83. Lalu Philip Sekuritas Indonesia (KK) senilai Rp17,7 juta di harga 85. Broker Sinarmas Sekuritas (DH) juga terlihat masuk dengan transaksi Rp18 juta, sementara UBS Sekuritas Indonesia (AK) mencatat pembelian Rp11 juta di area 83.
Menariknya, broker besar lain seperti CGS Internasional Sekuritas Indonesia (YU), Phintraco Sekuritas (AT), hingga MU juga mulai muncul dalam daftar pembeli meski dengan nominal lebih kecil. Ini menunjukkan area 83–85 mulai dibaca sebagai zona penyangga baru oleh sebagian pelaku pasar.
Di sisi distribusi, tekanan terbesar datang dari broker Stockbit Sekuritas Digital (XL) yang melepas Rp30,7 juta melalui 3,7 ribu lot di harga rata-rata 84. Broker Mandiri Sekuritas (CC) juga aktif menjual dengan nilai Rp17,6 juta di harga rata-rata 83.
Distribusi lain terlihat dari MNC Sekuritas (EP) sebesar Rp15,3 juta, Ajaib Sekuritas Asia (XC) Rp14,1 juta, dan BNI Sekuritas (NI) Rp12 juta. Tekanan jual tersebut membuat struktur transaksi DYAN terlihat cukup seimbang antara akumulasi dan distribusi.
Namun jika dilihat lebih dalam, transaksi beli justru cenderung tersebar di lebih banyak broker dibanding tekanan jual yang terkonsentrasi di beberapa rumah sekuritas tertentu. Pola seperti ini biasanya menandakan pasar sedang mencoba membangun area konsolidasi baru setelah volatilitas tinggi di awal Mei.
Dari sisi asing, pergerakan DYAN sebenarnya masih tergolong kecil dibanding saham lapis dua lain yang aktif diperdagangkan pasar. Tetapi perubahan arus dari net sell besar menuju net buy bertahap tetap menjadi sinyal yang mulai diperhatikan trader jangka pendek.
Meski begitu, sampai saat ini belum terlihat dorongan akumulasi besar yang benar-benar mampu mengubah arah tren saham. DYAN masih bergerak dalam pola datar cenderung melemah dengan likuiditas yang perlahan menurun.
Di titik inilah DYAN mulai masuk fase menarik. Saham ini belum benar-benar ditinggalkan pasar karena broker besar masih terlihat aktif di area bawah. Tetapi di saat yang sama, belum ada tanda agresivitas dana besar yang cukup kuat untuk membawa harga keluar dari fase konsolidasi sekarang.(*)