KABARBURSA.COM - Dolar Amerika Serikat menguat pada perdagangan Rabu setelah sempat menyentuh posisi tertinggi dalam dua pekan terakhir. Penguatan mata uang negeri Paman Sam itu dipicu data inflasi produsen AS yang melampaui ekspektasi pasar, sekaligus memperbesar keyakinan investor bahwa Federal Reserve akan mempertahankan rezim suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Pergerakan dolar juga berlangsung di tengah sorotan global terhadap pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing, yang menjadi salah satu episentrum sentimen pasar internasional, berdasarkan laporan Reuters dari New York. Dikutip Jumat 15 Mei 2026.
Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) untuk permintaan akhir melonjak 1,4 persen sepanjang April. Angka tersebut menjadi kenaikan bulanan tertinggi sejak Maret 2022 dan jauh melampaui estimasi ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang sebelumnya memproyeksikan kenaikan 0,5 persen. Data itu muncul setelah revisi kenaikan 0,7 persen pada bulan sebelumnya.
Secara tahunan, PPI tercatat naik 6 persen, menjadi level tertinggi sejak Desember 2022 sekaligus berada di atas proyeksi pasar sebesar 4,9 persen. Sebelumnya, data Maret direvisi naik menjadi 4,3 persen.
Ekonom Annex Wealth Management, Brian Jacobsen, menilai lonjakan tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan inflasi berkembang lebih cepat dibanding ekspektasi pasar, terutama dipicu kenaikan biaya energi dan distribusi.
Menurut Jacobsen, kenaikan harga bahan bakar hingga 15,6 persen dalam komponen indeks mencerminkan biaya transportasi dan distribusi yang meningkat drastis. Situasi itu berpotensi menggerus margin korporasi sebelum akhirnya diteruskan kepada konsumen.
Indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia menguat 0,21 persen ke level 98,53 setelah sebelumnya menyentuh 98,601, posisi tertinggi sejak 30 April. Di saat bersamaan, euro melemah 0,26 persen menjadi USD1,1706.
Rilis data inflasi produsen tersebut hadir hanya sehari setelah inflasi konsumen Amerika Serikat mencatat kenaikan tahunan terbesar dalam tiga tahun terakhir. Kondisi itu semakin mempertegas pandangan bahwa tekanan harga di ekonomi terbesar dunia masih belum mereda.
Dalam proyeksi tengah tahun, Morgan Stanley memperkirakan pelemahan moderat dolar AS kemungkinan berlanjut pada semester kedua 2026 seiring melandainya inflasi inti, penurunan suku bunga, serta membaiknya selera risiko global. Namun demikian, lembaga keuangan tersebut juga memproyeksikan dolar kembali menguat pada 2027, didukung dominasi pertumbuhan ekonomi Amerika dan meningkatnya risiko politik di kawasan Eropa.
Pasar kini hampir sepenuhnya menanggalkan ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve tahun ini. Bahkan, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember meningkat menjadi 35 persen, melonjak tajam dari 16,3 persen pada pekan sebelumnya berdasarkan FedWatch Tool milik CME Group.
Di tengah situasi tersebut, Senat Amerika Serikat mengesahkan Kevin Warsh sebagai Chairman Federal Reserve yang baru, menggantikan Jerome Powell di tengah tekanan inflasi yang terus meningkat serta ekspektasi kebijakan moneter ketat.
Sejumlah pejabat Federal Reserve lainnya, termasuk Presiden Fed Boston Susan Collins dan Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari, juga mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga tambahan masih memungkinkan apabila inflasi belum terkendali.
Dari sisi geopolitik, Donald Trump tiba di Beijing bersama delegasi yang turut diisi CEO Tesla Elon Musk dan CEO Nvidia Jensen Huang untuk mengikuti agenda pertemuan dua hari dengan Xi Jinping. Trump diperkirakan akan mendorong pembukaan akses bisnis yang lebih luas bagi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat di China.
Yuan China melemah tipis 0,04 persen terhadap dolar AS ke level 6,787 per dolar setelah sebelumnya sempat menyentuh posisi terkuat sejak Februari 2023.
Trump juga menyatakan dirinya tidak terlalu bergantung pada dukungan China dalam penyelesaian konflik Iran terkait Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Di pasar energi, harga minyak turut mengalami tekanan. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 1,06 persen menjadi USD101,10 per barel, sedangkan Brent melemah 1,97 persen ke level USD105,65 per barel meskipun masih bertahan di atas ambang psikologis USD100.
Pelemahan itu terjadi seiring meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat, meskipun gencatan senjata rapuh antara AS dan Iran masih bertahan dan gangguan di Selat Hormuz belum sepenuhnya pulih.
Pada perdagangan mata uang lainnya, yen Jepang melemah 0,18 persen ke posisi 157,88 per dolar di tengah spekulasi intervensi pemerintah Jepang yang dinilai belum mampu memberikan dampak jangka panjang terhadap stabilitas mata uang tersebut.
Mantan Gubernur Bank Sentral Jepang Haruhiko Kuroda mengatakan intervensi valuta asing yang dilakukan Jepang baru-baru ini kemungkinan hanya berhasil mencegah yen menembus level 160 per dolar, namun tidak cukup kuat untuk menciptakan stabilitas jangka panjang.
Sementara itu, poundsterling Inggris melemah 0,17 persen menjadi USD1,3513 di tengah meningkatnya tekanan politik domestik terhadap pemerintahan Perdana Menteri Keir Starmer.(*)